
"Aku nggak bisa tidur, kamar sebelah berisik," jawab Nessa jujur sembari membuang muka ke arah jendela. Membuat Gama terdiam sejenak sepertinya menangkap maksud kata-kata adik iparnya itu.
"Owh ... sorry, kamu dengar itu. Mungkin lain waktu akan kami perbaiki lebih halus suaranya."
Nessa tidak menanggapi, rasanya ingin menimpuk kepalanya saja bisa-bisanya menjawab sesantai itu.
Ya Tuhan ... setan apa yang telah merasukiku, kenapa hati dan pikiranku tidak bisa berpaling sedikit pun. Sial!
"Kenapa kepalamu diketuk-ketuk, Ness, kamu pusing?" tanya pria itu menempelkan punggung tangannya.
"Nggak Kak, sehat kok," jawab Nessa sembari menurunkan tangan Kak Gama dari keningnya. Tanpa sadar, Nessa mengambil kesempatan untuk menggenggamnya.
"Ghem!"
"Eh, sorry," sesal Nessa menarik tangannya. Sedikit kaget, nyatanya ia selalu melamun dan gagal fokus setiap kali memikirkan pria dengan status suami orang itu. Rasanya ingin menjedotkan saja ke tembok agar ia lupa ingatan, dan bisa melupakan perasaannya yang semakin susah untuk dibendung.
Roda-roda kokoh kuda besi milik pria itu bergulir memasuki parkiran khusus untuk staff dan juga pimpinan perusahaan. Pria itu memastikan mobil itu terparkir dengan benar.
"Terima kasih Kak, tumpangan yang nyaman," pamit gadis itu bergegas.
"Tunggu Nes," cegah pria itu menghentikan pergerakan gadis itu.
"Kalau kamu merasa tidak nyaman aku tinggal di sana, biar aku yang pindah, kamu jangan pulang ke kost kasihan mama kesepian," kata pria itu menatap serius.
"Aku tidak mengusirmu, itu rumah mama, semua berhak menempati atas izinnya. Aku bisa tinggal di mana saja," ucap Nessa terdengar lega.
Walaupun sejatinya ia senang bila didekat pria itu, namun menjauh lebih baik. Nessa berharap Gama pindah kembali ke rumahnya seperti dulu, dan jangan sering mampir karena itu akan semakin memperburuk perasaannya.
"Tolong tetap rahasiakan identitasku di kantor, aku tidak mau ada orang yang tahu kalau kita adik kakak ipar," pinta Nessa sebelum akhirnya keluar.
Hari pertama magang, masih dalam bimbingan staff HRD. Nessa cukup disambut baik dan berkenalan dengan tim dan juga karyawan lainnya. Gadis itu termasuk asyik dan mudah bergaul. Terlihat pro aktif menjalani tugas yang mulai diberikan.
Ia juga tak sungkan bertanya pada senior bila mengalami kendala. Kebetulan dalam satu devisinya ada anak magang lainnya dari kampus yang berbeda, jadi sedikit banyak membuat keduanya sama-sama belajar dari nol dengan menerapkan apa yang sudah dipelajari di bangku kuliah.
"Hai, aku Arka, senang bisa bertemu denganmu," sapa seorang pria seumuran yang diduga sama-sama anak magang.
"Nessa, kayaknya kita seangkatan satu server, mohon bimbingannya."
"Aku masih anak bawang, semoga kita betah ya di sini, tidak ada kendala yang berarti."
"Ya, semoga saja. Aamiin."
Terjun bekerja langsung dengan teori itu nyatanya sangat berbeda. Banyak yang harus ia pelajari dan mencari tahu sendiri. Mengembangkan dengan belajar sendiri tentunya, selain bertanya bisa juga melalui media sosial.
__ADS_1
Jam istirahat siang pertama, semua karyawan akan keluar dan mengisi perut mereka. Nessa sempat kaget saat membaca pesan whatsapp yang masuk dari kakak iparnya menyuruhnya ke ruangannya. Nessa mengabaikan itu, bahkan ruangan pimpinan kantor saja Nessa belum tahu di mana. Gadis itu langsung diarahkan pihak HRD begitu memasuki kantor.
Mungkin karena sama-sama anak magang Nessa dan Arka terlihat langsung akrab satu sama lain. Langsung nyambung obrolan mereka apalagi setingkat usianya.
Mereka berdua memesan menu di kantin, tak canggung membuat obrolan satu sama lain padahal belum genap sehari mereka bertemu.
"Kamu tinggal di mana Ness?" tanya Arka kepo. Mereka bertukar nomor ponsel juga bahkan saling follow sosial media mereka.
"Tidak begitu jauh dari sini, sebenarnya aku sempat ngekos sih tapi agak jauh, kost aku dekat dengan kampus."
"Sama, aku juga ngekos, walaupun sebenarnya pulang ke rumah bisa aja tapi selama magang aku lebih milih tinggal sendiri."
"Semangat, sepertinya kita bisa jadi teman yang baik," ucapnya tersenyum.
Sore hari saat Nessa hendak pulang, Arka kembali menghampiri.
"Kamu bawa kendaraan? Bareng yuk!" ajak pria itu sumringah.
"Nggak sih, tapi kan kita nanti bersilang arah."
"Nggak pa-pa sampai depan, bisa kok lewat sana, sekalian pengen tahu rumah kamu. Siapa tahu besok boleh main," ucap pria itu nampak akrab.
"Oke deh, kalau maksa. Lumayan hemat ongkos," jawab gadis itu bergegas.
"Aku pakai motor, kamu nggak keberatan aku bonceng?" kata pria itu memastikan.
"Nggak lah, aku bisa naik apa aja, becak juga bisa," selorohnya dengan senyuman.
Motor melaju dengan kecepatan sedang, Nessa benar-benar diantar sampai rumah padahal jalan mereka terpisah di pertigaan depan. Membuat gadis itu merasa tidak enak saja.
"Makasih ya Ka, tumpangan yang seru," ucap gadis itu melambaikan tangannya. Ia sempat mampir ke pinggir jajanan sebentar jadi pulangnya sedikit terlambat.
Langsung masuk ke rumah yang nampak sepi. Ibu sepertinya di kamar. Pekerja di rumahnya hanya paruh waktu dan akan pulang sore harinya setelah pekerjaan beres. Gadis itu langsung menuju kamar ibunya, benar saja perempuan itu tengah beristirahat di kamarnya.
"Ma, aku pulang," sapa Nessa mencium ibunya.
"Terima kasih sayang, kamu pulang ke sini lagi, udah makan?" tanya perempuan itu memastikan.
"Tadi udah di jalan, tapi nanti Nessa temani Mama makan malam. Mbak There sudah berangkat ya?"
"Sudah tadi pagi," jawab ibu datar saja. Netranya terlihat sendu, sebenarnya apa yang dipikirkan perempuan itu.
"Ma, Nessa kamar dulu ya, nanti turun kalau udah bersih."
__ADS_1
Nessa menuju kamarnya, membersihkan diri dan rehat sejenak. Malam hari mereka hanya makan berdua, terasa sepi namun lebih nyaman dari pada harus ada penghuni lainnya. Setelah mengurusi ibunya, Nessa kembali ke kamar. Sebelum tidur ia sibuk bertelepon ria di kamar. Ia mencurahkan semua kegiatan hari ini dengan Bima. Sahabatnya yang selalu ada kala suka maupun duka. Asyik mengobrol tanpa sadar hingga larut malam.
"Besok kita ketemu ya?" pintanya di ujung telepon.
"Oke, gue jemput," ujar Bima penuh semangat.
"Nggak usah, janjian aja," katanya membuat rencana pertemuan.
Nessa tengah bersiap tidur tetiba tiba-tiba lampu di kamarnya padam. Membuat gadis itu sontak mencari ponsel untuk menghidupkan cahaya senter. Ia langsung kepikiran ibunya yang di bawah sendirian.
Rupanya kecemasan itu tak berarti, hanya lampu di kamar Nessa yang padam, mungkin rusak nyatanya tempat yang lainnya bersinar benderang. Gadis itu mencari lilin di dapur untuk menerangi kamarnya. Tidak mungkin sekali ia akan membenarkan lampu itu, besok mungkin harus mengundang tukang untuk memasangkan.
"Cari apa Ness?"
Sumpah demi apa, gadis itu kaget mendapati suara laki-laki di sekitarnya begitu dekat. Ia pikir Kak Gama pulang ke rumahnya selama Mbak There di luar kota, nyatanya pria itu sekarang ada di rumahnya.
"Eh, kak Gama kebiasaan ngagetin aja," cebik Nessa menguasai dirinya.
"Kamu yang ngalamunan dan terlalu fokus, sampai nggak peka ada orang di sekitar."
"Sejak kapan kakak pulang?"
"Dari tadi lah, kamu di kamar terus mana aku tahu. Eh ya, tadi There yang menyuruh aku ke sini, katanya kasihan ibu dan adiknya sendirian. Dua perempuan di rumah sebesar ini, ada benarnya juga ternyata benar kamu butuh bantuan kan?"
"Sok tahu!"
"Tebak aja, ini kenapa cari lilin segala?" tanya pria itu penuh selidik.
"Lampu di kamarku mati, nggak mungkin kan aku benerin, makanya aku cari lilin."
"Owh ... ayo aku benerin!" Pria itu mengambil lampu cadangan di lemari perkakas.
"Kakak bisa?" tanya Nessa meragukan.
"Bisa lah, pasang lampu aja masa nggak bisa."
Keduanya memasuki kamar yang gelap, Nessa langsung menyalakan lampu senter dalam ponselnya untuk menerangi.
"Kamu tolong pegangin kursinya ya, aku tumpuk di kasur, tangan aku nggak sampai," pinta pria itu.
"Iya Kak hati-hati," ucap perempuan itu menurut.
Lampu berhasil dilepas dan dipasang yang baru, tinggal tekan saklar seharusnya nyala. Saat Gama hendak turun kursinya sedikit bergoyang karena Nessa nampak gemetar menjaganya. Tangannya kebas, membuat pria itu oleng ke sisi kasur yang tak diduga menimpuk tubuh Nessa. Keduanya dihadapkan dalam situasi yang tak terduga. Tanpa disengaja, bibir mereka bertemu dalam remang cahaya senter.
__ADS_1