Main Hati

Main Hati
Eps 48 ~ Merindukanmu


__ADS_3

Rupanya ucapan Reno tempo hari sama sekali tidak memberikan efek paada Livy. Livy tetap teguh pada pendiriannya. Ia tidak akan mencari Dewa hanya demi meminta pertanggung jawaban atas anak yang dikandungnya. Meskipun ucapan Papanya seolah meyakinkan kalau Dewa mencintainya, namun Livy masih meragukan hal itu.


Jodoh memang takdir Tuhan. Namun jika diantara keduanya tidak saling berusaha membangun kepercayaan dan memupuk rasa cinta masing-masing, tentu saja Tuhan tidak akan menakdirkan mereka berjodoh. Sama seperti halnya jika hanya Livy yang mencintai Dewa, sedangkan pria itu tidak, maka dari itu Livy tidak ingin memaksakan kehendak. Jadi, semuanya ia serahkan kembali ke yang maha kuasa.


**


Saat ini Livy baru saja menyelesaikan makan siangnya. Padahal jam masih menunjukkan pukul sepuluh pagi. maklum saja, di usia kehamilannya yang semakin besar ini napsu makannya semakin bertambah. Badan Livy juga semakin berisi. Beruntungnya dia sudah tidak mengalami gejala morning sickness lagi. tentang masalah ngidam juga sudah tidak terlalu aneh. Hanya saja ia masih menyukai nasi bungkus yang dibeli oleh kakaknya setiap pulang kerja.


“Vy, kamu bisa teleponin Mas Raffa nggak?” tiba-tiba Jelita keluar dari kamar yang ada di lantai satu sambil memegangi perutnya.


“Ada apa, Kak?” tanya Livy yang masih belum menyadari raut wajah Jelita yang sedang kesakitan.


Usia kehamilan Livy dan Jelita memang selisih dua bulan. Jadi bulan ini usia kehamilan Jelita sudah memasuki estimasi melahirkan. Wanita yang sudah pernah melahirkan dua kali itu jelas mengerti kalau sebentar lagi ia akan melahirkan. Hanya saja, ia tidak bisa menghubungi suaminya lantaran ponselnya sedang kehabisan daya.


“Aku mau melahirkan, Vy! Bisa cepat nggak?”


Livy sangat terkejut. Dia pun ikut panik sendiri. Kaena kebetulan di rumah tidak ada orang. Hanya pembantu dan sopir. Sedangkan kedua orang tuanya sedang ada acara di luar dengan mengajak Kiara. Sedangkan Ethan masih sekolah.


Livy segera mengambil ponselnya. Dia menghubungi kakaknya, namun tidak ada jawaban. Sedangkan Jelita sudah tampak kesakitan sambil memegangi perutnya yang sudah terasa kaku. Livy menghubungi Mamanya juga masih ada acara. Tidak ad acara lain, akhirnya Livy memanggil pembantu dan sopir untuk membantu kakak iparnya.


“Bagaimana, Vy?”


“Ayo, Kak! Aku yang antar Kakak ke rumah sakit. Biar nanti Kak Raffae nyusul.” Jawab Livy masih panik.


Jelita pun percaya dengan ucapan Livy. karena perutnya juga sudah terasa kencang sekali. Dan tak lama kemudian setelah Jelita berhasil dibawa masuk ke dalam mobil bersama Livy, mereka segera ke rumah sakit.

__ADS_1


“Sakit sekali ya, Kak?” tanya Livy ikut cemas saat melihat kakak iparnya sudah berkeringat.


Jelita menjawab dengan anggukan samar. Dia ingin segera sampai rumah sakit, dan jangan sampai melahirkan di dalam mobil. Livy mengetik pesan pada kakaknya agar segera menyusul ke rumah sakit. Tidak lucu jika ia sendiri sedang hamil besar ikut masuk ruang bersalin untuk menemani kakak iparnya yang akan melahirkan. Selain, mungkin tidak diperbolehkan oleh dokter, Livy juga tidak berani melihat bagaimana rasa sakitnya orang melahirkan.


Beberapa saat kemudian mereka sudah sampai rumah sakit. Livy dengan sigap keluar lebih dulu memanggil petugas rumah sakit untuk membantu kakaknya. Meskipun ada sopir, namun Jelita sedikit kurang nyaman jika dibantu untuk turun.


Jelita semakin meringis menahan sakit saat petugas rumah sakit sudah membawanya menuju ruang persalinan. Dia juga tampak cemas karena suaminya tak kunjung datang. dia juga tidak tega jika Livy yang menemaninya. Apalagi wajah Livy juga terlihat pucat.


“Sus, bisa tunggu sebentar lagi, nggak? Suami kakak saya sedang dalam perjalanan.”


“Mbak ini bagaimana sih? Ibu ini sudah kesakitan kok malah mau nunggu suaminya. sudah nggak apa-apa, melahirkan tanpa suaminya.” jawab Suster itu lalu mendorong brankar Jelita masuk ke dalam ruang bersalin.


Tepat saat pintu baru ditutup, Raffael datang dengan nafas yang ngos-ngosan.


“Dimana istriku?” tanya Raffael mengabaikan wajah lelah adiknya.


**


Beberapa jam kemudian proses persalinan Jelita selesai. wanita itu melahirkan anak perempuan lagi dengan normal. Livy yang masih berada di rumah sakit juga ikut lega sekaligus senang mendengar kabar bahagia itu.


“Selamat ya, Kak! Cantik sekali dia.” Ucap Livy menghampiri Jelita beserta bayi mungilnya.


“Iya, cantik seperti tantenya. Karena tantenya yang sudah banyak berkorban atas kelahirannya. Terima kasih banyak ya, Vy!”


Kedua wanita itu saling memeluk haru dengan perut Livy yang membuncit. Semua orang yang ada di ruangan itu juga ikut terharu. Terutama Reno dan Abi yang tidak menyangka kalau Livy yang menemani Jelita pergi ke rumah sakit.

__ADS_1


Kebahagiaan keluarag Reno bertambah lagi dengan hadirnya cucu ketiga mereka. Bahkan perkiraan dua bulan lagi dia juga akan kehadiran cucu lagi, yaitu dari Livy. pria itu tidak bisa membayangkan bagaimana rumahnya nanti yang akan ramai dengan tangisan cucu-cucunya. Pasti sangat menyenangkan.


Terlepas dari itu semua, Reno dan Abi sudah tidak ingin lagi membahas masalah Livy. khususnya tentang ayah dari anak yang dikandung oleh Livy. mengingat usia kehamilannya yang sudah tua, baik Reno dan Abi tidak ingin menambah beban pikiran Livy. mereka membiarkan dengan pilihan Livy yang ingin menyendiri, menjadi orang tua tunggal untuk anaknya. walau kelihatannya itu sangat sulit. Namun sebagai orang tua, mereka selalu mendoakan untuk kebahagiaan Livy.


**


Beberapa hari setelah persalinannya, Jelita sudah diperbolehkan pulang. apalagi wanita itu melakukan persalinan secara normal, jadi tidak membutuhkan waktu lama untuk proses pemulihannya.


Livy yang sejak dulu sangat menyukai anak kecil, ia sangat senang saat kepulangan kakak iparnya dari rumah sakit. Apalagi dengan keponakannya yang masih bayi itu, Livy sangat antusias menyambutnya.


Lagi-lagi ada perasaan yang aneh dalam hati Livy saat melihat kebahagiaan kakaknya yang baru saja melahirkan dengan memiliki keluarga lengkap. Dibandingkan dengan dirinya yang hanya sendirian. Bagaimana jika hari itu tiba. Hari dimana ia akan melahikan buah hatinya tanpa ada seseorang yang berada di sisinya untuk menemani.


“Ehm, aku mau ke kamar sebentar. Aku lupa tadi mau ngisi daya ponsel.” Ucap Livy tiba-tiba meninggalkan keluarganya yang sedang berkumpul.


Suasana tiba-tiba menjadi hening setelah Livy pamit masuk ke kamar. mungkin semua orang yang ada di ruang tengah itu tahu apa yang sedang dirasakan oleh Livy, namun tak satupun dari mereka yang berani bersuara.


Sementara itu Livy yang kini sudah berada di kamarnya, air matanya luruh begitu saja. dia menangis tergugu sambil memegangi perutnya. Kenapa sesakit ini menahan rasa rindu dan cinta pada seseorang yang entah orang itu mencintai kita atau tidak. Ingin sekali Livy berteriak sekeras-kerasnya memanggil nama Dewa dan meminta pria itu datang.


“Dewa, aku sangat merindukanmu.” Ucapnya di sela-sela isakannya.


.


.


.

__ADS_1


*TBC


Happy Reading!!


__ADS_2