Main Hati

Main Hati
Eps 51 ~ Harus Menikah


__ADS_3

Tiga hari yang lalu adalah hari yang bahagia dalam hidup Livy, sekaligus hari yang paling dinanti. Hari dimana sang buah hati yang selama sembilan bulan lebih tinggal di rahimnya, akhirnya telah lahir ke dunia dalam keadaan sehat dan sempurna. Persalinannya pun dilakukan secara normal, meskipun baru pertama kalinya dan rasanya pasti luar biasa sakitnya. Namun rasa lelah akan perjuangan itu semua terbayar lunas dengan lahirnya sang buah hati yang sangat tampan.


Selama masa persalinan, Livy ditemani oleh Mamanya. Semua keluarga juga menyambut bahagia kelahiran buah hatinya. Terlebih Reno. Pria yang sudah mempunyai empat cucu itu semakin bahagia, karena setelah ini rumahnya semakin ramai dengan suara tangis dan tawa cucu-cucunya.


Dan tepat hari ini. hari ketiga pasca melahirkan, Livy sudah diperbolehkan pulang. karena masa pemulihannya memang tidak membutuhkan waktu lama. Keadaan si bayi juga sudah sehat.


Dengan ditemani Mama dan Kakaknya, Livy pulang ke rumah. sedangkan Papanya yang sejak kemarin kurang enak badan, memilih di rumah saja menunggu kedatangan Livy.


“Biar Mama saja yang gendong.” Ujar Abi mengambil alih anak Livy. Sedangkan Raffael mendorong kursi roda Livy.


Bayi laki-laki yang belum diberi nama itu tampak anteng dalam gendongan Omanya. Abi sendiri sangat gemas melihatnya. Meskipun Abi belum pernah sekalipun bertemu dengan Dewa, namun dengan melihat wajah tampan cucunya, ia sangat yakin kalau ayah si bayi itu juga tampan.


“Apa sudah siap?” tanya Raffael memastikan.


Kini mereka bertiga keluar dari ruang perawatan setelah beberapa saat yang lalu Raffael menyelesaikan administrasi, juga menebus obat-obatan yang dibutuhkan oleh adiknya.


Mereka bertiga berjalan beriringan sepanjang koridor rumah sakit. Abi yang lebih banyak bicara karena sangat gemas dengan cucunya yang sejak tadi tidur terus.


Namun tiba-tiba dorongan kursi roda Livy perlahan berhenti saat Raffael melihat dua orang pria yang tengah berjalan ke arahnya. Livy pun terkejut saat melihat pria yang yang sangat dia kenal itu.


“Raffa!”


“Livy!”


Ucap Mario dan Dewa bersamaan.


Hanya Abi yang tidak mengerti juga tidak mengenal salah satu diantara pria yang sedang berdiri tak jauh darinya. Kalau dengan Mario, jelas Abi kenal. Karena Mario adalah anak dari sahabatnya, sekaligus sahabat Raffael.


Sedangkan Mario sendiri tampak bingung saat mendengar Dewa memanggil nama Livy. tapi tunggu dulu, Mario teringat kalau dulu Dewa pernah mengigau dan memanggil nama seseorang yang tak lain adalah Livy. apakah Livy yang dimaksud adalah adik dari sahabatnya. namun, Mario tidak ingin tahu lebih dalam. Karena dia juga mempunyai urusan dengan Raffael.

__ADS_1


***


Kini Dewa sudah bersama Livy. Dewa meminta waktu sebentar untuk bicara dengan Livy. sedangkan Mario sendiri juga ingin bicara dan meminta maaf dengan Raffael. Sedangkan Abi memilih mencari tempat yang nyaman agar anak-anaknya menyelesaikan masalahnya. Abi sendiri baru tahu kalau pria itu adalah ayah dari cucunya.


“Bagaimana kabar kamu?” tanya Dewa yang lebih dulu membuka obrolan, setelah beberapa saat keduanya tediam.


“Baik.” Jawab Livy berusaha tenang.


Dewa kembali diam. dia memang tadi melihat seorang wanita yang kemungkinan besar adalah Mama Livy tampak sedang menggendong seorang bayi. Apa bayi itu anak Livy? itu artinya kehidupan Livy dan Febian sudah bahagia. Karena Febian sudah mau memiliki anak dari rahim istrinya.


“Apa itu tadi anak kamu?” tanya Dewa memberanikan diri.


Livy menjawabnya dengan anggukan kepala. Karena saat ini ia benar-benar tidak mampu menahan tangisnya.


“Aku senang melihatnya. Akhirnya kamu bisa memiliki anak dengan suami kamu.” Ucapan Dewa seketika membuat Livy mendongak, menatap Dewa dengan deraian air mata.


Dewa pun sangat bingung. Kenapa Livy tiba-tiba menangis? Apa yang salah dengan pertanyaannya.


“Aku sudah bercerai.” Sahut Livy.


“Aku sudah bercerai dengan Febian sejak kepergianmu dulu.” Lanjut Livy dengan terisak.


Dewa menundukkan badannya. Mendekati kursi roda Livy seolah meminta penjelasan.


“Kamu sudah bercerai? Lalu bagaimana dengan anak yang baru kamu lahirkan? Apa pria itu tidak bertanggung jawab?” tanya Dewa dengan tuduhan buruk terhadap Febian. Dewa khawatir Livy akan mengalami nasib yang sama dengan Raina.


“Apa hanya itu saja pertanyaan kamu?” tanya Livy. Dewa tampak bingung, namun juga menganggukkan kepalanya.


“Febian memang sejak dulu tidak pernah menginginkan anak dariku. Maka dari itu aku bercerai dengannya. dan semenjak keretakan rumah tanggaku, aku tidak pernah berhubungan suami istri dengan dia.”

__ADS_1


Tubuh Dewa bergetar hebat mendengar pengakuan Livy baru saja. kenapa perasaannya menjadi tidak enak. Dia dulu memang sempat berpikir kalau Livy lah yang memakai alat kontrasepsi pencegah kehamilan. Jadi, waktu dia melakukan dengan Livy saat itu dia sama sekali tidak berpikiran sampai Livy akan hamil.


“Katakan padaku, Vy! Siapa ayah dari anak itu?” tanya Dewa dengan mata berkaca-kaca.


Livy mengusap air matanya. dia rasa mungkin saat ini lah yang tepat untuk Dewa engetahui semuanya. Bahwa anak yang baru saja ia lahirkan itu adalah anaknya.


“Ya, anak itu anak kamu. Darah daging kamu, Wa.” Jawab Livy cukup tenang.


Dewa menggelengkan kepalanya. Kenapa Livy tidak pernah memberitahukan hal ini. kenapa Livy seolah menyembunyikan kehamilannya darinya.


“Kenapa kamu menutupi semuanya dariku, Vy? Kenapa kamu tidak memberitahuku? Bahkan sampai anak itu lahir. Kalau hari ini kita tidak dipertemukan, sampai kapanpun pasti kamu tidak akan memberitahuku kan, Vy? Kenapa?” tanya Dewa frustasi.


“Kamu tenang saja, Wa. Selama aku hamil, aku sangat menyayanginya. karena memang itu yang aku inginkan sejak dulu. Yaitu memiliki anak dari rahimku.” Jawab Livy.


“Apa maksdu kamu, Vy? Dia darah dagingku. Harusnya aku yang bertanggung jawab atas semuanya. Kenapa kamu tega melakukan semua ini padaku, Vy?”


Dewa berdiri meremat rambutnya dengan kasar. Dia benar-benar tidak mengerti dengan maksud Livy. padahal dulu wanita itu sering mengatakan sangat mencintainya.


“Buat apa aku meminta pertanggung jawaban darimu, Wa? Kalau memang semua perbuatan kita dulu hanya kekhilafan. Dan semua itu juga karena kesalahanku. Meskipun aku mencintaimu. Tapi aku tidak memaksa kamu untuk bertanggung jawab. Apalagi hanya karena ada anak.”


“Di saat seperti ini. saat sudah terlambat aku mengetahui semuanya, kamu masih membahas cinta, Vy? Apa kamu akan percaya kalau aku juga mencintaimu, Vy? Apa kamu tahu kalau semenjak kamu memintaku pergi dulu, kehidupanku juga tidak baik-baik saja. aku selalu berpikir kalau rumah tanggamu baik-baik saja.”


“Secepatnya kita harus menikah. aku tidak ingin anak itu tidak memiliki ayah.” Ujar Dewa dan segera meninggalkan Livy. dia menghampiri Abi yang sedang menggendong bayinya.


.


.


.

__ADS_1


*TBC


Happy Reading!!


__ADS_2