
Usai pamit dengan semua orang rumah, Nessa dan Gama langsung bertolak ke rumahnya. Sebelumnya perempuan itu juga mampir ke kost mengambil barang yang tertinggal dan pamit sekalian.
"Ada yang mau dibeli nggak? Mumpung masih di jalan?" tawar pria itu mengingatkan. Barangkali ada sesuatu yang hendak dibawa pulang.
"Apa ya? Banyak sih sebenarnya buat keperluan rumah. Aku nggak tahu di rumah kamu ada isinya apa saja."
"Rumah kita sayang, rumah kita berdua. Kalau keperluan dapur kayaknya kulkasnya kosong, tapi kalau lain-lain apa ya seperti perlengkapan masih ada."
"Mau belanja sekalian? Atau gimana?"
"Mampir nggak pa-pa deh besok malah bingung bikin sarapan kalau rumah nggak ada stok."
Akhirnya Gama mengiyakan keputusan Nessa dan melajukan mobilnya ke super market. Menjalani rumah tangga sesungguhnya tentunya tidak serta kebutuhan ranjang saja, butuh sembako beserta kawan-kawannya untuk keberlangsungan hidup. Perempuan itu akan menyenangkan suaminya dengan membuat menu sendiri setiap hari.
Usai memastikan mobilnya dengan benar, keduanya turun dan langsung menuju pintu masuk. Mengambil keranjang terlebih dahulu sebagai tempat belanjaan.
"Ke mana dulu nih," ujar Gama memberi pilihan.
"Mana aja Mas, kamu milih sekalian mau belanja apa."
Gama mengikuti istrinya melewati gondola, memperhatikan Nessa mengambil beberapa perlengkapan dapur dan lainnya. Mulai dari sayuran hijau, sampai aneka olahan daging dan bumbu praktis. Tak lupa bahan pokok penting lainnya.
__ADS_1
"Mas, aku mau beli buah segar. Kalau Mas capek bisa tunggu sini aja, aku mau ke sana!" tunjung perempuan berhijab ungu itu. Berjalan menuju tempat aneka buah-buahan dengan aneka jenisnya.
"Capek nanti ada yang mijitin, nggak khawatir lagi. Hehehe."
"Ikh ... maunya," balas Nessa tersenyum.
Nessa mengambil beberapa buah, Gama ikut memilih lalu memasukkan dalam wadah. Kegiatan yang cukup membosankan sebenarnya bagi seorang Gama, tapi jika dilakukan dengan istri tercinta terasa berbeda. Semua berasa enteng dan tidak ada capek-capeknya.
"Eh, Pak Gama!" sapa Livy tanpa diduga bertemu di dekat kasir.
"Livy? Lagi di sini juga?" balas Gama kalem.
"Iya dong, lagi belanja ya? Wah ... akhirnya jadi juga sama mantan adik ipar," cibir ya terlihat tidak senang.
Nessa sendiri tidak menimpali, ia sedikit terlihat kesal namun lekas menutup mata dan pendengaran. Toh memang kenyataannya seperti itu, jadi untuk apa harus sakit hati."
"Eh, ya, senang bertemu dengan Anda Pak, terima kasih sekali dobel pesangonnya. Apa itu termasuk tips lainnya?" kata perempuan yang dulu pernah menjadi sekretarisnya.
"Sama-sama, semoga bermanfaat uang dari perusahaan, ke depannya lagi kalau kerja bisa lebih amanah. Eh ya satu lagi tidak ada bonus tambahan apalagi untuk pegawai yang main belakang," ucapnya cukup gamblang.
Perempuan itu tersenyum miring, "Selamat untuk pernikahan kalian, semoga kali ini langgeng walaupun saya sendiri tidak menjamin hal itu. Kalau dulu saja bisa sama saya, saat tengah ditinggal Nessa, bukan berarti besok saat bersama Nessa bisa dengan yang lainnya lagi." Livy tersenyum datar.
__ADS_1
Gama tak menyangka perempuan yang dulu sangat baik dikenalnya berbicara sedemikian mencengangkan. Bisa-bisanya berkata demikian yang bisa saja menyebabkan istrinya salah paham. Sudah cukup gegara insiden itu dirinya bahkan harus terpisah lama tanpa kepastian. Hingga sampai di titik sekarang, semua tidak mudah ia lalui.
Melihat Nessa yang hanya diam dengan raut wajah tak senang. Pria itu langsung meraih tangannya. Namun, perempuan itu begitu perasaan terkadang omongan orang yang jelas mencela benar-benar dicerna hingga membuatnya terbawa perasaan.
Rasanya dada itu mendadak nyeri kembali, cukup terusik dengan perkataan wanita yang pernah menjadi rekan kerjanya. Apakah memang benar dulu mereka pernah ada hubungan? Kenapa jadi suudzon begini.
Ness berlalu begitu saja, enggan menimpali perempuan itu sembari mendorong troli yang sudah penuh barang belanjaan. Perempuan itu mengantri di kasir. Gama mengikuti dengan langkah lebar, hatinya mendadak tidak enak hati. Takut istrinya akan merasa cemburu lagi atas dugaan itu. Sepertinya Livy sengaja berkata seperti itu lantaran dirinya masih kesal atas pemecatannya tempo dulu.
"Sayang tunggu, ini kartunya," ujar pria itu menyodorkan pada istrinya.
Nessa mengambil begitu saja dari tangan Gama tanpa berbicara. Pria itu mendadak waswas melihat muka juteknya. Apalagi saat tengah memasukkan belanjaan tersebut ke dalam keranjang untuk dibawa ke mobil enggan dibantu olehnya.
"Sayang, biar aku saja, ini berat," ujar pria itu pengertian.
Nessa membiarkan saja, lalu berjalan menuju mobilnya. Masih enggan berbicara malah terlihat sibuk dengan ponselnya.
"Kamu marah? Apa hukuman kemarin belum cukup untuk ujian cinta kita. Sampai di titik ini kamu masih tidak percaya? Aku memilih dirimu, bahkan aku seperti orang tak tahu arah sejak kamu pergi tanpa kabar. Aku bersyukur Tuhan mempertemukan kita kembali, memberi jalan untuk kita memperbaiki semuanya."
Gama meraih tangannya, kedua netra itu saling menatap dalam diam. Mungkin semua memang telah melebur seiring berjalannya waktu, hanya saja perasaan itu kadang muncul dengan rasa tidak percaya diri.
"Aku percaya sama kamu, Mas, maaf, mungkin aku masih sedikit kesal," ucap perempuan itu pada akhirnya.
__ADS_1
"Jika aku bisa, aku akan kembali merubah takdir cinta kita yang rumit dari awal perasaan itu tumbuh. Ternyata Tuhan punya cara sendiri untuk tetap menjadikan kamu dari separuh tulang rusukku yang pergi." Membawa tangan itu dalam genggaman lalu menciumnya penuh perasaan.