
“Sayang, mulai hari ini kita akan tinggal di sini. di rumah baru kita.” Ujar Dewa sambil memegang kedua tangan istrinya.
Mata Livy berkaca-kaca saat menatap suaminya. apalagi setelah mendengar kenyataan bahwa rumah yang sedang ia pijaki saat ini adalah rumahnya. Atau lebih tepatnya rumah baru.
“Sayang, kamu jangan menangis! Apa kamu tidak suka dengan rumah ini? maaf kalau kurang mewah dan tidak sesuai dengan,-“
Stttt…
Livy menutup mulut suaminya dengan jari telunjuknya. Tak lama kemudian dia memeluk sang suami dengan erat. Livy yang masih terharu dengan usaha keras suaminya untuk bisa membeli rumah ini, ia pun masih terisak.
“Aku sangat suka, Mas. terima kasih banyak. Terima kasih karena kamu telah berusaha keras membuat hidupku dan Calvin nyaman.” Ujar Livy penuh haru.
Dewa mengurai pelukannya. Setelah itu ia mengusap air mata di pipi Livy, kemudian menangkup kedua pipinya.
“Sayang, apapun akan aku berikan untuk kamu dan anak kita. Justru aku yang meminta maaf, karena terlambat memberikan ini semua. Dan aku janji setelah ini akan mengambil seorang pengasuh yang akan membantu kamu mengurus Calvin.”
“Mas! ini sudah lebih dari cukup. Kamu tidak perlu mengatakan terlambat. Bagiku kamu sudah menjadi suami yang sangat luar biasa. Dan untuk seorang pengasuh, aku rasa tidak perlu. Aku masih bisa merawat Calvin sendiri.”
“Dengarkan aku, Sayang! Calvin tetap berada dalam pantauan kamu. Dan pengasuh nanti hanya membantu kamu. Semakin lama Calvin akan semakin aktif. Jadi kamu butuh bantuan tenaga lagi. apalagi kalau di sini sebentar lagi ada adik Calvin bagaimana?” canda Dewa sambil mengusap perut istrinya.
“Ish, Calvin masih bayi. Nanti lah kita rencanain dulu kalau mau buat adik Calvin. Oh iya, terus siapa pengasuh yang akan membantuku merawat Calvin? Aku nggak mau yang muda loh ya?”
“Kenapa memangnya? Kamu takut karma, Sayang?” tanya Dewa sambil mencubit hidung istrinya seolah mengingatkan masa lalu mereka dulu.
__ADS_1
“Nggak lucu tau!” kesal Livy dengan bibir manyun.
“Hei, jangan marah! Aku tahu kalau pikiran kamu ini pasti kotor. Sama seperti reader julid yang mengharapkan kita dapat karma dengan melalui baby sitter yang aku cari nanti. meskipun aku pernah dikatai sebagai pebinor, namun aku jamin di dalam rumah tangga kita ini tidak ada istilah pelakor. Percayalah!” ujar Dewa dengan sungguh-sungguh.
Livy tampak lega mendengar penjelasan suaminya. terkadang memang benyak sekali orang di luaran sana yang membenci kita, justru selalu mendoakan yang jelek-jelek pada kita. Padahal yang menentukan seseorang itu berdosa ataupun mendapat karma atas perbuatan masa lalunya itu bukanlah manusia. Melain sang pemilik kehidupan ini.
Livy tidak sempat melihat keseluruhan ruangan yang ada di rumah barunya itu. dia buru-buru ingin segera bertemu sang buah hati yang kini sedang berada di rumah orang tuanya. Sekaligus iaa akan mengabarkan pada semua anggota keluargnya tentang kabar bahagia ini.
**
Hari ini juga Dewa dan Livy beserta anak mereka, pindah ke rumah barunya. Beberapa barang-barang penting memang sudah Dewa bawa ke rumah barunya itu dengan meminta bantuan orang. Selebihnya nanti akan diambil lagi sedikit demi sedikit.
Kedua orang tua Livy jelas sangat senang kalau akhirnya anak menantu mereka mempunyai rumah baru. Karena memang sebelumnya Mama Abi kurang setuju kalau membawa Calvin tinggal di apartemen. Namun ia tidak berhak melarangnya, karena ingin melihat kesungguhan Dewa sebagai seorang suami yang bertanggung jawab terhadap keluarganya.
Seminggu berlalu. Hari ini Livy baru bisa mengadakan syukuran kecil-kecilan atas rumah barunya. Dua hari yang lalu Dewa juga sudah membawa seorang baby sitter yang akan membantu Livy mengasuh Calvin.
Wanita paruh baya yang sengaja Dewa rekrut dari panti asuhan milik Bu Tina, merupakan seseorang yang sudah terbiasa merawat anak-anak kecil. Apalagi Dewa langsung mendapatkan rekomendasi dari Bu Tina. Jadi ia sangat percaya pada baby sitter yang akan mengasuh Calvin ini.
Livy kini tengah sibuk di dapur untuk menyiapkan hidangan syukuran rumah barunya. Bahkan Mama Liana juga ikut diundang. Mama Dewa itu sudah datang tiga hari yang lalu. Terebih setelah mendapat kabar kalau menantunya baru saja dirawat di rumah sakit.
“Sayang, jangan capek-capek! Aku nggak mau kamu sakit lagi.” ujar Dewa sambil memeluk istrinya dari belakang.
Kebetulan juga di dapur kini sedang sepi. Penghuni lainnya sibuk di ruang tengah. Setelah itu Livy berbalik badan menatap suaminya.
__ADS_1
“Aku sama sekali nggak capek, Mas. aku sangat bahagia bisa berkumpul bersama keluarga kita. Namun kita sama-sama masih punya tanggungan, Mas.”
“Tanggungan apa, Sayang?” tanya Dewa tidak mengerti.
“Aku masih punya tanggungan untuk membantu Febian sembuh. kamu nggak lupa kan? Kunjunganku tinggal satu kali saja menurut dokter yang menangani Febian. lalu tanggungan kamu yaitu mencari keberadaan Papa.”
Dewa tampak terdiam. Dia sudah tidak mempermasalahkan lagi mengenai istrinya yang berusaha membantu Febian sembuh. tapi untuk mencari keberadaan Papanya, sampai saat ini Dewa masih belum bisa mendapatkan informasi apapun.
“Baiklah, Sayang. Nanti aku coba bicara sama Mama dulu. Mungkin atas ijin dan kerelaan hati Mama, aku bisa segera bertemu dengan Papa.”
Setelah itu Dewa dan Livy menuju ruang tengah, di mana seluruh keluarganya sedang berkumpul.
.
.
.
*TBC
Happy Reading!!
__ADS_1