
Gama terus menemani Nessa di rumah sakit selama masa perawatan. Ia melimpahkan pekerjaannya pada Bayu untuk sementara. Pria itu menerima setiap laporan yang dikirim oleh asistennya.
"Kak, kalau mau kerja nggak pa-pa tinggal aja. Aku bisa sendiri," ujar Nessa merasa tak enak.
"Apa sih Sayang, aku mana tenang ninggalin kamu sendirian di rumah sakit. Kalaupun ditinggal nanti setelah pulang."
"Pekerjaan kamu jadi terbengkelai gegara aku, emang nggak pa-pa?"
"Aku bisa kerja dari rumah kok, hasil meetingnya nanti disambungkan sama Bayu biar aku bisa ngikutin. Kamu prioritas aku sekarang, jangan banyak pikiran biar cepet pulih. Setelah nikah, semoga kita dapat kepercayaan lagi dari Tuhan. Kamu bisa hamil lagi," ucap Gama menenangkan. Pria itu mengikis jarak lalu mencium kening Nessa penuh perasaan.
Tiba-tiba pintu kamar terbuka begitu saja. Seseorang tanpa sopan santun nyelonong dengan raut muka khawatir. Sialnya masuk disaat tidak tepat karena memergoki adegan romantis keduanya.
"Ish ish ish ... lagi sakit bukannya jaga jarak, malah mepet-mepet mulu. Kerja sana! Ini jam kerja woe!" interupsi Bima menyela.
"Ngapain ke sini? Gangguin aja, heran! Dasar tamu tak diundang!"
"Nessa, bagaimana keadaan kamu? Ya ampun ... sampai harus nginep lagi?" Bima yang cuek dan dingin itu selalu perhatian number one dengan Nessa.
Pria itu langsung mendekat memeluk sahabatnya dari arah samping berlawanan dengan Gama. Pemandangan yang membuat Gama jengkel sebenarnya, tapi Bima selalu tidak peduli.
__ADS_1
"Apa calon anak kita selamat? Aku bersedih untuk hal ini, sungguh aku sudah menyayanginya semenjak ia baru tumbuh."
Gama mendelik mendengar Bima menyebut 'calon anak kita' seakan-akan pria itu mengakui dengan percaya diri.
"Heh! Minggir sana, nempel mulu sama calon istri orang!" usir Gama geram.
"Nessa butuh aku, dia sedang berduka. Jangan membuatnya bersedih, aku menyayangkan kenapa ini harus terjadi, seharusnya kamu menjauhkan Nessa dari mantan kamu yang setengah gila itu."
"Kejadiannya begitu cepat, aku nggak nyangka There sekasar itu. Aku tahu dia sakit hati, tapi perbuatan dia sudah diluar kendali. Aku mau melaporkan kekerasan ini," geram Gama begitu jengkel.
"Kak!" Nessa menggeleng tak setuju.
"Jangan Kak, aku tahu kakak kecewa, aku tahu kakak marah. Jangan laporin Mbak There, kasihan mama sendirian, dia melakukan itu pasti karena tak sengaja, belum tahu aku hamil."
Nessa tetap tidak setuju, membuat Gama tidak bisa melangkah jauh. Terlebih Bu Rianti juga meminta maaf atas kejadian itu. Membuat Gama lemah tindakan.
"Kamu baik banget sih jadi orang, seharusnya memang dari dulu kamu yang aku nikahi, aku salah tag kayaknya."
"Bukan hanya salah, tapi salah kaprah. Beruntung kamu udah lepas, tapi yang menjadi pertanyaan, kok kamu bisa bertahan sampai tiga tahun. Hmm ... servisnya memuaskan ya?" seloroh Bima tak tahu aturan.
__ADS_1
Pria itu selalu berbicara asal menganga tanpa saringan. Membuat kuping tetangga yang mendengar geli sendiri.
"Kamu mau coba? Sana sok, siapa tahu beruntung!" Sebodo amat pria itu ikut terbawa geram. Tidak mungkin juga menjelaskan hal di luar kepentingannya. Gama malah berharap There bisa sembuh dan nantinya mempunyai keluarga yang normal dan bahagia.
"Haha! Bekasan kamu? Astaga! Lucknut!" Pria itu terkekeh dengan gelengan gurauan.
Segarangan garangannya Bima, sepertinya ia tidak akan doyan model kaya There. Banyak di luar sana cewek-cewek imut yang ngantri padanya. Walaupun belum pernah bertemu dengan yang segelan. Mungkin ia akan tobat dan serius nanti pada satu wanita yang bisa meluluhkan batin dan raganya.
Gama tak menimpali, pembahasan soal There sama sekali bukan topik menarik. Pria itu hampir tidak pernah dan bahkan enggan menyebut namanya.
"Ness, habis dari rumah sakit pulang ke apartemen aku aja ya? Biar aman, aku pasti akan menjagamu," ujar pria itu menganggap Gama ketilep angin lalu. Tak ada sama sekali dan memang sengaja menawarkan bantuan itu lantaran peduli dan sayang.
"Ghem! Ghem!"
Gama berdehem cukup keras untuk menginterupsi perkataan si sontoloyo yang tak tau diri itu. Bagaimana sikapnya yang tulus, namun selalu membuatnya kesal.
"Nggak usah berdehem juga Gam, aku menawarkan kemanisan dan akan tetap memberikannya madu. Apakah kamu siap untuk lebih memberikan gulali yang legit?"
"Aku rasa, kamu hanya akan membuat Nessa pada posisi yang rumit."
__ADS_1
"Mulut kamu manis, tapi berbisa. Muak tahu nggak? Nessa sudah aku tempatkan di suatu tempat yang paling nyaman. Yaitu ratu di hatiku."
Seketika Bima muntah udara, kedua pria yang tidak saling akur dan suka berseteru itu terus membujuk agar Nessa pulang ke tempat menurut pilihannya. Baik Gama maupun Bima, sama-sama kekeh memenangkan hati Nessa.