Main Hati With Iparku

Main Hati With Iparku
Part 52


__ADS_3

Ketukan pintu sore itu dengan bel yang berbunyi menandakan betapa tidak sabarnya tamu itu di luar.


"Siapa sih yang datang sore-sore tanpa berkabar. Pengganggu sekali," gerutu Bima berjalan mendekati pintu.


"Nessa mana?" tanya Gama begitu pintu itu terbuka.


Bima jelas kaget, menemukan seorang pria dengan muka berantakan menyembul di balik pintu. Lebih tak percaya lagi mencari sahabatnya yang bahkan dua hari ini tidak berkabar.


"Dia tidak di sini, memangnya Nessa ke mana?"


"Bohong! Aku cari dia, kalau aku tahu tidak akan nanya!" kata Gama tak ramah. Seperti biasa langsung nyelonong masuk tanpa permisi.


"Kamu sembunyikan di mana, Bim, tolong kasih tahu saya, Nessa sedang sakit aku khawatir," mohon pria itu terlihat kacau.


"Berani bersumpah, Nessa tidak ada di sini dan kami sudah lama tidak bertemu. Terakhir berkabar dua hari yang lalu. Dia mengeluh sibuk dan aku pun sedang sibuk. Aku malah tidak tahu kalau Nessa sakit. Dia nggak ada cerita apa pun," terang Bima ikut khawatir.


"Aku tidak ingin percaya terhadap dirimu, kamu adalah satu-satunya orang yang terdekat dan selalu tahu. Tolong Bim, aku harus ketemu."


"Aku bilang nggak tahu, dia tidak ke sini?"


Bima ikut panik, jelas ia khawatir. Pria itu pun mencoba menghubungi ponselnya, namun tak terhubung. Sepertinya Nessa sengaja mematikan ponselnya.


"Ah sial! Kenapa aku tidak tanya keadaannya kemarin terakhir telepon."

__ADS_1


Kedua pria dewasa itu masih terdiam dengan pikiran yang kacau. Bima memang kurang suka dengan Gama, tapi pria itu bukan semacam mengandung asas kebencian terhadap sesama.


"Aku akan bantu mencari, kabari aku juga bila Nessa sudah ketemu. Aku khawatir padanya," ucap Bima jujur.


Gama hanya terdiam, pergi dengan lesu. Pria itu kembali ke rumah pribadinya dengan hati yang begitu kacau.


***


Nessa memutuskan untuk menepi, ia butuh suasana baru untuk menenangkan pikirannya. Hatinya begitu kacau saat ini, walaupun fisiknya masih sedikit lemah, ia harus kuat menjalani hari. Dia tidak punya siapa-siapa sekarang, hanya seorang diri. Tiba-tiba ia begitu rindu dengan ayah dan ibunya yang Nessa sendiri tidak tahu wajah mereka.


Perempuan itu pergi setelah menulis sebuah surat untuk There dan juga ibu. Berharap ibu segera sembuh dan bisa pulang secepatnya. Perempuan itu pergi ke kota yang cukup jauh dengan kota Jakarta. Memulai kehidupan baru di tengah orang asing yang jelas-jelas Nessa buta tempat itu.


Selain pertimbangan ada sanksi soasial yang harus ia terima. Nessa tidak siap dengan rundungan terhadap dirinya yang orang-orang lontarkan mengingat saat ini tengah hamil tanpa seorang suami. Ini lah yang harus perempuan itu hadapi. Atas apa yang telah ia perbuat sebagai penyesalan yang tiada berarti. Nessa akan merawat seorang diri sebagai hukuman atas dirinya yang telah membuat hidup orang lain susah.


Walaupun Gama berniat bertanggung jawab terhadap anak ini. Nessa tidak pernah bisa hidup tenang dengan penyesalan yang telah ia ciptakan sendiri. Dosa yang telah ia perbuat selama ini.


"Penghuni baru?" tanya perempuan berkisar seumurannya.


"Iya, salam kenal, saya Nessa. Baru kemarin pindah ke sini."


"Hallo, Aku Nawang, tapi bukan Nawang Wulan. Salam kenal!" Keduanya saling berjabat tangan.


"Asal dari mana?"

__ADS_1


"Jakarta," jawab Nessa ramah.


"Aku juga Jakarta."


Dua perempuan yang nampak langsung akrab itu saling bercerita alamat, tempat tinggal sebelumnya, dan juga pekerjaan. Nessa menjadi sedikit terhibur dan tidak kesepian, rupanya di tempat yang baru ia langsung mendapatkan teman.


"Kakak udah kerja?"


"Kuliah semester akhir, sedang skripsi dan ingin suasana baru," jawab Nessa jujur.


Ia memang tidak berniat tinggal di sini selamanya. Hanya untuk singgah mungkin beberapa bulan mengingat dirinya harus menyelesaikan pendidikannya. Saat ini Nessa butuh suasana baru, suasana yang bisa membuatnya tenang.


"Aku juga mahasiswa semester akhir. Semoga kita bisa jadi teman ya?" ucap perempuan itu.


Beberapa hari tinggal di Jogja, Nessa tidak begitu merasakan perubahan cuaca yang berarti. Di sana juga panas seperti Jakarta, jadi cukup mudah untuk menyesuaikan diri.


Hari-hari Nessa sibuk untuk menggarap skripsi. Perempuan itu masih peka dengan pendidikannya sendiri. Walaupun pesimis mungkin tidak akan lulus tahun ini mengingat kondisinya saat ini. Perempuan itu menyibukkan diri dengan hal lain yang bisa membuatnya lupa dengan permasalahan yang tengah ia hadapi.


Terkadang menyempatkan diri hanya untuk berjalan-jalan di pantai untuk menghibur diri.


"Kamu kerja di sini?" tanya perempuan itu.


"Jualan pakaian di sini? Sebenarnya ikut paman untuk mengisi waktu luang saja. Ke kampus paling untuk bimbingan dan skripsi, jadi sebelum dapat kerja lumayan bantu-bantu jualan di sini," jelas Nawang.

__ADS_1


Mereka tengah berjalan-jalan di pinggir tepian pantai. Sudah beberapa hari Nessa sering mengunjungi tempat ini. Rasanya begitu berbeda ketika menatap lautan yang bebas, seakan beban itu berkurang sedikit lebih baik.


"Ness, kemarin ada cowok nyariin kamu? Kamu lagi di mana ya? Nungguin seharian."


__ADS_2