
Dewa masih mengamati interaksi tiga orang itu. dia juga melihat tatapan Raina yang tertuju pada Febian. tatapan yang tidak menunjukkan hubungan adik kakak diantara mereka. Dewa sendiri masih belum yakin sepenuhnya atas apa yang dia lihat sekaligus dia dengar kemarin sore dari Febian dan Raina.
Selama beberapa hari Raina tinggal di sini, Dewa juga tidak pernah berinteraksi dengan wanita itu. entah Raina lupa pernah bertemu Febian atau hanya pura-pura. Ingin bertanya pun rasanya tidak pantas. Mengingat statusnya adalah seorang bawahan.
Febian sudah berangkat ke kantor setelah Saskia berhasil dibujuk oleh Raina. Gadis kecil itu juga tampak melambaikan tangannya ke arah mobil Febian. tak lama kemudian Livy keluar rumah siap berangkat ke kantor.
“Kak Livy mau berangkat?” tanya Raina berbasa-basi.
“Iya. aku pergi dulu ya, Na! baik-baik di rumah. sama Saskia juga.” jawab Livy lalu ia mencium pipi Saskia sekilas.
“Hati-hati, Kak! Nanti aku juga akan ke kantor Kak Bian.” Ucap Raina.
Livy hanya mengangguk dan memaksakan senyum. Kenapa hatinya merasa tidak nyaman saat mendengar Raina akan pergi ke kantor Febian. bukankah itu wajar. Karena mereka kakak beradik. Bukan juga Livy cemburu pada Raina. Namun dia merasa ada sesuatu yang disembunyikan oleh mereka tanpa sepengetahuannya.
“Silakan, Nona!” ucap Dewa mempersilakan Livy masuk ke daam mobil.
Livy sampai terkejut saat menyadari dia sudah berada di dekat mobilnya. Setelah itu dia masuk begitu saja dan duduk tepat di samping Dewa.
Livy masih saja melamun saat Dewa sudah melajukan mobilnya. Dewa pun bisa melihat raut wajah Livy yang tampak tidak baik-baik saja. terlebih sejak kedatangan Raina dan Saskia ke rumahnya.
“Apa kamu ingin pergi ke suatu tempat?” tanya Dewa mencoba menghibur Livy.
“Nggak, Wa. Ke kantor saja. hari ini aku sangat sibuk. Kak Raffa juga akan keluar kota.” Jawab Livy dengan tatapan lurus ke depan.
Menyadari Livy yang sedang penat, Dewa pun mengurungkan niatnya untuk membahas pesannya semalam. Karena Livy memang tidak membalas pesannya seolah dia tahu kalau wanita itu sangat sibuk.
Beberapa saat kemudian Livy sudah tiba di kantor. seperti biasa, Dewa akan mengawal Nona mudanya sampai masuk ke ruangannya. Dan akan standby di sana sesuai perintah atasan.
Sebelum Livy memulai aktivitasnya, ia membuka ponselnya terlebih dulu. Wanita itu teringat kalau semalam batal membalas pesan Dewa. Karena posisi ponselnya saat ini sedang membuka aplikasi pesan.
__ADS_1
“Wa! Sorry semalam aku tidak sempat membalas pesan kamu. Ada hal penting apa yang ingin kamu sampaikan?” tanya Livy pada Dewa yang sedang berdiri tak jauh darinya.
Dewa pun mendekati pintu lalu menguncinya terlebih dulu sebelum menjawab pertanyaan Livy. Dewa melakukan itu karena tidak ingin jika tiba-tiba saja ada seseorang yang masuk ke dalam ruangan Livy saat dirinya sedang menceritakan apa yang didengar dari ucapan Febian dan Raina.
Livy memilih duduk di sofa dan membiarkan Dewa duduk di sampingnya. Entahlah kenapa perasaan Livy tidak enak saat ini.
“Sebelumnya aku minta maaf, Vy! Bukan maksud aku lancang dan ikut campur dengan urusan rumah tanggamu.” Ucap Dewa sengaja menjeda sejenak kalimatnya.
“Katakan saja, Wa! Ada apa?” tanya Livy to do poin.
“Sebenarnya apa hubungan suami kamu dengan wanita yang bernama Raina? Apa kamu yakin mereka hanya adik kakak?”
“Apa maksud pertanyaan kamu, Wa? Katakan saja langsung! apa yang telah kamu ketahui?” Tanya Livy dengan dada sudah bergemuruh. Wajahnya memerah seolah sudah mempunyai firasat buruk.
“Tenanglah, Vy! Ok, aku akan menceritakan semua. Tapi aku mohon kamu jangan bertindak gegabah dan jangan langsung mempercayai ucapanku ini.”
Livy menganggukkan kepalanya walau hatinya masih diliputi kemarahan akan kenyataan pahit yang akan menimpa hidupnya. Dewa pun mengambil segela air putih untuk Livy agar wanita itu lebih tenang. Setelah memastikan emosi Livy mereda, barulah Dewa menceritakan semua apa yang didengar kemarin.
“Dan satu hal yang membuatku tidak percaya. Raina mengatakan pada Febian kalau Saskia adalah darah dagingnya.”
Livy benar-benar terkejut. Air matanya luruh begitu saja. kenapa sesakit ini saat mengetahui kenyataan pahit yang selama ini disembunyikan oleh suaminya. kalau saja ucapan Dewa benar. Itu artinya Febian selama ini sudah memiliki seorang anak dari wanita lain. Dan dari kejadian itulah yang menyebabkan Febian sangat membenci kehadiran seorang anak dalam rumah tangganya.
Livy menangis tergugu. Betapa bodohnya dirinya selama ini telah dibohongi oleh suaminya sendiri. Lalu, apakah status Febian dan Raina juga pasangan suami istri.
Dewa tidak tega melihat kesedihan Livy. namun menurutnya ini lebih baik, daripada Febian terus membohongi istrinya.
“Kamu jahat, Bi! Kamu sudah membohongiku dan keluargaku!” isak Livy dalam pelukan Dewa.
“Vy, maafkan aku jika ucapanmu membuatmu bersedih. Tapi aku harap kamu jangan sepenuhnya mempercayaiku.”
__ADS_1
“Kamu tidak salah, Wa. Justru aku sangat berterima kasih padamu. Tenang saja, aku akan menyuruh orang untuk mencari tahu lagi tentang informasi ini.” jawab Livy setelah mengurai pelukannya.
Dewa mengangguk. Bersyukur Livy kembali tenang dan akan mencari orang untuk menyelidiki tentang Febian. Lalu tangan Febian menangkup pipi Livy dan mengusap air mata wanita itu. kenapa hatinya cemburu melihat Livy yang sedang sakit hati karena kebohongan suaminya. apakah itu artinya kalau perasaan cinta Livy pada Febian sangat besar.
Cklek cklek cklek
Tiba-tiba saja tedengar seseorang sedang berusaha membuka pintu ruang kerja Livy. Dewa pun segera beranjak dan membukakan pintu. Betapa terkejutnya Dewa saat berhasil membukakan pintu itu ada Raffael yang berdiri tepat di hadapannya.
“Tu..Tuan Raffael!” sapa Dewa mendadak gugup.
Raffael langsung menatap curiga pada Dewa. Terlebih saat pintu ruangan Livy terkunci dari dalam dan di sana hanya ada dua orang, yakni adiknya dan juga Dewa.
“Apa yang kalian lakukan berdua? Kenapa kalian mengunci pintu dari dalam?” tanya Raffael dan bergantian menatap Dewa dan juga Livy.
Tatapan Raffael berhenti pada Livy yang matanya terlihat sembab habis menangis. Tidak menunggu lama, Raffael langsung mencengkeram kerah baju Dewa.
“Apa yang kamu lakukan pada adikku, hah? Kenapa kau membuatnya menangis? Katakan!”
“Maaf, Tuan. Ini tidak seperti yang anda bayangkan.” Jawab Dewa dengan bingung, mau menjelaskan seperti apa pada Raffael.
“Cukup, Kak! Hentikan!” Livy pun akhirnya berhasil menghentikan aksi kakaknya yang hendak menghajar Dewa.
“Kami tidak melakukan apa-apa. Aku sengaja menyuruh Dewa mengunci pintu karena aku memang sedang butuh waktu sendiri.” Ucap Livy dengan tatapan sendu, lalu dia segera menjauhi dua pria yang hampir berantem itu.
.
.
.
__ADS_1
*TBC
Happy Reading!!