Main Hati

Main Hati
Eps 46 ~ Dua Istri


__ADS_3

Usai drama mual-mualnya pasca makan salad buah, kini keadaan Livy sudah membaik. Tentu saja setelah mendapat usapan dari tangan sang kakak ditambah dengan nasi bungkus yang iseng dibeli oleh Raffael.


Bahkan semua orang hanya menggelengkan kepalanya saat melihat Livy sangat lahap memakan nasi bungkus itu. entahlah, Raffael mendapat ide darimana sampai dia bisa membeli nasi bungkus untuk Livy yang sejak tadi terus mual-mual.


“Terima kasih, Kak!” ucap Livy yang kini tengah berselonjor kaki di ruang tengah.


“Besok mau dibelikan nasi bungkus lagi?” tawar Raffael sengaja menggoda.


“Kalau Kak Raffa nggak keberatan sih aku nggak apa-apa.” Jawab Livy dengan serius.


Jelita hanya geleng-geleng kepala. Perasaan dulu saat dia hamil Ethan maupun Kiara tidak seperti itu ngidamnya. Apalagi Livy yang notabene putri sultan. Ngidamnya justru ngidam ala rakyat jelata. Apa itu semua berhubungan dengan ayah si janin dalam perut Livy.


Jelita menutup mulutnya. Dia menduga seperti itu. dan kemungkinan besar suaminya mempunyai ide dari situ. Mengingat Dewa adalah pria dari kalangan biasa, tentu saja sudah menjadi hal biasa buat pria itu makan makanan ala kadarnya, seperti halnya nasi bungkus.


“Sayang, kamu kenapa sih?” Tanya Raffael terhadap istrinya yang tampak aneh.


“Nggak apa-apa kok, Mas.”


“Apa kamu juga ngidam makan nasi bungkus, sama kayak Livy?”


“Nggak lah, Mas. Ngidam apaan itu. punya suami sultan, ngidamnya yang elit lah.” Seloroh Jelita dan mendapat sambutan gelak tawa dari semua orang. Termasuk Livy juga, meskipun ada bagian dari hatinya yang tersentil akibat ucapan kakak iparnya baru saja.


Jelita yang melihat perubahan raut wajah Livy akibat ucapannya baru saja, ia segera mengalihkan pembicaraan. Sungguh ia tidak berniat menyinggung adik iparnya dengan memamerkan suaminya.


“Mas, bagaimana kalau weekend nanti kita liburan ke Villa?” usul Jelita.


“Wah, sepertinya seru sekali tuh Kak.” Sahut Livy antusias.


Raffael menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Dua wanita yang sama-sama sedang hamil ini kenapa mempunyai keinginan yang sama. Raffael jadi merasa seperti memiliki dua istri.

__ADS_1


“Baiklah. Apapun yang kalian inginkan, akan aku lakukan.” Jawab Raffael pasrah.


Seketika itu Jelita dan Livy langsung mendekati Raffael. Dua wanita itu sama-sama memeluknya sebagai wujud rasa terima kasihnya.


Reno dan Abi hanya tersenyum melihat tingkah anak-anak mereka. Khususnya pada Livy. mereka bersyukur karena sudah jarang sekali melihat kesedihan Livy semenjak masa kehamilannya.


Usai bercengkrama di ruang keluarga, kini semua orang masuk ke kamarnya masing-masing untuk berisitirahat. Karena waktu juga sudah malam. apalagi bagi duo wanita hamil, tidak dianjurkan untuk begadang.


Kini Livy masuk ke dalam kamarnya. Dia mengunci pintunya, setelah itu menuju balkom kamar. hal yang setiap malam Livy lakukan semenjak hamil.


Livy duduk di kursi sambil tatapannya menengadah ke arah langit malam yang sedang bertabur bintang. Hanya dalam waktu seperti inilah dia seolah bisa berbicara dengan bayang-bayang Dewa. Sambil mengusap perutnya yang masih rata, Livy berharap rasa rindunya tersampaikan pada pria yang selalu ada dalam hatinya. Bodohh jika Livy tidak mengharapkan kehadiran Dewa, namun sayangnya dia sudah memutuskan untuk tidak mencari pria itu walaupun sangat mudah.


“Wa, andai kamu tahu kalau di dalam perutku ini ada anak kamu. Apakah kamu akan bahagia? Atau justru sebaliknya?”


“Bisa saja kamu sangat bahagia. Tapi sayangnya kamu belum tentu mencintaiku. Dan aku juga tidak mau kamu memaksakan cinta padaku hanya karena ada anak ini.”


Livy terus berbicara sendiri sambil sesekali mengusap perutnya. Meskipun air matanya selalu berjatuhan, namun perasaannya sedikit lebih lega. Setelah puas, dan rasa kantuk sudah mulai datang, barulah Livy akan beranjak dari duduknya dan masuk ke dalam kamar untuk beristirahat.


Sudah dua bulan ini Dewa bekerja sebagai seorang bodyguard. Bayangannya saat pertama kali menerima pekerjaan ini tak sesuai dengan kenyataan. Karena majikannya benar-benar sangat menyebalkan. Bahkan melebihi anak kecil.


Dewa ingat saat baru pertama kali dia bekerja waktu itu, Mario yang tak lain majikannya itu mengusirnya dengan kasar. Bahkan mereka hampir melakukan baku hantam, lantaran Mario yang tidak ingin mempunyai bodyguard. Namun setelah Dewa menghubungi Tuan Chiko, Papa dari Mario, akhirnya Mario tidak jadi mengusir Dewa. Tentunya pria itu masih menunjukkan sikap semena-menanya pada Dewa.


Entah masa lalu yang seperti apa yang dialami oleh Mario, hingga setiap malam pria itu selalu ingin datang ke Club malam. dan tentunya Dewa lah selalu menahannya dan melarang sampai berujung hampir adu jotos. Bahkan Dewa pernah rela mukanya kena beberapa pukulan dari Mario karena dia telah berani mencegah kepergian majikannya itu ke Club.


Seperti malam ini, Dewa sudah mengunci pintu apartemen Mario dari dalam, karena pria itu terus memberontak ingin keluar.


“Sebenarnya apa sih maumu, Wa? Ini hidupku, dan kamu orang lain yang nggak berhak ikut campur dengan urusan pribadiku.” Tanya Mario dengan kesal.


“Saya hanya melaksanakan sesuai perintah Tuan, Chiko.” Jawab Dewa.

__ADS_1


“Dibayar berapa kamu sama Papa? Aku akan membayar kamu lebih besar dari yang Papa beri, asal setiap malam kamu jangan melarangku untuk pergi ke Club.”


“Maaf, Tuan. Sepertinya saya tidak bisa memilih. Lebih baik anda istirahat saja di dalam kamar.”


Mario hanya mendengus kesal sambil menatap Dewa. Kemudian ia memiliki ide licik. Dia akan masuk ke kamar dan pura-pura ngantuk. Setelah ini pasti Dewa akan kembali ke unit apartemennya yang ada di sebelah unitnya. jadi ia bisa pergi ke Club tanpa sepengetahuan Dewa.


Satu jam kemudian Mario mulai menjalankan misinya. Dia keluar dari kamarnya dengan santai. Ruang tamu juga tampak gelap. Mungkin Dewa tadi mematikan lampunya dulu sebelum keluar. Namun sayangnya saat Mario hendak membuka pintu, tiba-tiba saja tidak bisa.


“Ehm!”


Terdengar suara dehaman seseorang dari ruang tamu. Suara siapa lagi kalau bukan Dewa. Dan ternyata Dewa sejak tadi tidak keluar dari unit apartemen Mario dan sengaja tidak tidur. Dia seolah sudah tahu tentang akal licik majikannya itu.


“Shhiittt!” umpat Mario lalu menyalakan lampu ruang tamu.


“Kamu kenapa masih di sini, Wa? Ini sudah malam. sana, balik ke unit kamu!” usir Mario dengan kesal.


“Anda juga, ini sudah malam. anda mau kemana malam-malam begini?”


“Bukan urusan kamu!” kesal Mario lalu duduk di sofa yang tak jauh dari Dewa.


“Selama kontrak kerja saya masih panjang, anda masih menjadi urusan dan tanggung jawab saya.” jawab Dewa dnegan tenang.


Mario semakin sebal menatap Dewa. Sungguh dia tidak menyangka kalau akan mempunyai bodyguard yang sangat menyebalkan seperti ini. padahal Dewa juga berpikiran yang sama dengan Mario. Baru kali ini ia mempunyai majikan yang sangat menyebalkan.


.


.


.

__ADS_1


*TBC


Happy Reading!!


__ADS_2