Main Hati

Main Hati
Eps 54 ~ Terhalang Restu


__ADS_3

Meskipun Livy awalnya malu, namun ia tetap mengirim fotonya pada Dewa. Dia mengambil pose tidur di samping Calvin.


Tak lama kemudian terdengar deringan ponsel Livy. ternyata Dewa langsung melakukan panggilan video. Pria itu beralasan ingin melihat Calvin yang sedang terjaga. Padahal tujuan utamanya ingin melihat wajah Mamanya Calvin. Livy sendiri tidak keberatan, karena jujur saja dia juga masih ingin berlama-lama dengan Dewa.


Cukup lama mereka berdua berbicara melalui sambungan telepon. Hingga akhirnya Livy terpaksa mengakhirinya, karena Calvin kehausan.


***


Seperti yang dijanjikan Dewa pada kedua orang tua Livy, saat ini Dewa sudah pulang ke rumah Mamanya. Dia akan mengajak Mamanya untuk ikut pergi ke kota melamar Livy secara resmi sekaligus melangsungkan pernikahannya.


Liana masih shock setelah diberitahu oleh Dewa. Apalagi Dewa sudah mempunyai anak. Dewa juga sudah menceritakan semuanya dari awal. Di mana hubungannya diawali dari sebuah kesalahan, yaitu perselingkuhan. Jujur Liana sendiri sangat membenci perselingkuhan. Apalagi masa lalunya bersama sang suami dulu sempat diwarnai dengan adanya orang ketiga dalam rumah tangganya.


Dewa melihat raut wajah Mamanya yang berbeda saat ia menceritakan masa lalunya dengan Livy. jelas dia merasa Mamanya menentang hubungan itu.


“Apakah setelah tahu masa laluku dengan Livy, Mama akan menentang hubunganku? Mama tidak memberi restu?” tanya Dewa dengan raut wajah kecewa.


“Bukan begitu, Wa. Mama hanya tidak suka dengan perselingkuhan. Apalagi Mama sendiri sangat tahu bagaimana,-“


“Cukup, Ma! Jangan samakan masa lalu Mama dan Papa dulu. Jika Mama tidak memberi restu pada hubunganku dan Livy, itu artinya Mama membiarkan anakku tidak memiliki ayah. Seperti yang aku rasakan selama ini. sejak kecil tidak pernah sekalipun mendapat kasih sayang dari seorang ayah.” Sahut Dewa sedikit emosi.


Setelah mengatakan itu Dewa langsung pergi meninggalkan Mamanya. Masuk ke kamar membanting pintu cukup keras.


Dewa tidak menyangka kalau kepulangannya untuk meminta restu pada Mamanya akan mengalami kendala seperti ini. tidak tahukah Mamanya kalau selama ini dia berjuang sendiri dalam hidupnya. Tak ada dukungan dari siapapun. Walau ia sadar kalau hubungannya dengan Livy berawal dari kesalahan. Namun bukankah mereka sudah lama berpisah. Hingga ada suatu kesempatan baik yang menurutnya itu adalah jalan takdirnya untuk hidup bersama Livy.


Meskipun respon Mamanya tadi kurang membuatnya puas, namun Dewa akan tetap melanjutkan langkahnya, yaitu menikahi Livy. apalagi dia mengingat wajah Calvin, rasanya dia ingin sekali segera melangsungkan pernikahannya. Dia ingin setiap hari bertemu dengan Calvin, anaknya.


Kepulangan Dewa selama dua hari di rumah Mamanya rasanya hanya sia-sia. Setelah perdebatannya dengan sang Mama tempo hari sampai saat ini, Dewa sudah tidak lagi berkomunikasi dengan Mamanya. Akhirnya hari ini ia memutuskan untuk kembali ke kota. Biarlah ia menikahi Livy tanpa didampingi oleh Mamanya.


Dewa keluar dari kamar dengan membawa tas ransel di punggungnya. Pukul sepuluh siang nanti pesawatnya akan take off. Jadi lebih baik sekarang ia berangkat ke bandara.


Langkah Dewa terhenti saat hampir keluar dari rumahnya dan mendengar panggilan dari Mamanya. Dia hanya diam di tempat tanpa menoleh kepada Mamanya.

__ADS_1


“Maafkan Mama, Wa! Maafkan ucapan Mama kemarin. Mama tidak bermaksud menyamakan masa lalu Mama dan Papa dengan kamu.” Ucap Liana.


Dewa masih diam di tempat. Tidak merespon sedikit pun ucapan Mamanya. Hatinya juga masih kecewa.


“Apa kamu akan kembali dan menikahi calon menantu Mama tanpa mengajak Mama?” tanya Liana.


Seketika itu Dewa menoleh ke arah Mamanya. Dia meminta penjelasan atas ucapan Mamanya baru saja. Liana sendiri hanya menjawab dengan anggukan kepala.


“Mama akan merestui hubungan kalian. demi kebahagiaan kamu dan agar cucu Mama mempunyai ayah.”


Dewa pun segera menghampiri Mamanya. Liana sendiri langsung memeluk Dewa. Wanita itu sudah cukup selama ini diacuhkan oleh anaknya sendiri. Jadi, dia tidak mau lagi diacuhkan oleh Dewa, apalagi dijauhi seperti dulu.


“Terima kasih, Ma!” ucap Dewa setelah mengurai pelukannya.


Akhirnya setelah itu Dewa menunggu Mamanya bersiap. Karena dia tidak kembali seorang diri, melainkan bersama Mamanya.


***


Liana tidak menyangka kalau Dewa tinggal di apartemen mewah pemberian atasannya. Sebagai orang tua, Liana juga kecewa terhadap dirinya sendiri karena selama ini tidak pernah memperhatikan kehidupan anaknya. ada rasa bahagia juga karena beruntung Dewa tidak terjerumus ke dunia bebas seperti kebanyakan anak lainnya.


“Mama istirahat dulu. Nanti malam kita keluar dan membeli beberapa perhiasan untuk melamar Livy.” ujar Dewa.


“Mama tidak ngantuk, Wa. Mama selonjoran di sini saja.” jawab Liana memilih duduk di ruang tengah.


Dewa pun membiarkannya. Dia masuk ke dalam kamar untuk berganti baju. Tentu saja juga memberi kabar pada Livy kalau ia baru saja pulang. setelah itu Dewa keluar kamar hendak membuat kopi. Namun ternyata ia melihat Mamanya tertidur di sofa. Padahal wanita itu tadi bilang tidak ngantuk. Tapi kenapa justru tertidur di sofa.


Dewa hanya menggelengkan kepalanya. Ia mengambil selimut dan menyelimuti Mamanya yang tampak nyenyak tidur.


Malam harinya, Dewa mengajak Mamanya keluar makan malam sekaligus membeli perhiasan untuk melamar Livy besok. Dewa sengaja meminta Mamanya untuk memilihkan perhiasan yang cocok untuk Livy. namun Mamanya hanya memilih kalung saja.


“Kenapa Mama memilih kalung saja? sekalian sama cincinnya, Ma.” Tanya Dewa tampak heran.

__ADS_1


“Nggak apa-apa. Nanti cincinnya dari Mama saja. biar uangmu bisa kamu gunakan untuk keperluan lainnya.” Jawab Liana.


“Nggak apa-apa, Ma. Uang Dewa masih cukup kok. Mama jangan khawatir soal itu. meskipun nanti jika Livy meminta pesta pernikahan mewah, Dewa akan berusaha memberikannya.”


Liana hanya menggelengkan kepalanya. Dia tetap memilih kalung saja. karena memang dia sudah menyiapkan sebuah cincin untuk calon menantunya.


“Tolong sekali ini saja kamu menurut sama Mama, Wa! Hanya itu yang bisa Mama berikan.” Ujar Liana meyakinkan.


Akhirnya Dewa pun mengangguk pasrah. tidak tega menolak pemberian Mamanya. Mengingat selama ini Mamanya juga hidup pas-pasan. Meskipun setiap bulan dia selalu mengirim sebagian gajinya untuk sang Mama.


Setelah makan malam dan membeli perlengkapan untuk melamar Livy besok, kini Dewa dan Mamanya sudah berada di apartemen. Liana tampak masuk ke dalam kamar untuk mengambil sesuatu dan diberikan pada Dewa.


Sebuah kotak bludru berwarna merah. Namun kotak itu sudah tidak terlihat baru lagi, karena memang isinya juga tidak baru.


“Ini cincin pemberian mertua Mama, nenek kamu, Wa. Dan ini satu-satunya perhiasan yang Mama miliki. Berikan cincin ini untuk melamar Livy besok.”


Dewa hanya menerima tanpa banyak bertanya lagi. apalagi melihat raut wajah sedih Mamanya, jelas wanita itu pasti sedang mengingat mantan suaminya yang entah kini masih mendekam di penjara atau sudah keluar.


“Terima kasih, Ma. Dewa akan memberikan cincin ini pada Livy besok.”


.


.


.


*TBC


Happy Reading!!


 

__ADS_1


__ADS_2