Main Hati With Iparku

Main Hati With Iparku
Part 59


__ADS_3

Setelah dibujuk tanpa lelah, akhirnya Nessa mau pulang. Hari itu Nessa memutuskan untuk pulang ke Jakarta. Sebenarnya bukan cuma itu saja, Nessa juga ada perlu ke kampus.


"Terima kasih sudah mau ikut," ucap Gama tersenyum lega. Pria itu hampir putus asa menyakinkan Nessa.


Sesungguhnya Nessa ditingkat kegalauan yang paling normal. Di mana dirinya masih ragu-ragu dengan keputusannya, namun ia juga bingung karena saat ini bahkan tengah hamil. Kebodohannya dulu telah membuat dirinya menuai atas kerumitan yang tercipta.


Pantas saja kalau semua orang merundung dirinya, bahkan mbak There sangat membencinya. Tindakannya mungkin tak termaafkan apa pun alasan di belakangnya. Jika manusia telah kalah oleh nafsu, maka bersiap saja untuk menerima atas apa kepahitan setelahnya. Seperti halnya Nessa, karena sikapnya yang telah berani menyentuh apa yang bukan haknya, ia juga siap tidak siap harus menerima konsekuensi dari permainan laknat itu.


"Aku minta maaf, Ness, seharusnya aku bisa lebih menjaga sikapku dulu sebagai kakak ipar. Terlepas kamu dulu ada rasa padaku," ucap Gama mencoba membangun komunikasi.


"Sepertinya di sini aku yang paling tak pantas, seharusnya aku tidak menyentuh apa yang bukan menjadi milikku. Mungkin semua kerumitan ini adalah hukuman untuk aku, terlepas aku mencintai Kakak, seharusnya aku menguatkan diri untuk membentengi diri," jawab Nessa sendu.


"Jangan menyalahkan kamu sendiri, aku tahu perbuatan kita emang salah. Tapi please ... sebelum kamu hadir, rumah tangga ku sudah tidak sehat. Ini bukan hanya tentang There sakit atau pun enggak, mungkin aku bisa maklum , tapi aku justru menyayangkan hal lain padanya. Di mana ia sama sekali tidak berniat, atau berusaha untuk terapi saat aku dengan sabar menanti."


"Jangan mengkhawatirkanya, sejauh ini aku masih bertanggung jawab untuk hal materi, walaupun kalau untuk kembali jelas tidak bisa, antara kita sudah tidak ada perasaan cinta, adilkah aku bertahan hanya karena rasa kasihan? Ini malah akan membuat aku dan There saling menyakiti."


Nessa tidak menjawab lagi, entahlah itu suatu alasan untuk menutupi kesalahannya atau memang benar adanya. Yang jelas saat ini dirinya merasa begitu bersalah pada orang-orang rumah. Semua sudah terjadi, haruskah Nessa menerima Gama yang saat ini terus mengikrarkan perasaannya?

__ADS_1


Gama membawa Nessa pulang ke suatu tempat, sebuah hunian yang lebih dari nyaman dan itu baru pertama kali Nessa menginjakkan kakinya di sana.


"Kenapa bawa aku ke sini? Rumah siapa ini? Aku kan sudah bilang, untuk sementara mau menempati apartemen Bima, dia sudah setuju kok."


"Dia akan selalu setuju dengan permintaan kamu, Nessa. Tapi aku yang tidak setuju, di sini kamu jauh lebih nyaman."


"Kamu tidak tinggal di sini kan?" tanya Nessa ragu.


"Tentu saja aku mau tinggal di sini, tapi nanti setelah kita resmi menikah. Jangan khawatir, saat ini aku akan pulang ke rumah mama, sekaligus memberi kabar keseriusan aku padamu. Kapan-kapan kamu ketemu mama ya?"


"Aku belum siap, aku—"


"Terima kasih," ucap Nessa pada akhirnya.


"Iya Sayang, jangan berpikir lagi untuk menghilang atau pun minggat dari sini. Percuma Ness, orang-orang aku dan Bima akan cepat menemukan kamu."


Nessa menghela napas lelah untuk itu, sepertinya memang benar dan akan sia-sia saja karena sekarang Bima dan Gama malah begitu kompak membujuknya pulang ke kotanya.

__ADS_1


"Istirahatlah, kamu pasti capek, aku sudah memesankan makan siang untukmu. Aku akan pulang dulu, kabari aku jika sudah siap bertemu mama, nanti aku jemput."


Nessa mengangguk, pria itu pamit pulang dengan enggan. Rasanya mengharapkan Nessa memanggilnya lalu menahannya. Gama yang sesungguhnya tengah diliputi cinta yang besar dan meletup-letup, serasa selalu ingin berdekatan dengannya. Namun, sikap Nessa yang masih terlalu dingin membuat pria itu tak punya nyali hanya untuk sekedar memeluknya. Jujur, Gama takut ditolak seperti tempo lalu.


"Kenapa? Ada yang tertinggal?" tanya Nessa keheranan saat pria itu belum juga beranjak setelah pamit beberapa menit lalu.


"Hmm, iya, ada yang ketinggalan," ucap pria itu menjadi bingung.


Nessa menautkan alisnya dengan raut wajah tanda tanya. Menanti pria itu yang tak kunjung membuka suara.


"Kenapa Mas? Aku pegel, mau ke kamar," ujar Nessa lelah.


"Iya bentar lagi, sebelum pulang boleh nggak aku peluk kamu. Aku ... kangen. Sekarang aku pria bebas Nessa, aku bukan suami orang, jadi ... kamu tidak harus merasa bersalah kalau menyentuhku atau kita bersentuhan." Sesungguhnya Gama sangat merindukan perempuan itu.


Nessa mendelik galak mendengar pernyataan Gama yang benar tapi cukup konyol itu. Dirinya tengah pada mode membenahi hati yang masih entah. Tentu saja berpelukan dengan Gama sesuatu yang harus Nessa hindari.


"Iya nggak jadi kalau nggak boleh, jangan marah, tadi kan bilangnya kalau boleh. Aku nggak akan maksa," ujar Gama mundur teratur sedikit kecewa sembari menekan sabar. Ada saatnya nanti setelah halal baginya, tak ada batasan untuk keduanya.

__ADS_1


"Aku akan segera mengurus untuk pernikahan kita, tunggu aku kembali, supaya aku bisa bebas memelukmu," seloroh pria itu tersenyum semangat sebelum beranjak.


__ADS_2