
"Nggak tahu, mungkin karena lelah, aku kurang enak badan," keluh Nessa lirih.
"Kamu sakit? Kita ke dokter ya?" ujar pria itu khawatir.
"Nggak usah, Kak, aku mau pulang saja. Sepertinya aku butuh istirahat yang cukup."
Gama mengiyakan, walaupun hati kecilnya tak setuju. Apalagi jika di rumah nanti, pria itu tidak bisa menunggu dan menjaganya.
"Aku mau pulang sendiri pakai motor saja, aku tidak mau orang rumah memergoki kita pulang bersama."
"Nggak Ness, kamu terlihat kurang sehat, aku akan mengantarmu, kita pulang bareng!" kekeh Gama tak mau dibantah.
Nessa tidak tahu kenapa hari ini begitu tidak nyaman. Beberapa hari ini juga n@fsu makannya berkurang.
"Bisa nurut nggak sih, aku khawatir!" ujar Gama terus mengekor tak tenang. Karena tak mau menimbulkan kegaduhan di tempat lain akibat suara kak Gama yang terdengar kesal, Nessa pun mengiyakan.
Sepanjang perjalanan gadis itu hanya diam, sesekali Gama melirik tak tega. Tangan kiri pria itu meraih tangan Nesa yang terasa dingin, menggenggamnya begitu erat seakan menjadi kekuatan tersendiri. Nessa balas menatap dengan senyuman.
Sesekali pria itu bawa dalam kecupan, dengan tangan lainnya sibuk mengendalikan bundaran stir.
"Apakah kamu selalu romantis begini dengan pasanganmu?" tanya Nessa konyol. Tentu saja pasti begitu, mereka kan suami istri.
"Aku tipe pria yang romantis, pasti aku memperlakukan wanitaku dengan baik."
Tiba-tiba Nessa merasa hatinya ngilu. Dirinya bahkan yang kedua, entah seberapa rumit hubungan Kak Gama dan Mbak There. Ia tak ubah dari seorang wanita cadangan. Nessa pun sadar akan hal itu, tapi kenapa mendadak sakit? Pantaskah Nessa cemburu? Ia mulai takut bila tumbuh rada egois yang besar dan ingin memiliki kak Gama seorang diri. Padahal jelas, pria itu milik istrinya.
Buru-buru Nessa menarik tangan dari genggaman Gama. Pria itu melirik heran.
"Kamu kenapa Sayang?" Pria itu beralih mengelus puncak kepalanya dengan lembut.
__ADS_1
"Nggak pa-pa?" jawab Nessa menjadi sensitif.
"Kamu mau pulang ke tempat lain? Sepertinya aku harus membelikan tempat tinggal untukmu. Nanti setelah ibu agak sehatan dikit, kita pindah ya?" ujar Gama penuh rencana.
"Kita, maksudnya Kakak juga?" tanya Nessa tak percaya.
"Ya, aku sudah memutuskannya salah satu di antara kalian. Tentu saja kamu prioritas aku sekarang. Sabar ya, aku tidak bisa melepas There begitu saja, aku juga kasihan dan memikirkan kondisi mama."
Nessa hanya mengangguk sebagai respon. Kerumitan ini terjadi karena dirinya yang mengawali. Harus bisa menerima resiko tidak enaknya dan siap dengan kemungkinan yang terjadi. Walau hati kecilnya memang tidak siap.
Saat sampai rumah, ruang tamu nampak ramai.
"Sepertinya ada tamu?" gumam Nessa sambil turun.
Gama memarkirkan mobilnya dengan benar, sementara Nessa masuk lebih dulu.
"Assalamu'alaikum ....!" salam hormat menggema.
Nessa menyalim Bu Sukma, Suami Bu Sukma, dan Rasyid. Sepertinya keluarga itu datang ke rumah jengukin ibu yang tengah sakit.
Gama yang masuk lima menit kemudian pun dibuat kaget dengan kejutan petang ini. Perasaannya mulai tidak nyaman. Ada apa keluarga Rasyid datang dengan formasi yang begitu lengkap.
"Nessa ke belakang dulu ya semua," pamit gadis itu lalu.
Gama juga ikut pamit masuk.
"Ada urusan apa mereka ke sini?" tanya Gama setengah berbisik.
"Nggak tahu Kak, mungkin jenguk mama," jawab Nessa datar. Setelah di rumah, Gama harus menaati aturan Nessa sehingga ia pun diam.
__ADS_1
"Aku nggak suka kamu terlalu dekat dengan Rasyid," protes Gama begitu saja.
Tanpa pria itu sadari, There melihat dan mendengar keduanya.
"Kenapa tidak suka kalau Rasyid dekat? Memangnya ada yang salah? Mereka kan sebentar lagi akan menikah?"
Pernyataan There sontak membuat mata Gama dan Nessa sama-sama membulat kaget.
"Aku belum buat keputusan itu, Rasyid juga tidak ada ngomong apa pun ke aku."
"Belum mungkin, tunggu saja nanti," jawab There datar. Menatap keduanya dengan ganjil, dari sejak lama sebenarnya There mulai melihat gelagat yang berbeda dari keduanya, tapi akal sehatnya terus menyangkal apalagi Nessa dekat juga dengan beberapa pria.
"Kok nggak jawab, Mas? Kenapa nggak suka sama Rasyid?" tekan There tak sabar. Ingin rasanya Gama mengatakan yang sejujurnya, namun mengingat di rumah sedang ramai tamu, Gama menahan diri. Ini bukan saat yang tepat, apalagi There yang sifatnya ngamuk, justru ia sangat takut perempuan itu melukai Nessa.
"Karena ada pria yang lebih pantas dan baik untuk Nessa," jawab Gama datar. Meninggalkan keduanya lalu masuk ke kamar.
There mengekor pria itu, keputusan dari pengadilan memang belum final. Mereka tetap sekamar, namun Gama mulai pisah ranjang dan menempati sofa sejak gugatan layang itu didaftarkan.
There tak bisa berbuat banyak dalam hal itu, karena dirinya juga tidak berhasrat atau bergairah dalam hubungan badan. Namun, hatinya yang normal tetap saja merasa ngilu, saat menyadari posisi mereka tak lagi sama.
"Aku harap besok kamu datang di sidang terakhir!" ujar Gama dingin.
"Apa kamu tidak mau merubah keputusan itu? Sekalipun aku sembuh dan bisa melayanimu layaknya istri sungguhan?"
"Cerita kita sudah berakhir, walaupun belum di tutup. Tetaplah berusaha untuk sembuh, aku akan membantu pengobatan mu semampu yang aku bisa. Kamu bisa mulai dengan orang yang baru. Maaf, untuk semua hal yang pernah kita lalui," ucap Gama tulus.
Pria itu keluar kamar, ia selalu menghabiskan di luar setelah pulang kerja.
"Mas, sekali saja, sebelum jatuh talak itu padaku, sebelum hakim mengetuk palu, aku ingin kita menghabiskan waktu bersama," pinta There menubruk punggung Gama. Perempuan itu memeluknya dari belakang.
__ADS_1
Tanpa sadari, Nessa yang baru saja keluar kamar menyaksikan adegan tersebut. Hatinya mendadak campur aduk.