Main Hati With Iparku

Main Hati With Iparku
Part 72


__ADS_3

"Terima kasih sudah mengantar," ucap Nessa saat turun dari mobil. Mengangguk ramah pada keduanya, namun tak sekalipun menatap Gama dengan detail. Berbeda dengan pria itu yang masih terpaku menyorotnya tanpa berkedip.


"Sama-sama Ness, aku harap akan ada pertemuan-pertemuan selanjutnya setelah ini," ujar Bayu balas tersenyum ramah.


Perempuan itu melambaikan tangan perpisahan, dan masuk ke sebuah halaman berpagar yang bertuliskan kost khusus putri. Tidak bisa sembarangan tamu cowok masuk, seketika Gama merasa sedikit lega. Walaupun tidak bisa berkunjung sesuka hati, ia tahu Nessa berada di lingkungan yang baik.


"Bisa jalan sekarang, Pak!" interupsi Bayu. Gama mengangguk dengan gamang. Rasanya pertemuan itu terlalu singkat, sekejap saja dan semakin membuatnya tambah merindukan.


"Aku tahu Bapak masih ingin stay, tetapi seperti yang kita lihat, Mbak Nessa sudah berhijrah, jadi—syarat darinya bisa Bapak pertimbangkan. Jujur saya sendiri kagum, Pak, seperti kriteria calon istri masa kini yang semakin langka," ujar Bayu blak-blakan.


Keduanya akan terlihat formal di setiap kesempatan, namun tak jarang menjadi sangat akrab bagai teman melebihi saudara. Semua yang berkaitan dengan Gama sang asisten yang handle.


"Bay, aku semakin kagum padanya, saat ini dia dekat tapi aku merasa jauh. Apakah aku bisa menggapainya yang saat ini bahkan sudah tidak sama."


"Sepertinya Bapak harus mencoba mengetuk pintu langit untuk mendekatinya. Nessa sekarang lebih anggun dan santun, saya yakin selama ini melewatinya tidak mudah. Seperti halnya Bapak, namun perempuan itu bisa move on dengan baik. Mengesampingkan urusan dunia, dan lebih dekat dengan sang Pemilik Kehidupan," jelas Bayu bijak.


Entah belajar dari mana asistennya itu, ia begitu pandai merangkai kata dengan porsi yang pas didengar.


"Aku sudah lama lalai, aku merasa malu ketika bertatap masih dengan Gama yang dulu. Penuh dengan kubangan dosa. Rindu ini akan bertemu dengan pemiliknya setelah halal nanti. Antar aku ke tempat yang bisa membimbingku, Bay," ucap Gama sungguh-sungguh.


"Bapak tidak boleh melakukan sesuatu karena terpaksa. Apalagi dekat dengan-Nya hanya karena ria ingin menarik simpati Mbak Nessa. Dia terlalu pintar menelaah semua ini, saya takut Bapak akan kecewa berkelanjutan."

__ADS_1


"Aku paham, Bayu. Aku hanya lalai, bukan berarti tidak punya Tuhan."


"Apa Bapak benar-benar merasa sudah sehat, kemarin sangat memprihatinkan dan menyedihkan," cibir Bayu benar adanya.


Ternyata pengaruh Nessa sungguh luar biasa, mungkin kah itu yang dimaksud mala rindu, hanya akan sembuh jika bertemu. Ingin tidak percaya, namun kenyataannya begitu.


"Aku merasa sudah lebih Vit, dan siap beraktivitas. Aku akan menunjukkan pada Nessa, kalau aku layak untuk menjadi imamnya."


Keduanya lantas tidak langsung pulang, melainkan mobil terus melaju hingga terparkir tepat di halaman sebuah masjid yang lumayan besar.


"Ini adalah tempat yang paling cocok untuk mengasingkan diri."


"Tinggal di sini?" tanya Bayu tidak yakin.


Suara salam menggema menghaturkan niatan yang tulus pada jiwa-jiwa pengembara nan gersang.


"Waalaikumsalam!" jawab seseorang di balik kopyahnya.


Pria bersahaja yang masih kelihatan begitu muda itu menyambut dengan ramah. Dia adalah Gus Aka, pemilik pesantren yang Gama dan Bayu kunjungi.


"Silahkan masuk!" ujar pria itu santun.

__ADS_1


"Terima kasih," jawabnya tak kalah ramah.


Gama memang perlu guru spiritual yang tepat, dan tempat ini seperti mengantarkan dirinya pada langkah yang tepat. Tidak ada salahnya belajar di usia sekarang. Ia pun mulai menceritakan maksud dan tujuannya datang ke tempat itu. Membuka tabir dirinya yang dengan rendah diri ingin memperbaiki.


"Insya Allah dipermudah, sudah ada niat pasti dapat jalan. Yakin saja dan serahkan pada Allah, dia maha membolak-balikkan hati manusia, semakin dekat dengan-Nya semakin mudah pula urusannya. Karena kita tidak akan lagi tergantung pada manusia, namun pada-Nya," jelas Pak Uka kalem.


Belakangan Al Hasan menjadi tempat favoritnya Gama. Pria itu akan rajin berkunjung untuk belajar lebih semangat lagi tentang arti kehidupan yang hakiki. Sering mengikuti kajian-kajian di setiap kesempatan.


Perlahan pola hidup pria itu pun lebih dinamis. Balance antara dunia dan urusan akhirat. Ia lebih ke konsep mengetuk pintu langit dengan doa. Kendati demikian, ia tak lupa mencari tahu perkembangan Nessa lewat Bayu. Sungguh, Gama selalu ingin tahu tentang perempuan itu.


"Kapan perusahaan kita akan bertemu lagi dengan perusahaan Pak Abi," tanya Gama.


"Kemarin sudah menghubungi kami, Pak, dan sepertinya di acc. Mungkin kita akan banyak melakukan pertemuan berkelanjutan."


"Aku masih sulit mengendalikan diriku ini, Bay. Aku ingin segera menghalalkan rinduku di tempat yang tepat. Bantu aku untuk mengatur waktunya."


Sedikit susah juga mengingat Nessa seorang diri tanpa wali. Jadi pria itu merasa tidak ada kesempatan untuk PDKT dengan keluarganya yang seharusnya menjembatani.


"Assalamu'alaikum ....!" Sore itu Nessa dikagetkan dengan sapaan salam seorang perempuan paruh baya.


"Waalaikumsalam! Tante Marta?"

__ADS_1


"Iya, maaf kalau Tante mengganggu, sebenarnya kedatangan Tante ke sini hanya ingin lebih dekat mengenalmu. Malam ini Tante pingin ngundang kamu makan bersama di rumah Tante, bisa kan?"


"Insya Allah bisa Tante," jawab Nessa tersenyum ramah.


__ADS_2