
Dewa dan Livy tampak berjalan tergesa-gesa memasuki rumah sakit. Mereka berdua segera menuju ruang perawatan Papa Reno setelah bertanya pada resepsionis.
“Ma!” Livy langsung berhmbur ke pelukan Mamanya yang sedang duduk di kursi tunggu depan ruang ICU.
“Kenapa bisa seperti ini, Ma? Setahu Livy, Papa baik-baik saja.” lanjut Livy dengan terisak dalam pelukan Mamanya.
“Sudah, jangan sedih lagi! lebih baikkita doakan saja semoga Papa kalian segera membaik.” Mama Abi berusaha menenangkan Livy.
Kini di depan ruang ICU ada Livy, Dewa, Raffael, dan juga Mama Abi. mereka berempat masih setia menunggu dokter memeriksa keadaan Papa Reno. Tak lama kemudian dokter keluar dari ruang ICU dengan ditemani oleh seorang perawat.
Dokter mengatakan kalau keadaan Reno masih belum stabil. Dan dokter akan melakukan observasi lagi sambil memantau perkembangannya selama dua hari ke depan. Jika sudah bisa melewati masa kritisnya, pasien sudah bisa dipindahkan ke ruang rawat inap.
“Apa saya boleh masuk, Dok?” tanya Livy yang ingin sekali bertemu dengan Papanya.
“Boleh. Tapi hanya satu orang saja, dan tidak lebih dari sepuluh menit. Khawatirnya akan mengganggu ketenangan pasien.” Jawab dokter.
Livy pun segera masuk ke ruang ICU di mana Papanya dirawat. Air mata Livy tidak bisa dibendung lagi. dia terisak melihat leadaan Papanya yang terbaring lemah di atas brankar dengan alat beberapa alat bantu medis.
“Pa! Papa harus cepat sembuh, Pa! Livy bawa kabar bahagia kalau Mas Dewa akan masuk ke perusahaan membantu Kak Raffa. Papa harus bangga memiliki menantu seperti Mas Dewa. untuk itu Papa harus cepat sembuh.”
Livy mengusap air matanya. namun air mata itu masih saja keluar karena mengingat kenangan indah yang pernah ia lalui bersama Papanya semasa kecil dulu. seorang ayah adalah cinta pertama bagi anak perempuannya. Itu sebabnya Livy sangat dekat dengan Papanya sejak dulu. bahkan ada rasa sesal karena telah banyak menorehkan luka pada Papanya.
Sesuai dengan anjuran dokter, sebelum sepuluh menit Livy sudah keluar dari ruangan ICU itu. namun sebelumnya, ia meninggalkan kecupan singkat pada kening Papanya dengan diiringi doa kesembuhan untuk Papanya.
*
Sudah tiga hari ini Papa Reno dirawat di rumah sakit. Dan tiga hari juga pria itu masih berada di ruang ICU. Mama Abi, sang istri selalu setia menemani suaminya berjuang melawan penyakitnya itu. walaupun kemungkinan kecil harapan untuk sembuh itu ada, namun Mama Abi tetap berdoa agar ada keajaiban.
“Mas, apa kamu tidak bosan tidur terus seperti ini? apa kamu sudah cukup bahagia karena anak-anak kita sudah menemukan kebahagiaannya masing-masing?” tanya Mama Abi yang saat ini sedang berada di samping brankar sang suami.
Jarak usia Mama Abi dan Papa Reno memang sangatlah jauh. Apalagi Papa Reno kini sedang sakit jantung. Sakit yang dulu pernah dialami oleh mendiang Papa Abi sebelum pergi untuk selama-lamanya.
Entahlah, mungkin Mama Abi juga sudah cukup bahagia menjalani rumah tangganya dengan sang suami. wanita itu juga sangat setia. Walaupun dia juga menyadari kalau sesuatu yang hidup di dunia ini pasti suatu saat akan kembali pada yang maha menciptakan. Mama Abi mungkin tidak rela jika harus terpisahkan oleh maut dengan suaminya. namun mulai dari sekarang, wanita paruh baya itu sudah mengatkan hatinya untuk ikhlas jika sewaktu-waktu kematian itu datang.
Enam hari Papa Reno berada di ruang ICU, sama sekali tidak menunjukkan perkembangan yang signifikan. Namun anehnya, pria itu bisa membuka matanya dan ingin bertemu dengan semua anak menantunya, juga istrinya.
__ADS_1
Kebetulan memang hari ini weekend, dan anak-anak Reno sekaligus menantunya sedang berada di rumah sakit. Mereka memang berniat untuk menggantikan Mama Abi yang setiap hari menemani sang Papa. Namun ternyata Mama Abi menolak pulang. wanita itu ingin selalu berada di samping suaminya. menemani sampai waktu itu tiba. Entahlah, mungkin insting seorang istri itu sangat kuat. Mama Abi merasa kalau kebersamaannya dengan sang suami tidak akan bertahan lama.
Benar saja, seorang dokter yang baru saja keluar dari ruang rawat Papa Reno mengatakan kalau kondisi pasien masih lemah, namun pasien ingin bertemu dengan semua anggota keluarganya. Alhasil Mama Abi mengajak anak dan menantunya masuk.
Mereka berlima kini sudah masuk ke ruang rawat Papa Reno. Pria itu masih terbaring lemah. Hanya saja matanya sudah terbuka. Sedangkan anak-anak dan menantunya berdiri di sekeliling brankar.
“Papa! Livy senang akhirnya Papa sudah bangun. Papa cepat sehat ya? Agar kita bisa berkumpul lagi.” ujar Livy menahan tangis.
“Iya, Pa. cucu-cucu Papa sudah menunggu Opanya pulang. Papa harus cepat sembuh.” sambung Raffel.
Papa Reno hanya tersenyum tipis. Matanya melirik bergantian ke arah anak-anak dan menantunya. Hatinya juga bahagia melihat mereka semua rukun. Namun setelah itu tatapannya lurus ke arah sang istri yang sejak tadi diam dengan mata sembabnya.
“Papa senang bisa melihat kalian semua berkumpul di sini.” ucap Papa Reno dengan suara yang sangat lemah.
Setelah itu Papa Reno memberi kode pada istrinya agar mendekat. Mama Abi pun menurut saja, walau dia sudah tidak bisa lagi membendung air matanya.
“Sayang, maafkan suamimu ini yang ingkar janji. Maaf, karena aku tidak bisa menjaga kamu seumur hidupku.”
Mama Abi hanya mengangguk. Mungkin wanita itu sudah ikhlas jika memang suaminya harus pergi hari ini juga. daripada menahan sakit pada tubuhnya. Namun tidak untuk anak-anaknya, apalagi Livy yang sudah terisak dalam pelukan sang suami.
Setelah itu Papa Reno perlahan memejamkan matanya. denyut jantung dari alat pendeteksi itu terlihat semakin melemah, hingga akhirnya hari ini juga Papa Reno tutup usia.
Tangis semua orang yang ada di ruangan itu pecah kala pria yang selama ini menjadi pahlawan bagi mereka telah memutuskan untuk kembali pada sang penciptanya. Anak-anak dan menantu Papa Reno sangat kehilangan sosok Papa yang begitu bijaksana. Sedangkan Mama Abi adalah satu-satunya orang yang paling tegar diantara anak-anaknya. karena wanita itu sebelumnya sudah menguatkan hatinya jika sang suami akan pergi dari hidupnya selama-lamanya.
***
Dua tahun kemudian.
Tidak ada kebagahiaan yang sempurna di dunia ini. jika kita bersedih setelah kehilangan seseorang yang sangat berarti hidup kita, pasti suatu saat kesedihan itu digantikan oleh Tuhan dengan kebahagiaan lainnya.
Seperti halnya yang dirasakan oleh keluarga kecil Livy. setelah kepergian sang Papa, Livy perlahan sudah bisa ikhlas. Dan keikhlasan itu sudah diganti kebahagiaan oleh Tuhan.
Livy kini sudah dipertemukan dengan Papa mertuanya. apalagi hubungan Mama dan Papa mertuanya juga sudah membaik, meskipun keduanya tidak bisa bersatu kembali seperti dulu. dan satu hal lagi yang membuat hidup Livy dan Dewa bahagia, yaitu saat ini di dalam rahim Livy sudah tumbuh janin calon adik Calvin yang sudah berusia empat bulan.
Dewa sebagai suami yang siaga dan bertanggung jawab, dia selalu menjaga kehamilan istrinya dengan baik. Ia juga tidak pernah absen mengantar sang istri periksa kandungannya ke dokter.
__ADS_1
Seperti saat ini. Dewa baru saja pulang mengantar Livy dari rumah sakit untuk cek rutin kandungan istrinya. Pria itu dengan sabar menuntun istrinya yang baru saja keluar dari mobil.
“Mas, kenapa pakai dituntun seperti ini sih? Aku nggak sakit, dan bisa jalan sendiri.” Gerutu Livy, namun ia juga tak melepas gandengan tangan suaminya.
“Aku takut jika kamu hilang dalam genggamanku, Sayang.” Candanya membuat Livy tersenyum simpul sambil meenggelengkan kepalanya.
Tak jauh dari rumah Dewa, yang kebetulan pintu gerbangnya masih terbuka, ada seseorang yang sejak tadi melihat kemesraan pasangan Dewa dan Livy. pria itu mengulas senyum tipis di bibirnya. pria itu sadar kalau puncak mencintai seseorang adalah merelakan dia bahagia, meskipun dengan yang lain.
Febian kini sudah hidup jauh lebih baik. Pria itu sudah sadar akan sikapnya yang dulu, termasuk pernah menyia-nyiakan istrinya. Namun, dia sudah berjanji untuk bangkit. Febian sudah mengikhlaskan Livy hidup bahagia dengan keluarga barunya. Febian juga sudah menganggap Saskia sebagai anaknya. namun untuk Raina, Febian tetap menganggapnya sebagai adik yang sejak dulu dia sayangi, karena Raina juga sudah bahagia dengan keluarganya.
Menyesali apa yang sudah terjadi sangatlah tidak ada manfaatnya. Akibat sikapnya yang dulu, Febian harus kehilangan istri yang sangat dicintainya. Dia juga tidak menyalahkan Livy yang telah main hati dengan Dewa. karena Tuhan lah yang sudah mengaturnya seperti itu.
Febian menutup jendela mobilnya. Setelah itu dia memacu kiendaraannya dan pergi meninggalkan rumah Livy.
“Semoga kamu selalu hidup bahagia dengan keluarga kamu, Vy!”
.
.
.
*THE END
Akhirnya tamat juga😁 Terima kasih buat semua reader yang telah membaca dan mendukung karya author. Jangan lupa mampir ke karya author yg masih on going ya🤗🤗
Sebagai bentuk apresiasi, author akan memberikan GA kecil-kecilan berupa pulsa masing-masing 25k pada reader yang paling aktif memberi komen pada karya ini. Silakan dm author ke akun ig @dee_k9191 untuk pemilik akun di bawah ini;
__ADS_1