
"Terima kasih, tolong taruh di meja," ujar pria itu tanpa mengalihkan tatapannya pada layar laptop. Sepertinya tengah sibuk.
"Kalau begitu saya permisi kembali bekerja Pak," pamit Nessa mengangguk sopan. Bersikap profesional layaknya atasan dengan bawahan.
"Eh, Nes, tunggu Nes, sebentar lagi 'kan istirahat makan siang, kamu nggak tertarik makan bareng kakak iparmu? Oh nggak maksud aku, nanti sekitar jam satu siang aku ada ketemu sama klien, kamu ikut menemani."
"Tapi Pak, bukannya ada sekretaris Bapak, ya?"
"Iya, Bayu juga ikut. Kamu menemani saja, bisa sambil belajar. Jarang loh anak magang aku ikut sertakan meeting kaya gini. Ya walaupun ada sih, tapi tidak semua orang mendapatkan kesempatan itu. Jadi pastikan kamu tidak menolak dan banyak alasan. Bukankah kita harus profesional kerja, jadi aman dan nggak ada masalah dong."
"Iya, baik Pak!" jawab Nessa tak ada pilihan.
"Tolong kamu nanti bawain laptop aku ya?" ujar pria itu sedikit menyebalkan di ruang kerja. Rasanya ingin menolak protes, tetapi apa daya dirinya yang cuma anak magang. Butuh rekap kegiatan untuk nilai akhir.
Pria itu duduk dengan santai sembari meminum kopinya.
"Kamu pinter banget milihnya, padahal 'kan aku belum kasih tahu kamu minuman kesukaan aku apa."
"Hmm ... itu hanya firasat saya saja. Saya pikir vanilla sweet cream cocok untuk diminum siang hari," ujar Nessa mencari alasa.
Gama dan Nessa saling bertukar pandang, lalu pria itu mencoba mengingat-ingat sesuatu sambil menyesap minuman yang selama ini menjadi favoritnya.
Apa sih yang aku nggak tahu tentang kamu, Kak.
Gadis itu hanya tersenyum kecut melihat kakak iparnya yang begitu menikmati minuman itu.
"Ya sudah, saya permisi dulu Kak, nanti kan jam satu, masih lama, lebih dari satu jam dari sekarang."
"Aku udah pesan dua porsi makanan untuk lunch loh. Gimana sih, kok malah mau ditinggal."
Nessa akhirnya tertinggal di ruang kak Gama hingga menjelang makan siang. Entah di mejanya ada yang mencari atau tidak, Nessa tidak tahu. Tadi juga ia tidak menitip pesan terhadap pegawai lain kalau keluar.
Saat Nessa tengah berperang dengan pikirannya. Suara ketukan pintu menggema. Nampak Pak Bayu atau sekretaris pria itu membawa papper bag yang diduga makanan yang dipesan Kak Gama.
"Makan siang Pak!" ujar Bayu kalem. Melirik Nessa lalu tersenyum. Pria itu sudah tahu kalau Nessa adik iparnya pria yang menjadi atasannya itu. Jadi, keberadaan gadis itu di ruang bossnya tentu bukan hal yang patut dihebohkan. Apalagi Gama sudah mewanti-wanti untuk merahasiakan itu.
"Trims Bay, kamu bisa tunggu diluar. Satu jam dari sekarang ingatkan aku untuk tepat waktu," pesannya sebelum beranjak.
__ADS_1
"Siap Pak!" jawab Bayu lalu beranjak keluar.
"Tolong siapin, Ness. Satu buat kamu," pinta pria itu tanpa rasa canggung.
Nessa tidak menjawab, hanya mengangguk dengan kikuk. Entah mengapa di dekat Kak Gama selalu membuat jantungnya menggila, apalagi tatapannya yang diselipi dengan senyuman. Semakin menambah ketampanan pria itu berkali-kali lipat.
Mendadak Nessa begitu gugup, dan salah tingkah dengan tatapan itu. Tanpa sengaja saat ingin mengambil air mineral dalam kemasan tangan mereka bertemu. Lengkap sudah jantungnya bagai melodi disco yang menggebu.
"Kak Gama duluan," kata gadis itu menarik tangannya.
Gama tersenyum, lalu mengambil botol air mineral itu, membuka sealnya. Tanpa dinyana pria itu menyodorkan pada Nessa.
"Ini, kok malah lihatin aku kayak gitu, mau minum kan?" tanya Gama menjulurkan tangannya.
"Iya, makasih," jawab Nessa menerima botol itu lalu meminumnya hingga separo. Saking gugupnya jadi gagal fokus.
"Haus banget ya?" tanya Gama sampai mengendurkan dasinya melihat cara minum adik iparnya yang tak biasa.
"Iya, cuacanya panas."
"Padahal ruangan ini ber-AC loh. Hahaha. Kamu lucu banget!" Pria itu mencubit gemas pipi Nessa. Tentu saja adegan itu membuat Nessa melongo. Alih-alih ikut tersenyum ia malah dibuat bingung dengan tingkah kakak iparnya yang terlihat berbeda. Lebih care, lebih banyak ngomong, dan lebih perhatian.
"Aku sehat Nessa," kata pria itu menurunkan tangan adik iparnya itu. Menggenggam tanpa sadar. Nessa tidak berniat menarik tangan itu, jujur ia terlalu menikmatinya. Biarlah tetap begini saja, walau saat ini sadar itu suatu kesalahan yang pasti akan disesali.
"Udah, makan yang banyak. Kamu terlihat kurus beberapa hari ini, apakah kamu memikirkan sesuatu? Apa aku semenyiksakan itu bagimu?" tanya pria itu diluar ekspektasi.
"Kakak sadar dengan apa yang kakak katakan. Tolong jangan tanyakan lagi, aku hanya mabuk dan meracau tiada arti," jawab Nessa hampir putus asa. Sungguh ia tidak ingin perasaan itu diketahui oleh siapa pun. Hanya Bima yang tahu semuanya, cukup pria itu saja.
"Kamu nampak serius, dah makan," ujar pria itu mengacak rambutnya pelan.
Keduanya menikmati makan siang bersama dengan perasaan entah. Baik Nessa ataupun Gama saling terdiam menikmati suapan demi suapan.
Saat sibuk mengunyah, vibrasi ponsel pria itu memekik. Membuat atensi keduanya beralih pada benda pipih itu.
Gama melirik sekilas lalu menerimanya dengan senyum terkembang.
"Hallo sayang, aku lagi makan siang nih. Kamu sudah makan?" tanya pria itu lembut. Sudah bisa dipastikan yang menghubunginya Mbak There. Kalau sudah begini siap-siap aja tutup telinga dari pada harus mendengar celotehan lebaynya.
__ADS_1
"Udah barusan, selamat makan ya, nanti langsung pulang ke rumah mumpung aku lagi stay di rumah."
"Kamu udah pulang? Oke, nanti aku akan usahakan pulang lebih cepat dari biasanya," jawab pria itu bersemangat.
Entah mengapa obrolan mereka itu selalu membuat Nessa meradang dan tak nyaman. Sampai kapan perasaan ini terus membumbui. Sepertinya memang Nessa harus segera mengakhiri perasaannya itu. Mungkin dengan mencoba dengan orang yang baru.
Usai menghabiskan makan siang yang terasa mencekik leher. Nessa kembali ke meja kerjanya. Bayu mengabari pertemuan kali ini dengan klien perusahaan kenamaan itu ditunda. Sejenak Nessa bernapas lega tidak harus berhadapan dengan pria itu dalam satu waktu dan dalam satu ruang.
Sebenarnya sore itu Gama menawarkan tumpangan dengan mengirimkan pesan singkat ke ponselnya untuk pulang bersama. Namun, Nessa mengabaikan itu dan memilih tidak membalasnya.
Ia memilih pulang lebih larut padahal jelas jam kantornya sudah out dari sore hari. Menikmati secangkir coklat panas di kafe langganannya hanya untuk menghibur diri.
"Sorry, aku telat. Tadi ada pekerjaan yang harus musti aku kerjakan atau papa akan marah." Bima datang dan langsung memesan makanan.
"Kamu terlihat lebih serius dan giat bekerja, syukurlah kalau sudah insaf," cibir Nessa sembari memainkan mug di tangannya.
"Tidak juga, cuma bisa terancam diberhentikan uang jajan aku yang banyaknya nggak ketulungan itu kalau aku tidak nurut dengannya. Kamu tahu sendiri, papaku kaya apa."
Nessa nampak manggut-manggut. Mengiyakan perkataan sahabatnya. Keluarganya sebenarnya begitu harmonis, tetapi pemuda itu hanya tidak begitu suka dengan aturan yang terlalu membelunggunya. Sebenarnya keturunan itu berasal dari ayahnya, Pandu Candra.
Cukup lama keduanya mengobrol, entah kenapa Nessa ingin berlama-lama menikmati suasana malam itu dari pada harus pulang ke rumah.
"Kamu tidak ingin pulang?" tanya Bima sembari memainkan mahkota indahnya yang menjuntai.
"Aku malas pulang," jawab Nessa lalu.
"Kenapa lagi dengan Kak Gamamu itu? Hmm ....!"
"Entahlah, aku sulit untuk melupakan itu, tapi sungguh aku tidak ingin menyakiti Mbak There."
"Cari pacar gimana? Aku punya teman, ya ... siapa tahu kamu tertarik padanya."
"Jangan bilang kamu merencanakan kencang buta untukku."
"Sepertinya perlu!" kata pria itu serius.
Asyik mengobrol sampai tak menyadari malam semakin larut. Saat mengambil handphone di tasnya hendak melihat jam, ia terperangah mendapati banyaknya pesan dan juga panggilan dari kak Gama sejak dari sore tadi.
__ADS_1
Ngapain nih orang telepon banyak bener. Bukannya Mbak There lagi di rumah ya?