
Ekspektasinya tetap ke kantor, tetapi tidak untuk Nessa, Gama menyarankan untuk istirahat saja karena ia tahu pasti adik iparnya itu butuh istirahat setelah semalam menghabiskan malam panjang mereka yang tak terelakkan.
"Pagi Sayang!" sapa Gama mendaratkan satu kecupan sayang di bibirnya.
"Pagi Kak, kamu udah siap ke kantor?" tanya Nessa bangkit dari pembaringan.
"Pengennya libur terus habisin waktu gila-gilaan berdua denganmu," ucap Gama sembari memperhatikan wajah kekasihnya yang terlihat lelah.
"Aku mandi dulu Kak, aku kan juga harus ke kantor," ujar Nessa turun dari ranjang.
"Kamu nggak usah datang, emang nyaman buat aktivitas? Serius nanya?" Gama memperhatikan wajahnya begitu lekat.
Nessa menggigit bibir bawahnya, sekelebatan bayangan tentang semalam membuat pipinya merona malu.
"Izin aja nggak pa-pa, kamu bisa istirahat sampai tubuhmu terasa lebih nyaman. Terima kasih untuk semalam, aku mencintaimu," ucap Gama sungguh-sungguh. Kembali mendaratkan satu kecupan sayang kali ini di keningnya.
"Mau berangkat aja, sepertinya kesibukan jauh lebih baik untukku," jawab Nessa sambil berjalan pelan menuju kamar mandi.
Gama yang perhatian, langsung menggendongnya tanpa permisi, membuat perempuan itu terpekik gemas dengan pria yang telah berhasil mengoyak pertahanannya.
"Mandilah, lalu sarapan," ujar Gama menurunkan perlahan. Pria itu menutup pintunya meninggalkan Nessa yang masih belum percaya sepenuhnya. Pagi ini begitu terasa berbeda untuk perempuan dua puluh satu tahun itu.
__ADS_1
"Ya ampun ... kak Gama banyak banget," keluh Nessa meneliti tubuhnya yang terdapat banyak tanda gemas di sekujur tubuhnya. Semalam keduanya benar-benar terlena dimabuk kepayang, sampai tak sadar kalau lawannya seliar ini.
Seketika ia bercermin, melihat pantulan dirinya di kaca. Ada rasa bersalah yang besar menyelimuti hatinya. Nessa pun cukup sadar dengan keadaannya saat ini. Semua sudah terlanjur dan tidak akan kembali, namun ia akan tetap rapih menyimpan ini tanpa menuntut lebih. Ia sadar, Kak Gama tetap bukan miliknya, hanya singgah sebentar.
Dengan cepat perempuan itu menyelesaikan mandinya. Saat ia keluar, Gama sudah menunggu di depan pintu.
"Ini gantinya Sayang," ucap pria itu pengertian.
"Kamu pacar yang pengertian," cibir Nessa menyunggingkan senyum.
Sembari menunggu kekasihnya berganti pakaian, Gama menyiapkan sarapan. Perempuan itu terlihat lebih segar setelah bebersih, rambutnya yang sedikit basah tergerai indah. Gama bahkan ikut membantu menyisir dengan lembut.
"Udah cantik, cantik banget malah, sekarang sarapan!"
Sampai di kantor, mereka berpisah dan bekerja seperti biasa. Ada perasaan tidak nyaman, namun Nessa abaikan. Saat sore hari jamnya pulang kantor, Nessa sudah lebih dulu Gama pesankan taksi karena pria itu akan pulang sedikit terlambat.
Nessa malah bersyukur mereka tidak bareng, perempuan itu malah khawatir sampai rumah kalau ibu dan kakaknya menaruh curiga.
"Ness, baru pulang?" sapa Mbak There sumringah. Melihat adiknya menyembul dari balik pintu.
"Iya, Mbak There mau pergi? Kok udah rapih aja, Mama juga?" Perempuan itu meneliti penampilan ibu dan kakaknya yang nampak serasi.
__ADS_1
"Iya Sayang, kamu juga siap-siap, kita diundang untuk makan malam oleh keluarga Bu Sukma. Cepetan sana mandi!" ujar Ibu berseru riang.
"Iya Ma," jawab Nessa bingung sendiri. Rasanya ingin menolak selain karena tidak ingin terlibat hubungan yang semakin jauh dengan Rasyid, Nessa juga hari ini merasa lelah body.
"Kok malah bengong, cepetan mandi, Ness! Mas Gama sudah dijalan sebentar lagi sampai, kita nungguin dia juga."
Tak ada pilihan membuatnya menurut dalam kegamangan hati. Sementara Gama juga sama sedikit heran saat istrinya menyambut kepulangannya dan langsung menyuruhnya mandi dan siap-siap.
"Mau ke mana sih? Aku capek," ujar Gama sembari melepas dasinya.
"Kita diundang makan malam di rumahnya calonnya Nessa, Mas, ikut ya?" pinta There merengek.
"Calon, emang udah pasti?" tanya Gama sedikik kesal.
"Lho ya iya, mereka kan terlihat serasi, restu keduanya sudah dikantongi. Lagian Nessa sebentar lagi lulus," ujar perempuan itu semangat.
Mendadak Gama resah sendiri, tidak bisa membayangkan kalau hal itu terjadi. Berpisah di kantor hampir seharian saja membuatnya rindu berat. Buru-buru pulang agar segera bertemu dan dapat mencuri waktu, nyatanya sampai rumah mendapat kejutan cukup membuatnya resah sendiri.
"Aku tunggu di bawah ya, kamu cepet mandinya. Sebelum pukul tujuh udah harus sampai," pesan There berlalu.
Gama mandi dengan cepat, memakai pakaian yang telah disiapkan istrinya. Saat ia keluar, pas Nessa juga keluar. Kedua netra itu bertemu, baru saja hendak mengeluarkan kata untuk menyapa pujaan hatinya, There kembali menyusul sambil menyerukan namanya.
__ADS_1
"Mas, ayo dong! Nessa cepetan, kasihan mama udah nungguin dari tadi," ujar perempuan itu tak sabar.
There menarik tangan Gama, pria itu membalas dengan merangkul bahunya. Saat ia melintas tangan kanan Gama meraih tangan Nessa agar berjalan tak jauh dari dirinya. Nessa hanya diam, berjalan pelan dan kurang fokus.