Main Hati With Iparku

Main Hati With Iparku
Part 83


__ADS_3

Gama memutar tubuh istrinya hingga menghadap dirinya. Netranya menatap penuh hasrat, tanpa banyak kata pria itu langsung bertamu *****@* habis bibirnya. Menciptakan sentuhan pembuka dengan gerakan nakal yang mampu membuat perempuan itu begitu pasrah dan menerimanya dengan sepenuh jiwa.


Dalam satu gerakan saja, tubuh itu terasa ringan di udara. Gama menggendongnya memindah ke ranjang pengantin yang siap menjadi saksi perhelatan aksi keduanya.


"Cantik banget," puji Gama mengelus pipinya. Menikmati wajah ayunya yang begitu memabukkan.


Nessa tersenyum mendengar itu, belum sempat membuka mulutnya hendak menjawab, mulut itu kini telah kembali menyayu seiring serangan kedua yang terlontar dari suaminya. Hingga perempuan itu terengah dengan napas memburu. Gama baru melepaskan dengan posisi semakin panas dan mata berkabut gairah.


Dengan gerakan lembut, pria itu melepas pakaiannya lalu menanggalkan semua yang menempel pada istrinya hingga wanitanya polos di bawah selimut tipis mereka.


Nessa hanya mampu terpejam menikmati sentuhan demi sentuhan tangan nakal suaminya. Pria itu benar-benar mengabsen tanpa sisa. Lenguhan panjang yang keluar dari mulut perempuan itu mampu membuat Gama semakin menggila. Ia melenguh tertahan saat suaminya menghujam dengan gerakan yang semakin mahir hingga membuat kamar ber-ac itu semakin terasa panas. Keduanya mencapai kenikmatan yang sama dengan penuh rasa syukur. Seakan ganjalan hati semuanya melebur, berganti ketenangan dan kedamaian.


"Makasih," ucap pria itu setelah berhasil mengacak sprei hingga tak beraturan.


Nessa mengangguk samar dengan rasa lelah menghinggapi tubuhnya. Namun, rasa bahagia jelas terpancar dari wajahnya. Ia bangkit dari pembaringan dengan pelan, menutupi dadanya dengan selimut hingga ke atas.


Gama ikut duduk dengan posisi tepat di belakangnya. Kembali merapat memberikan kecupan-kecupan kecil di bahunya yang polos.


"Kamu manis sekali, Sayang. Rasanya bikin aku semakin ingin lagi dan lagi," ucap pria itu seraya menciumi bahunya tanpa dosa.

__ADS_1


"Aku mau ke kamar mandi, Mas, istirahat dulu. Emangnya nggak capek?"


"Nggak, tapi kalau kamunya nggak nyaman istirahat dulu, maaf aku terlalu bersemangat. Apakah itu sakit?" tanya pria itu sedikit khawatir. Dirinya memang memberikan dengan gerakan lebih menantang, dengan gaya yang semakin beragam.


"Nggak," Nessa menggeleng, lalu tersenyum. "Cuma ... ngilu banget dan rasanya seperti masih tertinggal di sana."


Gama terkekeh mendengar jawaban jujur istrinya. Ia membantu perempuan itu meraih kimono lingerie yang teronggok di lantai tak bertuan. Dengan cepat Nessa mengambilnya, lalu kembali mengenakan dengan benar. Berjalan ke kamar mandi dengan langkah pelan.


Gama ikut bangkit, dalam satu hentakan mengangkat tubuh itu hingga membuat si wanita terkesiap haru.


"Kalau jalannya gitu, kapan sampainya?" gurau pria itu menurunkan perlahan di lantai kamar mandi.


"Nggak pa-pa bareng, kenapa masih malu? Bahkan semuanya udah aku lihat tanpa sisa."


Tetap saja Nessa merasa tidak leluasa dengan Gama menunggu di balik pintu.


"Tuh kan ... lihatinnya gitu banget, kamu keluar dulu deh," rengek Nessa mengusir.


"Oke, sayang oke," ucapnya mengalah. Bibirnya tersenyum sembari melangkah keluar.

__ADS_1


Setelah bersih-bersih, pasangan halal itu tertidur dengan penuh kedamaian. Seperti alarm alamiah, mereka terbangun sebelum subuh. Keduanya bahkan begitu kompak mengambil wudhu lalu menunaikan ibadah dua rakaat bersama.


Hari-hari yang menyenangkan untuk pengantin baru itu. Di mana keduanya saling mengisi dan membahu untuk selalu menjadikan dirinya pantas dan merasa berharga di depan pasangan kita.


"Aku siapin sarapan dulu, Mas, kamu mau makan pakai apa?" tawar perempuan itu mengikuti reques suaminya.


"Sarapan kamu yang bikin candu, hehehe." Gama terkekeh sendiri. Sementara Nessa menggeleng tak percaya. Semenjak keduanya benar-benar menyatu setelah halal, semakin hari rasa cinta dan sayang itu semakin terus terpupuk diantara keduanya.


Indah, bahkan semua terasa indah saat dilakukan berdua dengan balutan cinta yang halal. Baik Gama dan Nessa akan selalu mencari bagai tinta dan bolpoin, saling melengkapi dan mengisi. Membutuhkan dan mencari saat diantara salah satu tak nampak di depan matanya.


Sudah sebulan lebih mereka mengarungi bahtera indah cinta itu. Nessa benar-benar mewujudkan keinginan suaminya. Ia rela menjadi wanita rumahan seutuhnya yang siap melayani pria itu dengan sepenuh hati.


"Nanti makan siang mau dibawain apa?" tawar perempuan itu begitu perhatian.


Rasa sayang itu kian bertambah, kala mendapati perlakuan manis dan begitu perhatian istri tercintanya.


"Apa aja sayang, masakanmu selalu enak. Terima kasih sudah dicintai sebesar ini," ucapnya tulus. Jelas saja pria itu terharu, Nessa begitu dewasa dan sangat mengimbangi dirinya yang kadang meminta pelayanan lebih.


"Sama-sama Mas, kenapa harus berterima kasih terus, aku dong yang makasih. Makasih udah jadi suami yang sabar dan pengertian," ujarnya dengan senyum bahagia.

__ADS_1


__ADS_2