
"Nessa!" pekik Bu Rianti mendekat.
"Ma, ngapain sih repot bantuin biarin aja," kata There puas.
"Kamu keterlaluan Nak, terlepas dari kesalahan yang telah mereka lakukan, seharusnya bisa menjadi perenungan dengan apa yang telah terjadi. Kamu membahayakan nyawa seseorang!" omel Bu Rianti ikut geram pada putrinya.
Gama sendiri langsung bergegas membawa Nessa ke rumah sakit.
"Mama ikut Gam," panik Mama Rianti ikut prihatin dengan kondisi putrinya.
"Ma, ngapain sih. Udah biarin aja mereka susah, itu karma namanya!"
"Diam kamu! Kalau tidak mau ikut tidak usah menyela!" bentak Bu Rianti ikut bergegas menuju mobil.
"Kenapa Nessa mengeluarkan darah sebanyak ini? Apa Nessa hamil?" tanya Bu Rianti antara cemas dan kecewa.
Cemas dengan kondisi putrinya yang tengah merintih rasa sakit. Kecewa lantaran hubungan mereka sudah sejauh itu.
"Iya Ma, maafkan kami atas semua ini," jawab Gama semakin cepat melajukan mobilnya.
"Sshhtt ... ini sakit sekali, Ma," desis Nessa merasakan perutnya panas bagai diremas-remas.
"Cepetan dikit Gam, Nessa kesakitan!" cemas Bu Rianti menimpali.
__ADS_1
Gama fokus ke jalanan, ia begitu takut dengan hal yang terjadi pada Nessa. Pria itu langsung bergegas turun di depan UGD.
"Suster tolong Suster! Pasien emergency!" teriak Gama cemas.
Petugas medis langsung sigap membantu, pasien diturunkan dari mobil dipindah ke brankar. Situasi yang begitu menegangkan kembali terjadi pada orang yang sama. Disebabkan oleh mantan istrinya. Sungguh Gama tidak akan mengampuni bila terjadi sesuatu dengan calon anaknya.
Pria itu mondar mandir dengan gelisah. Ia tidak bisa tenang sebelum mendapatkan kabar tentang calon istrinya.
"Ya Tuhan ... kenapa lama sekali sih!" gumam Gama resah.
Bu Rianti tak kalah gelisah, biar bagaimana pun Nessa sudah dianggap seperti anak sendiri. Tidak membenarkan perbuatan mereka, namun perempuan itu tetap menyayangi dan merasa sedih dengan apa yang terjadi.
"Keluarga pasien atas nama Sacha Nessa!" panggil Dokter menginterupsi.
"Iya Dok, saya!" ucap Gama mendekat.
"Iya, bagaimana keadaan istri saya," jawab Gama begitu saja.
"Mohon maaf Bapak, benturan yang cukup keras menimpa perut istri Bapak menyebabkan pendarahan. Dengan sangat menyesal calon anak Bapak tidak bisa diselamatkan. Istri Bapak keguguran," ucap Dokter prihatin.
Seketika Gama lemas, bayangan membina rumah tangga dengan kehadiran anak buyar bagai kepingan dalam memori otaknya.
"Yang sabar ya Pak! Istri Bapak kondisinya masih sangat lemah, ditambah syok dan juga sedang berduka. Tolong bantu istrinya melewati masa ini dengan sabar," nasihat dokter sebelum beranjak.
__ADS_1
Gama membeku di tempat, bagai pukulan berat yang menghantam raganya. Kehilangan calon anaknya jelas membuat ia begitu murka dengan penyebab terjadinya insiden itu.
"Mama ikut berduka atas apa yang menimpa Nessa! Ayo kita jenguk keadaan Nessa, Gam!" ucap Bu Rianti menghallo Gama yang hanya diam.
Setitik air mata terjatuh di sudut matanya. Buah hati yang memang sudah diimpikan Gama dan keluarga semenjak lama tak terselamatkan. Ia gagal melindungi Nessa dan anaknya. Pria itu menangis dalam pilu.
Cepat pria itu masuk ke ruang rawat. Di mana Nessa masih terlihat anteng di atas bed. Raut wajah kesedihan yang begitu kentara terukir jelas di wajah keduanya.
"Maaf, aku juga kehilangan. Aku menyayanginya walau baru singgah sebentar," ucap Nessa sendu ketika Gama mendekat.
"Aku yang minta maaf, seharusnya aku bisa menjaga kamu dan calon anak kita. Aku minta maaf, Sayang." Gama membawa tubuh kekasihnya dalam pelukan. Ia menumpahkan kesedihan itu yang begitu mendalam.
Sementara Bu Rianti ikut merasakan pilu hatinya. Ia menyayangi Nessa dengan tulus. Tentu saja kesakitan Nessa adalah sakit untuknya. Perempuan itu kehilangan calon cucu mereka. Yang bahkan hanya bisa didapat dari Nessa seorang.
"Sabar ya Nak, mungkin memang jalannya harus begini," ujar ibu bijak. Mengelus rambutnya dengan lembut.
"Maafkan Nessa, Ma, Nessa banyak salah," sesal perempuan itu kembali tergugu.
Gama sibuk menenangkan calon istrinya. Berkali-kali pria itu ikut membantu mengusap buliran bening yang membasahi pipi ayunya.
"Udah, jangan nangis terus, nanti kondisi kamu drop. Ada aku yang bakalan terus menemani kamu," ucap Gama menggenggam tangannya.
"Terima kasih, Kak, aku hanya merasa berdosa, dan semua ini seperti teguran dari Tuhan," ucap Nessa sedih.
__ADS_1
Kedua calon orang tua itu jelas sedih, terlepas dari perbuatan mereka yang hina. Anak yang tidak berdosa itu tetap harus dijaga. Semua telah hilang, entah mengapa Gama semakin takut kehilangan Nessa juga. Gama takut perempuan itu juga akan pergi karena tidak ada lagi yang mengikat keduanya.
"Berjanjilah padaku untuk tetap menjadi bagian dari hidupku. Dengan atau tanpa kamu tengah mengandung, aku tetap mencintaimu, Nessa. Kita akan tetap menikah," gumam Gama menggenggam kedua tangan Nessa begitu erat.