Main Hati With Iparku

Main Hati With Iparku
Part 22


__ADS_3

Sore ini Rasyid mengajak ketemuan, pria itu akan menjemput Nessa di kantornya setelah pulang kerja. Gadis itu pun mengiyakan, selain belum ada alasan untuk menolak, Rasyid pria yang baik untuk berteman.


Tepat jam empat sore, Rasyid sudah menunggu di depan gedung GH. Membuat gadis itu sedikit mempercepat langkahnya setelah menata rambutnya sebentar.


"Hai, udah nunggu lama ya?" sapa Nessa tersenyum.


"Ya lumayan, bisa jalan sekarang?" ujar Rasyid datar.


"Oke," ujar gadis itu langsung memasuki mobilnya.


Ini adalah pertemuan kedua mereka setelah hampir dua minggu mereka bertemu waktu itu. Rupanya anak itu selalu izin khusus dengan ibu, hingga acara keduanya pun terasa nyaman.


"Kita ke mana, Syid?"


"Kamu punya usul?" tanya Rasyid balik. Nessa menggeleng, ia memang tidak punya bayangan ke mana-mana.


"Ya makan aja sambil ngobrol," ujarnya tersenyum.


Rasyid membawa ke sebuah kafe. Tempat yang cocok untuk bersantai sejenak melepas penat setelah berjibaku dengan pekerjaan. Pria itu sengaja memesan tempat agak ke dalam yang tidak terlalu ramai sehingga bisa nyaman mengobrol.


"Ngomong-ngomong kamu kenal Bima? Kenapa nggak cerita? Atau pura-pura tidak tahu ya kalau kita sahabatan," ujar Nessa melayangkan protes.


"Dia sudah cerita? Bagus lah, kalian ada hubungan spesial kah?" tanya Rasyid serius.


"Kami berteman semenjak lama, akrab satu sama lain."


"Aku sudah mendengar banyak tentangmu dari dia, dia memang orangnya asyik. Kami saling mengenal dan berteman lumayan akrab."

__ADS_1


"Bagaimana kalau kita panggil dia buat makan bersama, kita dinner bertiga pasti seru."


"Boleh juga, coba kamu hubungi, siapa tahu bisa."


Nessa segera menghubungi Bima, dalam deringan pertama langsung terhubung. Sepertinya pria itu tengah pegang handphone karena menjawab begitu cepat.


"Iya Ness, kenapa? Kangen?" sapa Bima di ujung telepon.


"Banget, berapa abad kita nggak ketemu. Aku lagi sama Rasyid di Kafe Dstar kamu mau gabung?" tawar Nessa cepat.


"Ye ... kencan ya? Akhirnya Nessa bisa berpaling juga dari Gamelan?" sindir pria itu kegirangan.


"Hush ... siapa yang kencan? Kamu kan tahu sendiri kita memutuskan untuk berteman. Kalau sedang tidak repot datang aja, anggap aja reunian."


"Apa tidak pa-pa? Nanti aku seperti obat nyamuk harus melihat kemesraan kalian," ujarnya terdengar sedih.


"Oke, otw," jawabnya bergegas. Sambungan telepon dimatikan.


Nessa dan Rasyid kembali mengobrol sambil menunggu teman mereka. Ternya Bima lebih cepat dari perkiraannya, pria itu dalam hitungan menit sudah sampai di kafe tengah mencari-cari keberadaan Nessa dan juga Rasyid.


"Cie ... yang sudah semakin akrab," goda Bima pertama kali datang. Mereka nampak saling bertegur sapa satu sama lain. Mengambil duduk sebelah Nessa.


"Kamu baru datang langsung mendrama, pesen gih!"


"Ya ampun ... beneran gue dilibatin, gue kira duo sejoli ini tengah membuat dinner romantis,"


Nessa mendelik, pria itu bahkan tahu persis kalau dirinya dan Rasyid belum terlibat kesepakatan selain berteman. Mungkinkah ini salah satu usahanya untuk membuat Nessa melupakan Kak Gama. Ah, itu terlalu sulit, pria itu telah berhasil mencuri separuh hatinya.

__ADS_1


Mereka terlibat obrolan akrab yang cukup asyik. Bima dan Rasyid memang terlihat beberapa kali melempar ledekan seputar kehidupannya, terutama Bima yang terkenal play boy.


"Entah sudah berapa wanita yang dia kencani, dia selalu mempermainkannya," cibir Nessa menggeleng kecil.


Keduanya mempunyai karakter yang sangat berbeda, namun sama-sama asyik. Bahkan mereka sering menghabiskan waktu olahraga bersama.


"Mereka sendiri yang antri, aku harus bagaimana? Berusaha menjalani dengan baik, kalau tidak cocok, ya maaf im sorry good bye," jawabnya dengan entengnya. Bima memang tipe yang cukup tegaan dan sedikit sadis.


Nessa dan Rasyid hanya terkekeh mendengar curahan hati si play boy belum insyaf. Hingga malam menyapa mereka memutuskan untuk pulang.


Rasyid sengaja mengantar Nessa sampai rumah. Bahkan menyempatkan bertemu dengan ibu sebentar. Pria itu memang sangat ramah dan sopan. Pantas saja ibu selalu memujinya, sekaligus mempromosikan kelebihannya di depan dirinya.


"Rasyid pulang dulu, Tante?" pamit pria itu setelah mengembalikan Nessa sampai rumah.


"Terima kasih, Nak Rasyid, hati-hati di jalan!" ujar ibu tersenyum kalem.


"Ma, Nessa langsung ke kamar ya?" pamit gadis itu lalu.


Seharian ini baik Nessa dan Kak Gama tidak banyak berinteraksi. Di kantor bertemu jika mengenai pekerjaan saja, kalaupun di rumah, Nessa pikir Kak Gama akan sibuk dengan istrinya. Mengingat Mbak There di rumah, pria itu pasti akan menghabiskan waktu berdua.


Gadis itu baru saja masuk ke kamar, menyalakan lampu dan betapa terkejutnya dia menemukan pria itu ada di sana. Ia hampir saja menjerit kalau tidak sadar itu kak Gama.


"Baru pulang?" sapa pria itu kalem.


"Kak, ngapain di sini?" tanya Nessa melotot.


"Nungguin kamu?" ujar pria itu santai.

__ADS_1


__ADS_2