Main Hati

Main Hati
Eps 56 ~ Penyakit Menular


__ADS_3

Acara lamaran itu berlangsung dengan lancar. Dewa dan keluarga Mario pun pamit undur diri. Selanjutnya, untuk urusan pernikahan diserahkan smeua pada calon pengantin. Karena mungkin tidak memerlukan banyak persiapan. Mengingat pernikahan mereka dilakukan secara sederhana.


Dewa sebenarnya masih ingin bersama putranya. Namun sayangnya ia harus berpisah. Mungkin besok ia bisa datang lagi untuk melihat Calvin. Begitu juga dengan Livy yang masih ingin terus bersama calon suaminya. maklum saja, keduanya baru saja dipertemukan. Apalagi setelah Livy mengetahui kalau sejak dulu Dewa juga mencintainya, hingga sampai pada statusnya saat ini, yaitu calon istri Dewa. Livy sangat bersyukur akan hal itu. ternyata rencana Tuhan sangat indah. Bahkan di luar dugaannya selama ini.


Dewa merasa sangat lega karena perjalanannya untuk menjadikan Livy sebagai miliknya seutuhnya tinggal selangkah lagi. dulu mungkin ia hanya berharap Livy menjadi miliknya di saat wanita itu telah bersuami. Namun kini telah berbeda. Bukan harapan lagi, melainkan kenyataan.


Perasaan Dewa sampai saat ini masih berbunga-bunga. Bahkan sampai larut malam pria itu tidak bisa tidur sama sekali karena sudah tidak sabar menunggu dua minggu lagi. bayang-bayang wajah cantik calon istrinya terus menari-nari dalam pikirannya.


Dewa mengambil ponselnya untuk menghubungi Livy. siapa tahu wanita itu sedang terjaga. Ia pun mengirim pesan. Dan tidak sampai dua menit, Livy langsung membalas pesannya. Livy mengatakan kalau ia sedang begadang, karena Calvin setiap malam selalu seperti ini.


Dewa pun langsung melakukan panggilan pada Livy. berharap dengan mendengar suaranya, Calvin bisa tidur dengan nyenyak dan tidak lagi menyusahkan Mamanya.


“Hai gantengnya Papa!” sapa Dewa saat Livy mengarahkan kamera ponselnya pada Calvin.


Bayi itu memang sedang terjaga. Tidak rewel juga tidak menangis. Justru Calvin tampak asyik menjulur-julurkan lidahnya seolah sengaja menggoda Papanya. Alahasil Dewa pun dibuat gemas. Ingin sekali dia menghampiri Calvin dan juga Mamanya. Namun sayangnya mereka masih belum resmi sebagai suami istri.


Dewa terus mengajak bicara Calvin agar bayi itu cepat tidur. Namun ternyata salah. Bayi yang belum genap satu bulan itu justru terlihat bersemangat begadang saat mendengar suara sang Papa. Livy pun jadi ikut gemas. Padahal matanya tampak sayu karena menahan kantuk.


“Sayang, coba kamu beri dia ASI lagi. siapa tahu setelah ini Calvin mau tidur.” Ujar Dewa memberi nasehat. Karena jujur saja Dewa sangat kasihan melihat Livy begadang seorang diri.


“Hmm, baiklah. Aku matikan dulu ya ponselnya.” Jawab Livy dengan suara lirih.


“Selamat tidur jagoan Papa! Selamat tidur, calon istriku!” pamit Dewa sebelum mengakhiri panggilannya.

__ADS_1


***


Minggu pagi ini Dewa sama sekali tidak ada kegiatan setelah acara lamarannya semalam. Rencananya ia akan datang ke rumah Livy, namun tidak enak jika meninggalkan Mamanya seorang diri di apartemen.


“Ma, Apa Mama masih ingat dengan Bi Tina?” tanya Dewa seperti mempunyai ide cemerlang.


“Masih. Kenapa, Wa memangnya? Bagaimana kabar Bi Tina? Mama merasa sangat bersalah dengan dia.” Jawab Mama Dewa dengan sendu.


“Bi Tina juga tinggal di kota ini, Ma. Dulu kan Dewa memang pergi bersama Bi Tina. Dan sekarang beliau memiliki sebuah panti asuhan. Jika Mama mau bertemu dengan beliau, Dewa mau mengantar Mama.”


Liana jelas mau. Dia tidak menyangka kalau mantan asisten rumah tangganya juga tinggal di kota ini. dia sama sekali tidak tahu kalau Bi Tina dulu yang mengajak Dewa pergi dari rumahnya di saat terjadi masalah besar dengan rumah tangganya. Tidak salah, Dewa kini menjadi pria yang tidak salah dalam pergaulan. Semua itu karena jasa dari mantan asisten rumah tangganya.


Dewa pun bersedia mengantar Mamanya datang ke panti asuhan milik Bi Tina. Bahkan Mamanya ingin berlama-lama di sana untuk melepas rindu pada mantan asisten rumah tangganya.


Tidak lama perjalanan yang ditempuh Dewa untuk sampai panti asuhan. Dewa juga belum sempat datang lagi setelah mengantar Mario dulu. Dan baru sekarang ia bisa. Itupun dengan Mamanya.


“Nggak apa-apa, Wa. Kamu juga butuh waktu bersama anak kamu. Mama biar di sini dulu.” Jawab Mama Liana sebelum mereka berdua keluar dari mobil.


Dewa menatap heran pada sebuah mobil yang tidak asing baginya sedang terparkir di halaman panti asuhan. Tapi dia tidak terlalu memikirkannya.


Sesampainya di dalam panti asuhan, Dewa langsung bertemu dengan Bi Tina yang kebetulan baru keluar dari ruangannya. Wanita itu menatap ke arah Dewa juga mantan majikannya.


“Nyonya Liana!” panggil Bi Tina menatap haru Mama Liana.

__ADS_1


Kedua wanita itu saling berpelukan melepas rindu setelah sekian lama berpisah. Dewa juga ikut terharu dengan pertemuan Mamanya dengan Bi Tina. Namun dia sangat bahagia, karena Mamanya bisa menjalin hubungan baik lagi dengan Bi Tina. Mengingat saat kepergiannya dulu, Bi Tina sempat diusir oleh Mamanya karena dampak dari permasalahan rumah tangganya dengan snag suami.


Cukup lama kedua wanita itu bercengkrama. Hingga akhirnya Dewa memilih untuk pergi ke rumah Livy. Bi Tina juga terkejut saat mengetahui kalau Dewa sebentar lagi akan menikah. wanita itu tampak kesal karena tidak diberitahu oleh Dewa.


“Tenang saja, Bik. Nanti saat acara pernikahan, Bibi akan Dewa undang.” Ucap Dewa.


“Dasar anak nakal!!” Bi Tina menjewer telinga Dewa.


Mama Liana hanya tersenyum melihat hubungan anaknya dengan mantan art’nya yang sangat akrab. Setelah itu Dewa berpamitan pergi.


Langkah Dewa terhenti saat tidak sengaja melihat seorang pria yang sangat dia kenal sedang duduk berdua dengan seorang wanita yang ia kenal juga. Ya, Mario kini sedang duduk berbincang-bincang dengan Raina. Lalu di hadapan mereka tampak Saskia sedang bermain. Senyum jahil pun terbit dari bibir Dewa sebelum ia menghampiri bosnya itu.


“Hati-hati, Na! pria yang sedang duduk bersamamu itu sangat membahayakan. Dia menderita penyakit menular dengan hanya duduk berdekatan saja.” ucap Dewa tiba-tiba.


Raina sangat terkejut. Begitu juga dengan Mario. Namun saat ia hendak memberi pelajaran pada Dewa, Dewa sudah lebih dulu berlari sebelum mendapat amukan dari Mario.


“Sialann!!!!”


.


.


.

__ADS_1


*TBC


Happy Reading!!


__ADS_2