
Gama mengangguk, mereka mengawali dengan baik-baik, tentu berpisah pun harus dengan cara yang baik pula. Jangan ada prahara di antara keduanya. Walaupun itu tidak mungkin, karena perpisahan dikemas sebaik apa pun pasti akan membekas dan meninggalkan luka dihati keduanya. Hanya saja mungkin karena pandai menyamarkan, atau bahkan terkikis karena kehadiran orang lain sebagai penawar dari rasa sakit yang tertinggal.
"Terima kasih, aku akan menunggumu di tempat, di mana kita pernah menghabiskan kenangan berdua," ucap There melepas dengan senyuman. Satu kecupan mendarat di bibir Gama, pria itu hanya membalas dengan senyuman, pun tidak merespon lebih.
Tidak seharusnya Nessa cemburu, rasa sakit itu berawal dari dirinya. Ia yang memulai, jadi telan saja apa pun yang terjadi. Gadis itu turun ke lantai bawah memutus penglihatan pada sosok pasutri yang terlihat mesra.
Tiba-tiba Nessa tersenyum getir mendengar kesepakatan mereka. Padahal Gama sudah berjanji bahwa besok akan meminta waktunya seharian full karena libur, mungkin pria itu sudah lupa.
Tak ingin berlarut dalam pikiran yang akan membuatnya semakin pusing. Nessa kembali ke ruang tamu menemui keluarga Rasyid.
"Maaf, lama menunggu?" ujar perempuan itu mengambil duduk berdua. Sejatinya memang ada hal yang ingin Nessa katakan, Namun tidak mungkin di tempat ini.
"Tak apa, sorry tidak mengabari kalau aku mau datang. Ibu cukup ngeyel ingin menjenguk Tante Rianti. Bagaimana kabarmu? Kamu terlihat kurang Vit, apakah kamu sakit?" tanya Rasyid cukup teliti.
"Hanya sedikit kurang enak badan, mungkin karena akhir-akhir ini sering begadang ngerjain skripsi jadi waktuku sedikit terbagi."
"Semoga lancar ya? Hebat bisa bagi waktunya sambil magang. Aku tunggu kabar bahagia kelulusanmu. Agar secepatnya hubungan kita bisa dilegalkan." Rasyid tersenyum.
__ADS_1
"Aamiin ...! Apa kamu serius? Aku bahkan belum siap apa pun untuk itu." Nessa jelas terperangah bingung.
"Tidak baik menunda suatu rencana baik, memang kita sepakat berteman tapi kalau selangkah lebih dekat, mungkin bisa."
"Aku—banyak kekurangan. Sama sekali bukan tipe wanita idaman. Ada satu hal yang harus aku tanyakan padamu?"
"Boleh? Tanyakan saja, santai kali Ness, kan teman jadi obrolan kita jangan kaku gitu, anggap seperti saat bareng Bima."
Ah ya, beberapa hari ini tidak bertemu dengan Bima, kenapa jadi kangen dengan bestie satu itu?
"Apa pendapat kamu—soal keperawanan?" tanya Nessa serius.
"Penting, karena itu suatu nilai kehormatan bagi seorang perempuan yang mana untuk menghargai diri sendiri. Tapi, kalau cinta saja diukur dengan tebalnya selalut dara, tentu itu berkedok nafsu, mereka yang tulus akan menerima pasangannya dengan lapang," jawab Rasyid cukup bijak.
Entah mengapa Nessa merasa tertampar dengan jawaban pria itu. Satu hal kesalahan yang tidak akan Nessa sesali, dan biarlah ia simpan sendiri. Dari sudut pembicaraan itu, gadis itu sudah bisa menarik kesimpulan sendiri.
"Dicari malah mojok, ditunggu makan malam Ness, Syid!" seru mbak There tiba-tiba sudah muncul di belakang mereka.
__ADS_1
Keduanya memang duduk di taman dekat pinggir kolam buatan. Yang bisa diakses jelas dari arah balkon kamar Nessa mau pun Gama. Hati pria itu mendadak panas melihat keduanya duduk berdua. Tapi tangan tak sampai meraih, hanya bisa menyaksikan keduanya tanpa bisa mendengar obrolan mereka.
Makan malam terpanas di antara cinta yang terselubung. Empat hati yang saling berbicara. Rasyid dengan pikirannya sendiri, There yang berharap ini tidak akan berakhir, Nessa dan Gama yang kesal saling cemburu.
Hanya para orang tua yang nampak mengobrol asyik dengan rencana mereka.
"Mas, mau nambah lauknya?" tawar There perhatian.
"Terima kasih, Re, cukup," ujar Gama halus.
"Kamu harus makan banyak, besok kan kita punya agenda. Biar nanti bisa tidur nyenyak."
"Wah ... kalian mau pergi ya? Walaupun sudah bertahun-tahun masih romantis. Sweet sekali," timpal Rasyid haru.
"Sesekali dua kali perlu dong Syid, emangnya yang muda aja yang boleh kencan. Pengantin lama juga perlu."
Gama mulai tak nyaman, apalagi tingkah There semakin menjadi dan seolah tidak sedang terjadi apa-apa. Tentu saja itu membuatnya malas.
__ADS_1
Nessa tidak menimpali, tiba-tiba ia merasa mual saat hidangan tambahan baru dikeluarkan ke meja makan oleh art mereka. Bau udang yang menyengat membuat isi perutnya bergejolak. Nessa pun buru-buru meninggalkan meja makan dan berlari menuju wastafel dengan menutup mulutnya.
Refleks Gama yang khawatir mengikuti sehati dengan Rasyid. Keduanya dengan cepat melihat keadaan Nessa yang sibuk di depan wastafel. Perlakuan Gama yang mengalir begitu saja memijit tengkuk Nessa jelas membuat perhatian Rasyid tercengang. Itu bukan seperti layaknya perhatian kakak dan adik ipar.