Main Hati With Iparku

Main Hati With Iparku
Part 78


__ADS_3

Gama menatap dalam diam, membelai lembut pipinya. Perempuan itu terpejam menikmati sentuhan halus itu. Tak perlu menunggu lama, pria itu langsung mendekat lebih rapat setelah menggumamkan doa lalu menciumnya.


Hatinya berdesir penuh keharuan, rasa yang begitu mendamba terbayar sudah dengan apa yang ada di depan mata. Indah, semua yang nampak sekarang adalah halal baginya dan menambah pahala. Pria itu mulai melepas satu persatu kain yang menutupi tubuhnya, hingga semua nampak jelas begitu nyata.


Ini bukan yang pertama untuk mereka, namun apa yang terjadi malam ini lebih dari segalanya. Terutama ketenangan hati yang begitu terasa. Luar biasa bahagia dan nyaman.


Pria itu kembali merapatkan diri, menatap redup dengan kabut gair@h di matanya. Menyingkirkan tangan istrinya yang sengaja menutupi keindahan yang nampak gagah di depan mata.


Pipi perempuan itu nyemburat merah, malu sekaligus bahagia. Tak bisa berkata, hanya mampu terpejam menikmati setiap sentuhan lembut yang tercipta dari tangan terampil suaminya.


Pria itu menatap dengan lapar, setelah sekian lama berusaha menahan diri akhirnya malam ini pria itu bisa menuntaskan syahwatnya di tempat yang halal lagi berkah. Pria itu bertamu dengan sangat sopan. Mengabsen dengan sangat lembut kulit tubuh istrinya yang begitu memabukkan. Semua tak terlewati sedikit pun, menyusuri setiap inci tanpa terkecuali.


Ruangan yang seharusnya dingin ber-AC itu berubah menjadi panas untuk keduanya. Kedua sejoli itu begitu bersemangat melakukan ibadah malam itu.


Nessa sampai mengigit bibir bawahnya demi meredam lenguhan panjang yang tak bisa ditahan.


"Jangan digigit, nanti berdarah. Maaf, aku akan pelan-pelan," ujar pria itu meredam dengan mempertemukan napas mereka.


Perempuan itu hanya mengangguk pasrah, sembari mencari tumpuan untuk tangannya. Hingga keduanya mencapai misi yang sama dalam hentakan nada yang selaras. Menyatu dalam balutan cinta yang menggebu penuh kenikmatan. Pria itu tersenyum puas menatap wajah ayu istrinya yang terkulai lemas. Lalu menciumnya dengan penuh perasaan.


Gama masih menciumnya dengan gumaman terima kasih dan rasa syukur. Pria itu benar-benar bahagia seutuhnya. Berharap apa yang ia siram malam ini bisa tumbuh zuriat yang sudah diinginkannya sejak lama.


"Mas, itu punggung kamu merah banget, maaf sakit ya?" sesal Nessa tak bisa menguasai diri. Hingga tanpa sadar melukai punggung pria itu. Bekas kukunya nampak jelas menghiasi tubuh berototnya.

__ADS_1


"Nggak pa-pa kok, impas kayaknya, kamu juga nggak yakin besok bisa jalan. Maaf, aku terlalu bersemangat!"


"Duh ... aku kok malah khawatir kamar tetangga denger ya Mas, padahal udah nahan-nahan banget tadi," curhat Nessa merasa cemas. Bisa malu besok pagi kalau aktivitas mereka sampai ke kuping tetangga.


"Nggak tahu, bisa jadi, lihat bibirnya?" Gama kembali meneliti.


"Kamu gigit kenceng banget tadi, sakit."


"Nggak kok, lebih sakit punya kamu yang nusuk-nusuk. Eh! Jujur banget aku. Hihihi."


"Mau lagi?" tawar pria itu terkekeh kecil.


Nessa menatap horor suaminya yang cengengesan tidak jelas.


"Tidur Mas!"


"Hmm ...."


Tepat kumandang subuh menyapa, Gama terjaga sepenuhnya. Pria itu tersenyum saat melihat sisi kasur menemukan seorang perempuan di sampingnya. Sejenak memperhatikan, mengikis jarak lalu menempelkan bibirnya tepat di kening istrinya.


Bangkit dari pembaringan langsung menuju kamar mandi dengan semangat empat lima. Pagi ini rasanya tubuhnya begitu prima. Usai bersih-bersih untuk dirinya, pria itu kembali ke ranjang untuk membangunkan istrinya.


"Pagi Sayang, assalamu'alaikum ... sudah subuh ayo bangun!" ujar pria itu sembari membelai mahkotanya.

__ADS_1


"Mas, kamu udah bangun? Jam berapa ini? Apa aku kesiangan?" tanya perempuan itu bangkit dari pembaringan.


"Waktu subuh sayang, mandi dulu aku udah siapin air hangat untukmu. Aku ke masjid dulu ya? Kamu bisa sholat di rumah," ujar pria itu bergegas.


Nessa melakukan hal yang sama, bebersih diri lalu segera mengerjakan dua rakaat wajib sebagai umat muslim. Setelahnya, bingung sendiri mau mengerjakan apa. Hari masih terlalu pagi untuk mengerjakan sesuatu. Setelah beberapa saat, perempuan itu memutuskan untuk bangun. Kali aja ada yang harus dikerjakan di dapur, atau sekedar membuat teh hangat.


Nessa baru saja menyeduh teh manis ke dalam gelas ketika tiba-tiba seorang wanita seumuran tidak jauh dari mertuanya mendekat.


"Pagi pengantin baru?" sapa seorang ibu muda yang kemarin dikenalkan sebagai adiknya Bu Marta.


Nessa balas tersenyum, "Pagi Tante, Tante mau teh atau kopi? Kebetulan Nessa bikin minun," tawar perempuan itu sopan.


"Wah ... malah jadi ngrepotin, nanti bikin sendiri saja. Ngomong-ngomong gimana semalam?" Perempuan itu mengerling.


"Gimana—semalam?" Nessa mendadak bingung.


Belum sempat menjawab untung saja Gama pulang langsung menghampiri. Jadilah atensi kekepoan orang itu teralihkan.


"Bikin apa? Mau dong," pinta pria itu mengambil alih dari tangan istrinya. Lalu menyeruputnya begitu saja.


"Eh, itu udah aku minum, Mas, biar aku buatin yang baru saja," ujar Nessa sungkan.


"Jangankan bekas kamu sayang, semua yang ada pada dirimu sudah membuat aku candu," bisik pria itu seduktif.

__ADS_1


__ADS_2