Main Hati With Iparku

Main Hati With Iparku
Part 54


__ADS_3

"Tahu dari mana tentang kehamilanku, aku belum pernah membagi hal ini pada siapa pun."


"Tentu saja pacar gelapmu yang membagi informasi penting itu. Aku yakin sekali, orang-orang Kak Gama pasti sebentar lagi akan menemukan kamu. Atau bahkan mungkin sudah menemukan tapi bersembunyi seperti aku. Jadi ... kamu tidak boleh menolak tawaran aku."


"Aku menghargai apa pun yang kamu lakukan untuk aku, Bim. Tapi aku tidak bisa melimpahkan masalah ini padamu. Bagaimana mungkin aku harus membuatmu bertanggung jawab, sedangkan ini bukan perbuatan kamu."


"Aku tahu kamu pasti menolak, apa kamu benar-benar siap kalau ibumu tersadar dan mengetahui kehamilan kamu dengan kakak iparmu. Biarkan aku membantumu, kita tidak harus terikat pernikahan sesungguhnya. Cukup menikah saja, tidak harus menbagi perasaan apa pun kalau itu tidak mungkin."


"Ini terlalu tidak adil untukmu, Bim. Aku tidak mungkin melibatkan dirimu sejauh ini. Aku tidak bisa," ujar Nessa terlihat galau.


Nessa tidak menyangka Bima bersedia menikahinya hanya karena kesalahan bodoh yang membuat kemelut masalah ini memuncak. Tapi sungguh, Nessa tidak ingin melibatkan semua ini dengan siapa pun.


"Aku tidak bisa," jawab Nessa lirih.


"Aku tidak akan memaksamu, tapi kalau suatu hari kamu butuh itu, aku akan siap menjadi suami pengganti."


"Pikirkan semua orang yang ada di sekitarmu, Nessa, mungkin ibu akan segera sembuh, dan There akan memaafkan dirimu. Aku tahu, kepergianmu untuk memberi ruang mereka untuk memperbaiki semuanya bukan?"


Bima benar, kehamilan dirinya akan menjadi pukulan terberat untuk ibu bila nanti mengetahui hal itu. Dia memang sengaja pergi, dengan kepergiannya berharap Mbak There dan Kak Gama bisa menyelesaikan masalah mereka dengan baik, bahkan mungkin kembali menjadi keluarga yang utuh.


Tidak seharusnya Nessa muncul dalam kehidupan mereka lagi. Tapi mungkin ceritanya akan berbeda, jika Nessa benar-benar menikah dengan orang lain.


"Tidak harus memikirkan itu cepat, tapi juga jangan terlalu lama. Aku tidak ingin kamu menjadi bahan gunjingan orang-orang tentang kehamilanmu nanti. Kita bisa bersandiwara menjadi pasangan yang baik. Kalau kamu keberatan, kita cukup menikah saja, setelahnya kita berpisah. Hanya merubah statusmu yang ada saat ini."


Nessa terdiam, terlalu berat untuk menyetujui hal itu. Ia membohongi diri sendiri, bahkan hatinya.


"Bisakah kita tidak membahas hal ini, aku sebenarnya lapar dan tidak bisa berpikir dengan lancar," ujar perempuan itu mengalihkan topik. Tapi memang sebenarnya ia sudah lapar.

__ADS_1


"Oke, kita makan. Cari makan di luar atau mau pesan saja," tawar Bima penuh solusi.


"Terserah dirimu saja, Bim. Memangnya apa yang tadi kamu belanjakan tidak ada makanan matang?"


"Tentu saja ada, ada banyak biskuit, susu hamil, dan berbagai buah-buahan dan cemilan sehat. Setidaknya gizi kamu harus terpenuhi walau tinggal di ruang sempit begini."


"Aku tahu tempat ini kalah jauh dengan apartemen kamu, tapi cukup nyaman. Berhubung kamu sudah beli bahan sebanyak itu, bagaimana kalau aku masak untuk makan malam kita."


"Ide menarik," jawab Bima semangat.


Mereka turun ke dapur umum dan bersiap mengeksekusi bahan makanan yang sudah dibeli. Ini adalah dapur umum untuk penghuni kost yang ada di sana. Siapa pun penghuni di sana boleh memakai dan setelahnya membereskannya.


Nessa sudah bersiap, ia mulai memanasi makanan kemasan cepat saji yang Bima beli. Tiba-tiba bau bumbu dapur yang menyengat menusuk aroma penciuman Nessa yang mendadak sensitif. Hingga membuat perutnya merasa diaduk-aduk ingin muntah.


Perempuan itu segera keluar dengan menutup mulutnya. Mencari kamar mandi untuk segera menumpahkan sesuatu yang bergejolak hebat.


Bima mengekor Nessa, pria itu membantu perempuan itu dengan memijit-mijit tengkuknya.


"Maaf, Bim, aku nggak kuat bau bumbu bawang," sesal Nessa di tengah rasa panas di ulu hatinya. Akibat muntah hingga akhir.


"Udah, nggak usah diterusin. Kita pesan saja. Ayo aku antar ke kamar," ujar Bima perhatian.


"Terima kasih, Bim," jawab Nessa lemas.


Rasanya tubuhnya tak bertenaga, hanya ingin rebahan sedikit saja. Pusing juga kembali menyapa saat tubuh itu merespon dengan mual dan muntah.


"Mau makan apa? Disesuaikn dengan selera ibu hamil saja, aku kurang paham."

__ADS_1


"Bubur kacang hijau kayaknya enak, boleh aku pesan itu?" pinta Nessa tanpa malu-malu.


"Boleh," jawab pria itu tanpa ragu. Segera memesan lewat aplikasi ponselnya.


"Bim, menurutmu, apakah Kak Gama akan mencariku?" tanya Nessa takut.


"Dia memang mencarimu, dan mungkin sama halnya seperti aku. Sudah menemukan dirimu dan mencari waktu yang tepat untuk mengunjungimu," jawab Bima santai.


"Aku benar-benar takut dia akan membawaku pulang menghadap orang-orang di rumah. Aku tidak ingin menemuinya, Bim. Bisakah kamu membawa aku pergi jauh? Aku tidak ingin bertemu dengannya dalam waktu dekat ini," ujar Nessa sungguh-sungguh.


"Kamu seperti buronan yang berpindah-pindah tempat. Kamu hanya cukup mengikuti rencanaku, Gama akan mundur teratur."


"Kenapa kamu menjadi begitu pemaksa?" ujar Nessa kesal.


"Aku tidak suka memaksa , Nessa! Jangan menuduhku!"


"Apa kamu juga akan meniduri sahabatmu kalau kita benar-benar menikah?"


"Pertanyaan kamu konyol sekali, pikir saja sendiri!" jawab Bima terkekeh seraya mengacak rambutnya pelan.


Sementara di tempat lain, Gama seminggu ini nampak kacau balau. Hilangnya Nessa nyaris membuatnya setengah gila. Pria itu tentu saja mengkhawatirkan perempuan dan bayi yang ada di dalam kandungannya.


Ia yang tidak bisa meninggalkan pekerjaannya berhari-hari terpaksa menyuruh orang untuk mencari pujaan hatinya. Kabar itu telah terendus dengan kekuatan uang tentu cepat terbagi informasi itu.


"Dia di kota Jogja Pak, dua hari ini bersama seorang pria yang cukup dekat!" lapor seseorang pada Gama.


Batinnya menggeram marah, kala melihat foto-foto kebersamaan mereka. Dia adalah Bima seseorang yang sudah Gama peringatkan untuk tidak mengambil kesempatan apa pun bila menemukannya. Bahkan Gama langsung berterus terang kalau saat ini, Nessa tengah mengandung anaknya.

__ADS_1


__ADS_2