
"Siapa, Nes?" tanya Bima menilik ekspresi wajah sahabatnya berubah.
"Kak Gama menghubungi aku dari tadi sore, ngapain ya?"
Bima hanya mengedik bahu tak peduli. Sahabatnya itu keras kepala sekali, dikasih tahu untuk tidak memikirkan pria itu lagi, tetap saja tak mau berhenti.
"Aku juga tidak mau mencintai suami orang, tapi perasaan ini susah buat aku singkirkan. Aku tahu ini salah, makanya aku tidak akan meminta balasan. Aku juga sadar, pria itu milik kakak aku, jadi aku memutuskan setuju dengan idemu," final Nessa pada akhirnya.
"Serius?" Bima meyakinkan.
"Nggak tahu serius atau nggak, tetapi kalau coba dulu nggak salah 'kan? Lagian aku takut perasaan ini terendus pria itu. Belakangan tingkah Kak Gama aneh, jantungku lebih aman kalau pria itu dingin dan cuek padaku," curhat Nessa nampak galau.
"Jangan bilang kamu berhasil merayunya. Kamu dalam masalah!" peringat Bima merasa khawatir.
"Sepertinya dia tidak mungkin tergoda, aku hanya malu saja kalau perasaan ini sampai diketahui olehnya."
"Aku berharap kamu serius melupakan Kak Gama. Deal, besok weekend aku kenalkan kamu pada temanku. Aku rasa dia tipemu."
"Awas saja kalau jelek, akan aku sunat kamu!" ancam gadis itu terkekeh.
"Dia tampan, mapan, dan penyayang. Kaya, perhatian, cocok denganmu. Kamu akan jatuh cinta bila mengenalnya nanti."
"Kamu tidak sedang menyebut dirimu sendiri 'kan? Awas aja berani jatuh cinta padaku!" ancam gadis itu serius.
Sejenak Bima memperhatikan Nessa yang menatapnya begitu dalam, lalu tertawa kaku.
"Bukan lah, ada temanku, emang kamu mau sama aku?"
"Nggak mungkin, kita tuh beda jauh. Seperti langit dan bumi. Kamu berasal dari keluarga yang jelas dan utuh, sementara aku? Kita dari segi yang paling mendasar saja sudah tidak mungkin. Hahaha. Apalagi kamu player, aku nomor berapa?"
"Pertama Nes, dan yang terakhir," jawab Bima serius. Nessa bukannya menimpali serius malah tertawa hambar.
"Kamu nggak cocok mendrama. Pulang Bim, firasatku tidak enak, mungkinkah terjadi sesuatu."
__ADS_1
Keduanya memutuskan pulang ke rumah dengan Bima mengantar seperti biasa sampai depan pintu.
"Aku pulang ya?"
Nessa mengangguk sembari melambaikan tangan perpisahan. Setelah kendaraan pria itu tak terlihat baru Nessa masuk ke rumah. Suasana rumah masih terlihat terang, lampu-lampu ruangan masih menyala padahal malam sudah larut. Mungkinkah belum ada yang tidur.
"Mbak There?" sapa Nessa kaget mendapati dirinya disambut oleh kakaknya setiba membuka pintu.
"Ke mana aja sih, dihubungi baru pulang!" bentak perempuan dua puluh lima tahun itu.
"Maaf Mbak, aku jalan sebentar. Ada apa ya?"
"Mama, mama jatuh di kamar mandi, beliau tidak mau dibawa ke rumah sakit. Mana nanyain kamu terus, bikin pusing aja dihubungi nggak bisa."
"Mama jatuh? Ya Allah, maaf Mbak, apa beliau baik-baik saja," ujar gadis itu berlari menuju kamarnya.
Perempuan paruh baya itu sudah terlelap, Nessa mendekati ranjang dengan perasaan bersalah. Ini lah yang selalu memberatkan dirinya untuk meninggalkan rumah yang belakangan ini mulai terasa tidak nyaman. Perempuan yang sudah berjasa merawatnya sejak kecil itu selalu menjadi alasan agar dirinya tetap tinggal.
"Kamu baru pulang, Ness?" tanya Mama Rianti lirih.
"Kamu pasti lelah, istirahat saja Nak. Mama sudah tidak apa, jangan tidur terlalu larut."
"Aku temani Mama di kamar ya? Aku tidur di sini."
"Nggak usah sayang, istirahat lah. Mama juga mau tidur."
Nessa akhirnya menurut, setelah mengecup kening ibunya ia beranjak dari sana.
Saat ia hendak menuju kamarnya, samar-samar mendengar pertengkaran keduanya. Entah masalah apa, tetapi Nessa tidak pernah sekalipun mendengar pria itu marah dengan kakaknya itu. Dia selalu terlihat menanjak Mbak There bahkan menuruti apapun yang perempuan itu mau.
Tak ingin ikut campur dengan urusan rumah tangga orang lain, Nessa berlalu saja mengabaikan pendengaran itu dan menuju kamarnya. Perempuan itu masih terjaga hingga malam. Sibuk membalas customer yang memesan dagangannya. Entah di jam berapa perempuan itu sibuk sendiri, hingga rasanya kantuk tak kunjung menyapa. Sepertinya secangkir kopi nikmat untuk teman begadang malam ini.
Nessa keluar dari kamar menuju dapur, ia membuat secangkir kopi susu lalu membawanya ke atas. Tanpa sengaja melewati ruang tengah mendapati Kak Gama termenung di beranda sendirian. Rasa hati gadis itu ingin beranjak menemani, namun ia mengurangkan niatnya dan memilih berbelok pergi.
__ADS_1
"Ness!" seru pria itu menyerukan namanya. Tahu saja kalau dirinya tengah mengintai dari jarak empat meter.
"Ya, kakak kenapa belum tidur? Ini kan sudah malam?" tanya Nessa berbasa-basi. Tetap di posisinya tanpa berniat untuk mendekat. Ia hanya ingin menyapa saja karena sudah terlanjur tertangkap basah, lalu kembali ke kamarnya. Banyak pekerjaan, orderan banyak semakin membuatnya sibuk, namun ia senang karena itu artinya Nessa lebih makmur untuk membiayai hidupnya sendiri yang sudah ia kerjakan dari awal kuliah.
Tanpa diduga, pria itu mendekat, lalu dengan percaya diri mengambil mug di tangannya. Menyesap kopi itu begitu saja tanpa permisi.
"Kak," cegah gadis itu hendak protes.
"Kenapa? Ini kopi sengaja buatin aku, 'kan?" tanyanya dengan percaya diri.
"Hmm, kak Gama kalau mau biar aku buatin yang baru aja, itu tadi udah aku minum sedikit," ujar Nessa jujur.
"Owh ... nggak usah, Ness. Ini aja lebih enak," ujar pria itu beranjak. Duduk di beranda, seperti terhipnotis Nessa mengikutinya lalu duduk tepat di sampingnya.
"Kakak kenapa belum tidur? Mbak There kan di rumah? Mbak There udah tidur?" tanya Nessa kurang nyaman.
"There sudah tidur, tadi mengeluh sakit kepala terus minum obat, sekarang mungkin sudah mimpi," jawab pria itu datar.
"Owh gitu ... ya udah Kak, aku ke kamar dulu ya? Banyak pekerjaan yang harus aku urus."
"Kamu malam terlihat sibuk? Butuh bantuan?"
"Mmm ... tidak perlu kak, Kakak sebaiknya istirahat saja menyusul Mbak There, besok bisa terlambat ke kantor."
"Ness, aku bantuin ya?"
"Tapi Kak, ini sudah malam, dan kakak akan lebih baik istirahat."
"Kenapa mengusirku? Kalau aku ngantuk sudah pasti aku akan tidur dari tadi, ditambah kopi darimu ini akan membuatku melek semalaman."
"Bukan mengusir, aku takut kakak besok kesiangan dan terlambat."
Karena pria itu terus menawarkan jasa, akhirnya Nessa mengiyakan. Membungkus beberapa orderan pelanggan yang hendak dikirim kebetulan barang sudah ada stoknya. Namun, karena Kak Gama ngintilin, tentu saja mengerjakan di kamar bukan solusi. Akhirnya Nessa memilih mengerjakan di beranda. Hingga tanpa sadar, kantuk menyapa dan gadis itu tertidur begitu saja di sana.
__ADS_1
"Ness, orderan kamu banyak juga ya?" tanya Gama yang tak pernah kunjung mendapat jawaban. Gadis itu sudah pindah ke alam mimpi.
"Ya ampun ... tidur?" gumam pria itu gemas sendiri. Entah setan apa yang merasukinya, Gama bukannya pindah ke kamarnya malah betah berlama-lama di kursi beranda.