Main Hati With Iparku

Main Hati With Iparku
Part 17


__ADS_3

Gadis itu mengetuk pintu dua satu dua, tak berselang lama sahutan dari dalam mempersilahkan.


"Maaf Pak, ini berkas yang diminta," ucap Nessa berusaha tenang.


"Iya, terima kasih," jawab pria itu tanpa mengalihkan tatapannya pada layar monitor. Pria itu terlihat sibuk, jadi itu malah membuat Nessa begitu lega karena tidak memperhatikan dirinya.


"Kalau begitu saya permisi Pak," pamitnya lalu.


"Ness!" panggil laki-laki itu tetap dengan posisi yang sama.


Suara bass itu menghentikan langkahnya yang baru dimulai. Gadis itu memutar tubuhnya kembali. Takut ada sesuatu lagi yang dibutuhkan pria itu, Nessa pun mendekat dengan sopan.


"Iya, Pak. Apa ada yang perlu dibutuhkan lagi?" tanya Nessa datar.


"Kamu sengaja menghindariku?" tanya Kak Gama memindai tatapannya dari layar laptop menatap matanya.


"Aku rasa pertanyaan itu tidak ada hubungannya dengan pekerjaan, jadi tidak wajib aku jawab."


"Semua yang masuk di ruangan ini, akan keluar atas wewenangku. Termasuk pertanyaan apa pun, seharusnya kamu jawab dengan semestinya."


"Maaf Pak, saya tidak pernah menghindar, saya bersikap sesuai dengan sikap yang seharusnya."


"Owh ya?" Gama berdiri dari kursi lalu mengikis jarak dengan adik iparnya itu.


"Ba-bapak ngapain?" tanya gadis itu menjadi gugup. Mundur selangkah saat Gama maju sejengkal.


"Katanya tidak menghindar, bersikap sesuai yang seharusnya kok mundur-mundur?" Seringai tipis nampak tercetak jelas di wajah tampannya.


"Duduk Ness, biar enak ngobrolnya," ujar pria itu memberi jarak. Adiknya bisa gosong kalau digoda terus, sekarang saja pipinya sudah memerah hampir terbakar.


"Tapi aku masih banyak pekerjaan, sebaiknya aku keluar," ujar gadis itu mulai tak nyaman.


"Aku belum memberi wewenang untuk keluar, kenapa tidak nurut dengan atasanmu?"


"Sebenarnya apa yang ingin Kakak katakan?"


"Kamu tahu apa yang aku pikirkan tanpa aku mengeluarkan suara," jawab pria itu misterius.


"Mana aku tahu, memangnya aku cenayang."

__ADS_1


"Tapi kamu cukup tahu dengan arah pembicaraan ini."


Seperti dugaan Nessa, ia mulai terlihat tidak nyaman dan takut dengan kenyataan pahit yang akan menimpa.


"Aku tidak mau menganggap ini sebagai mimpi, dan aku juga tidak akan memaksamu untuk memulai. Tapi aku ingin menggaris bawahi, tidak ada yang perlu ditutupi karena aku sendiri merasa nyaman saat bersamamu."


Kak Gama meraih tangannya yang dingin, jujur Nessa gugup sekali. Takut tiba-tiba pintu itu terbuka dan orang melihat ini.


"Aku sudah katakan jangan saling mengisi, cukup tahu perasaan itu saja. Aku merasa berdosa di posisi ini," ucap Nessa merasa berat. Menarik tangannya, tetapi pria itu menahannya.


"Tolong jangan menghindar, aku suka melihat Nessa yang selalu ceria dan tersenyum menyapaku. Kamu tidak pandai menutupi kebohongan perasaanmu."


"Tapi ini salah, tidak seharusnya kita begini. Akan ada banyak hati yang terluka bila kita terus mengurusi perasaan ini."


"Iya, aku tahu ini salah, tidak harus melebihi sesuatu yang tidak seharusnya. Cukup dekat saja Ness, dan biarkan perasaan ini menemui jalannya. Aku juga tidak akan melarang kamu untuk dekat dengan pria lain, asal tahu batasan saja."


"Maksud kakak apa?"


"Raga kamu boleh berteman, tetapi hati kamu tidak boleh memiliki."


"Kenapa? Bukankah kita sepakat untuk tidak melampaui batas."


"Kakak sedang curhat mengenai kondisi rumah tangga kakak sendiri?" tebak Nessa tepat sasaran.


"Tanpa aku jelaskan, kamu pasti sudah bisa menilai dan merasakan."


"Tapi dalam penglihatanku, kalian begitu bahagia, harmonis dan saling mengisi."


"Kadang yang terlihat tidak semanis gulali. Hanya memenuhi tuntutan kewajiban saja, selebihnya sudah tidak menarik lagi," jawab pria itu sendu.


"Kenapa tidak saling berbicara dari hati dan mencoba memperbaiki."


"Visi misi kita berbeda, sedang dalam pilar rumah tangga itu harus mempunyai tujuan yang sejalan."


"Aku rasa kak Gama dan Mbak There kurang quality time mungkin, atau bisa juga program untuk mendapatkan keturunan. Dengan begitu, Mbak There bisa anteng di rumah."


"Aku sudah tidak lagi mengharapkan anak darinya selama kakakmu lebih mencintai pekerjaannya."


"Dia pasti akan berubah," hibur Nessa sungguh-sungguh.

__ADS_1


Bukan hanya ibu yang menginginkan cucu, ternyata pria di depannya juga menginginkan keturunan yang lucu.


Suara getaran handphone pria itu mengalihkan atensi keduanya. Terlihat laki-laki itu bergerak menepi lalu menerima sambungan itu. Beberapa ucapan saja sebelum akhirnya menutup kembali.


"Aku harus mengantar There ke Bandara, apa kamu mau ikut bareng?" tawar pria itu.


"Kamu mau melihat istrimu ngamuk? Bisa salah sangka kita semobil berdua."


"Kita kan pulang kantor bareng, terus sekalian antar kakakmu ke Bandara. Hemat ongkos dan waktu."


"Tidak minat, titip salam saja untuk segera pulang. Kalau tidak ingin suaminya kuembat," seloroh gadis itu menggoda.


Gama tersenyum menimpali itu, "Nanti akan aku sampaikan pesananmu," jawabnya mantap.


"Serius? Astaga, aku jamin dia murka dan gagal berangkat. Ide yang konyol tapi bisa juga menyelematkan rumah tanggamu yang renggang."


"Kamu sudah siap menjadi tumbal?"


"Aku rasa kakak tidak setega itu, berangkatlah Mbak There nanti marah terlalu lama menunggu!" usir gadis itu.


"Ini ruangan aku, kenapa jadi kamu yang mengusirku?"


"Oh ya ampun ... aku lupa. Sepertinya aku juga harus keluar," ujar gadis itu lalu.


"Ness!" panggil pria itu menatapnya lekat.


"Iya Kak, kenapa?"


"Ingat pesan aku."


"Pesan yang mana? Bukankah tadi aku yang menitip pesan, bukan kakak yang menitip pesan."


"Baru beberapa menit saja lupa. Cukup berteman saja, jangan kamu berikan hatimu pada orang lain."


"Dih ... kenapa? Kan aku jomblo."


"Jomblo hanya status, pada kenyataannya—" Pria itu menatap matanya lalu tersenyum. "Ada hati yang harus kamu jaga."


Refleks pria itu menempelkan bibirnya pada kening adik iparnya. Hanya perasaan nyaman dan sayang. Tidak ingin meminta pengharapan untuk saat ini, selebihnya biarlah cinta menemukan takdirnya sendiri.

__ADS_1


__ADS_2