Main Hati With Iparku

Main Hati With Iparku
Part 42


__ADS_3

"Aku tidak meminta dijemput, dia sudah di depan aku tidak enak menolak," kilah Nessa benar adanya.


"Kamu sengaja membuat jarak di antara kita, setelah semua yang terjadi?"


"Aku tidak punya pilihan. Kalau kakak tidak bisa membuat batasan di rumah? Aku mau dekat dengan Rasyid."


"Kamu gila ya? Bagaimana kalau pria itu semakin menaruh harapan terhadapmu. Kamu mempermainkan perasaan orang lain, Nessa!"


"Tidak lagi, aku akan menerima perjodohan ini asal Rasyid mau menerima aku apa adanya," jawab Nessa cukup berani.


Gama menatap kesal pada adik iparnya. Perkataan Nessa jelas menjadi ancaman untuk dirinya yang saat ini bahkan tengah dimabok cinta padanya. Jelas saja ia cemburu, tidak rela nantinya Nessa disentuh orang lain. Membayangkan saja membuatnya geram.


"Oke, di rumah sesuai aturan kamu, di luar rumah sesuai aturan aku," jawab Gama mengalah.


Mereka saling diam dalam keheningan. Tak ada lagi perdebatan setelah mereka sama-sama keluar dari lift.


"Kunjungi aku di ruangan saat makan siang," pesan Gama lalu.


Nessa tersenyum dengan anggukan. Kembali ke meja kerja. Ini adalah minggu terakhir Nessa magang setelah hampir tiga bulan. Gama merekomendasikan gadis itu untuk menjadi karyawan tetap perusahaannya. Namun, Nessa belum mengambil keputusan untuk itu.


Siang hari saat jam istirahat, Nessa dikagetkan dengan kedatangan There di kantor.

__ADS_1


"Siang Ness!" sapa There ramah.


"Mbak There?" balas Nessa terlihat kaget. Untung saja perempuan itu belum masuk ke ruangan Gama, bisa tamat riwayatnya kali ini.


Perempuan itu berjalan elegan masuk ke ruangan suaminya. Gama yang hendak keluar pun mengurungkan niatnya melihat istrinya datang dengan membawa makan siang untuknya. Gama tak bisa mengelak, dan tak bisa menolak. Terpaksa makan siang bersama There di kantor siang itu dengan pikiran memikirkan Nessa.


"Kamu tidak pulang?" tanya Gama setelah menghabiskan makan siang bawaannya.


"Kamu tidak suka aku berlama-lama di sini? Kenapa tidak tanya kegiatan aku tadi?" tanya There dengan manja.


"Bukan begitu, hanya saja aku sedang kerja. Pemotretan?" tebak Gama yakin.


"Iya, tapi aku hanya akan mengambil job yang dekat saja. Setelah ini aku mau menemui dokter, apakah kamu bisa menemaniku?" tanya There penuh harap.


Sejujurnya ia kasihan kalau melihat istrinya begitu semangat. Sayangnya hanya rasa kasihan yang tersisa, karena sisa cinta itu nyaris menghilang setelah sekian lama diabaikan.


"Baiklah aku akan menunggunya di sini sampai kamu selesai," ujar There sedikit ngeyel.


"Terserah, setelah ini aku ada rapat, kalau kamu tetap mau menunggu ya tidak apa-apa," ucap Gama datar.


There seperti tak peduli, ia menangkap gelagat curiga semenjak suaminya mengatakan ingin pisah darinya. Perempuan itu perlu mengintai aktivitasnya di kantor.

__ADS_1


Setelah Gama meninggalkan ruangan, There buru-buru memeriksa meja kerjanya. Tidak menemukan apa pun yang perlu dicurigai, atau mungkin belum. Perempuan itu merasa ada yang disembunyikan oleh suaminya. Gama biasanya akan terlihat manis di setiap kesempatan, tapi belakangan ini menjadi sangat cuek padanya.


Pria itu sudah berada di ruang rapat, pikirannya sedikit kacau. Namun, setelah melihat kemunculan Nessa di antara karyawan lain dengan senyum yang merekah manis, membuat hati dan pikiran pria itu seketika lebih tenang. Sebegitu pengaruhnya sosok Nessa saat ini. Sampai-sampai ia tidak bisa berpaling sedikit pun dari sosok perempuan itu.


***


"Sudah selesai Mas, ayo pulang," rengek There sore hari.


"Hmm, sebentar lagi, kamu kalau jenuh bisa pulang lebih dulu."


"Aku sudah menunggu dari tadi, akan sangat percumah kalau pada akhirnya aku tetap pulang sendiri," ujarnya kesal.


Hampir petang pria itu meninggalkan kantor, anak-anak lainnya juga sepertinya sudah pada pulang. Terlihat Nessa baru saja keluar gedung, buru-buru Gama menghentikan mobilnya melihat Nessa yang sepertinya tengah menunggu taksi.


"Kenapa berhenti Mas!"


"Kamu tidak lihat, adikmu tengah menunggu kendaraan melintas."


"Masuk Ness!" seru Gama menurunkan kaca mobilnya.


Nessa mengangguk tanpa menyela, lagian di mobil ada Mbak There jadi malah akan terasa lucu bila menolak saat dirinya memang butuh tumpangan. Gadis itu mengangguk lalu masuk. Duduk tepat di belakang jok supir.

__ADS_1


Sepanjang perjalanan There banyak membuat obrolan. Sesekali Gama menyahut, Nessa sendiri hanya menyimak dan menjadi pendengar setia. Gadis itu menyibukkan diri dengan membuka ponselnya. Lebih dulu membalas pesan Rasyid agar tidak menjemputnya karena sedang perjalanan pulang. Sesekali Gama melirik spion lewat pantulan cermin belakang. Mengamati dengan detail wajah kekasihnya.


Nessa yang tengah sibuk menggeser-geser layar, hampir memekik kalau saja tidak segera menutup mulutnya sendiri. Dengan tidak sopannya gadis itu dikagetkan dengan tangan Gama yang menjulur ke belakang lewat samping jok, memainkan pahanya.


__ADS_2