Main Hati With Iparku

Main Hati With Iparku
Part 56


__ADS_3

"Apakah kamu merasa nyaman tinggal di sini?"


"Kak Gama?" Nessa terkesiap mendapati kakak iparnya sudah berada di dekatnya.


"Kapan kamu akan pulang? Apa beberapa minggu belum cukup menenangkan pikiranmu?"


"Pulang? Aku bahkan tidak punya tempat tinggal. Sebaiknya Kak Gama pulang, aku sedang ingin sendiri."


"Kamu begitu mudah mengusirku, tapi tak sekalipun mengusir Bima. Aku merasa iri atas perlakuanmu," protes Gama menatap dalam.


"Tidak ada yang spesial di antara kami, untuk apa iri. Sebaiknya Kak Gama pergi," ujarnya merasa lelah.


"Apa kamu tidak kangen dengan mama? Terakhir aku menjenguknya beliau menanyakan kabarmu. Beliau juga nitip salam ingin bertemu."


"Aku malu untuk datang, walau sebenarnya aku ingin bersimpuh dan memeluknya memohon pengampunan," ujar Nessa sendu.


"Belum terlambat untuk melakukan itu, aku akan mengantarmu."


"Bagaimana dengan Mbak There, aku yakin dia belum memaafkan diriku. Aku tidak nyaman menemuinya."


Nessa belum siap untuk bertemu dengan mereka setelah beberapa minggu ini sengaja pergi memutus kabar.

__ADS_1


"Hubungan aku dengan There sudah usai, Ness. Bisakah kamu memberi kesempatan untuk aku mempertanggung jawabkan apa yang telah kita perbuat?" pinta Gama sungguh-sungguh.


"Aku butuh waktu untuk memikirkan itu semua. Biarkan aku sendiri dulu. Di sini aku lebih tenang."


"Tapi aku yang tidak tenang, kamu jauh dari aku, aku mengkhawatirkan dirimu dan juga kandunganmu."


"Aku akan baik-baik saja, ikut denganmu malah membuat aku akan semakin tidak tenang. Aku butuh waktu sendiri."


"Menunggu sampai kapan? Sampai perutmu membesar dan orang-orang di luar sana akan menggunjing dirimu."


Gama meraih tangannya, namun dengan cepat Nessa menarik diri. Hatinya diselimuti keresahan yang mendalam saat pria itu mencoba mendekat. Sesungguhnya Gama begitu merindukan perempuan yang saat ini bahkan enggan menatap wajahnya.


"Tidaklah kamu merasa kasihan terhadap anak ini bila nanti lahir tanpa seorang ayah? Sedang aku mau bertanggung jawab untuk ini."


Nessa dan Gama masih belum menemukan titik temu. Gama yang berusaha membujuk, dan Nessa yang masih susah dinego. Entah apa yang ada di dalam pikirannya, mengapa perempuan itu terus menolak untuk diajak menikah.


Nessa seperti menghukum diri sendiri dengan kehamilannya. Sementara Gama tetap sulit mendapatkan kebahagiaan setelah berpisah. Sedang There terpuruk sendiri dengan penyesalan yang tiada berarti.


Terkadang perempuan itu melamun sendiri dan bahkan menjadi sangat labil. Baginya percumah untuk sembuh, toh Gama tetap pergi dengan pilihannya. Perempuan itu menikmati kesendiriannya dengan berteman sepi.


"Kenapa harus menjual rumah atas izin Nessa, Ma. Tidakkah kita jual saja tanpa sisa," ucap There berapi-api.

__ADS_1


"Kita tidak bisa melakukan itu, Re, seharusnya kamu paham kalau selama ini hidup kita cuma menumpang," ujar Ibu terlihat sendu.


Nessa adalah anak dari pasangan Kusumo dan juga Andini. Mereka berdua mengalami kecelakaan waktu Nessa masih kecil, ibu Rianti yang saat itu tengah bekerja menjadi art di rumah itu pun dengan terpaksa merawatnya dan menganggapnya sebagai anak sendiri. Nessa ditinggal orang tuanya saat usianya masih kecil, gadis itu adalah satu-satunya pewaris keluarga Kusumo yang saat itu perusahaannya dikelola Pak Setyo ayah dari There.


Kendati demikian, aset Pak Kusumo telah dilimpahkan pada pengacaranya. Sebelum beliau meninggal, untuk diwariskan pada putri satu-satunya yaitu Nessa. Nessa bisa mengambil alih itu semua setelah usianya cukup umur dan saat perempuan itu setidaknya selesai merampungkan pendidikan S1.


Sayangnya semua itu tidak berjalan mulus, perusahaan bangkrut dan Pak Setyo meninggal akibat permainan taruhan yang selalu kalah. Ibu Rianti menjadi sakit-sakitan semenjak saat itu. Hingga menyebabkan perempuan itu bolak balik rumah sakit.


Satu-satunya jalan adalah membawa menantunya pulang ke rumah.


"Aku sudah tidak peduli lagi dengan anak itu, Ma. Aku sangat membencinya!" geram There penuh dendam.


"Kamu tidak boleh membencinya, Re, biar bagaimana pun kalian dibesarkan di lingkungan yang sama. Sedari kecil kamu juga dibiayai oleh keluarga Nessa, walaupun pada akhirnya Nessa membuat rumah tanggamu berantakan. Tapi kamu seharusnya berkaca pada dirimu sendiri yang tidak bisa memenuhi kebutuhan biologis suamimu."


"Aku sakit Ma, bukan tidak mau, kenapa tidak ada orang yang mengerti kondisiku!"


"Mama tahu kamu sakit, kalau kamu merasa sakit, kenapa kamu tidak mencoba berobat sungguh-sungguh untuk sembuh. Mama tidak membenarkan perbuatan adikmu dan juga mantan suamimu. Mama benci pelakor, tapi dalam hal ini, kamu seharusnya bisa menarik kesimpulan sendiri. Seandai tidak dengan Nessa, aku yakin Gama akan mencari perempuan lain jika kamu tidak berniat memperbaiki."


"Beberapa kali Mama menasihatimu, kamu anggap seperti angin lalu. Apa dengan kepergian Nessa rumah tanggamu bisa kembali utuh. Tidak kan? Sekalipun kalian rujuk, kalau kamu tidak berniat untuk melawan rasa takut dan mencoba,tentu semua sia-sia. Kalian hanya akan saling menyakiti bila terus bersama."


"Setidaknya kalau aku bercerai pun, Nessa tidak menikah dengannya. Aku tidak rela pelakor itu bahagia di atas penderitaan aku, Ma!" There yang keras kepala tetap dengan pendiriannya.

__ADS_1


Mama Rianti tak lagi banyak bicara, ia sendiri bingung menyikapi putrinya. Sesungguhnya Nessa yang selalu menjadi penyejuk saat There seperti pembangkang tak mau dibentuk.


__ADS_2