Main Hati With Iparku

Main Hati With Iparku
Part 41


__ADS_3

Nessa baru saja berganti pakaian tidur, dan bersiap mengunjungi kasur sembari menenteng laptopnya tetiba kamarnya dibuka tanpa diketuk. Terdengar putaran kunci dua kali.


"Kak Gama!" tanya gadis itu terkesiap mendapati kakak iparnya begitu berani memasuki kamarnya di saat ada di rumah.


"Ngapain ke sini? Ada Mbak There, ada mama, kakak gila ya?"


"Iya, aku memang udah gila karena cinta kamu Nessa," jawab Gama mendekat.


"Please ... jangan ngawur ini di rumah, cepet keluar!" usir Nessa cemas.


"Aku nggak tahan sandiwara terus kaya gini, ini membuat aku hampir gila. Kamu terus-terusan menghindari aku dan menjaga jarak bila di rumah."


"Ya emang seharusnya gitu kan? Kakak suami Mbak There jadi kita tidak boleh menunjukkan kedekatan apa pun."


Alih-alih mempunyai rasa takut kepergok Gama malah cuek bebek dan mendekat dengan wajah usil.


"Please jangan gini dong, kasihanilah aku, hatiku sedang kacau," mohon Nessa resah.


Gama hanya tersenyum lalu mendaratkan satu kecupan di bibirnya.


"Besok berangkat ke kantor bareng ya? Awas aja kalau mangkir, atau bahkan ngilang pagi-pagi!" ancam pria itu.


"Iya iya tolong cepet keluar! Kamu meresahkan!" usir Nessa cemas.


Nessa mendorong tubuh pria itu agar meninggalkan kamarnya. Gama dengan enggan meninggalkan kamar. Setelah berhasil mengusir suami dari kakaknya, Nessa langsung mengunci kamarnya. Perempuan itu menghela napas lega.


"Mas ngapain? Kok di depan kamar Nessa?" tanya There mendapati suaminya masih stay di depan kamar adiknya.


"Owh ... ini tadi aku mau tanya soal pekerjaan buat besok, tapi kayaknya nggak jadi besok aja. Orangnya sepertinya pisudah tidur!" jawab Gama santai berjalan menuju kamarnya.


Duo pasutri itu masuk ke kamarnya. There terlihat mengganti pakaiannya dengan gaun malam yang lumayan seksi. Walaupun perasaannya takut, tapi sepertinya malam ini suaminya butuh dielus-elus.

__ADS_1


"Mas ... aku minta maaf ya? Belum bisa kasih yang terbaik, tapi sepertinya aku mau mencoba, kemarin aku udah terapi kata dokter aku harus semangat dan rajin supaya cepet sembuh."


"Iya, kamu memang harus sembuh, terlepas nanti sama aku atau tidak, kamu harus sembuh agar bisa berjalan mengarungi rumah tangga yang normal," ucap Gama santai.


"Kamu ngomong apa sih Mas, kok nanti sama aku atau tidak? Memangnya kamu udah nggak mau jadi suami aku? Aku lagi berusaha loh Mas, demi kamu, demi masa depan kita?"


"Re, aku minta maaf, mungkin benar aku kurang sabar membersamai kamu, tapi ... sepertinya—"


"Nggak! Aku nggak mau, aku nggak mau pisah!" jawab There cepat. Perempuan itu langsung menangis.


"Aku udah ninggalin job aku, aku udah ninggalin karir aku, dan aku juga sedang berusaha buat sembuh. Kamu kok tega sih Mas!" bentak perempuan itu tak terima.


Seandainya There sembuh pun, Gama malah tak tega melakukan itu kalau pada akhirnya berniat untuk menceraikan istrinya. Biarlah istrinya nanti tetap utuh bersama suami barunya.


Malam itu ranjang mereka begitu dingin, sudah tidak ada keharmonisan di dalam rumah tangganya. Baik There dan Gama tidur saling memunggungi. Sesaat terdengar, There melakukan panggilan dengan seseorang. Sepertinya perempuan itu mulai aktif menerima tawaran lagi, ia begitu emosi malam itu sehingga memutuskan untuk bekerja lagi.


There juga mau melihat tanggapan suaminya seperti apa. Ia benar-benar kecewa dan frustrasi dengan keputusan pria itu.


"Mbak There?" Nessa kaget mendapati kakak iparnya terlalu seksi pagi ini.


"Hai Ness!" sapa perempuan itu sumringah.


"Hai Mbak," jawab Nessa dengan kikuk. Semalam jelas pertengkaran itu terdengar oleh telinganya.


"Astaghfirullah ... Re, kamu kenapa? Bajumu terlalu terbuka?" tegur Ibu.


"Nggak pa-pa dong Mah, orang Mas Gama aja nggak protes kenapa mama malah keberatan."


Ibu hanya menatap bingung, seperti menatap gelagat aneh keduanya. Nessa sendiri hanya diam, menghabiskan isi piringnya lalu berangkat.


"Nessa, bareng sama aku aja Ness!" sela Gama saat perempuan itu pamit.

__ADS_1


"Aku juga bareng, Mas!" seru There percaya diri.


"Umm ... kalian berangkat saja, pagi ini aku udah dijemput," ujar Nessa kalem.


"Pagi Tante!" kemunculan Rasyid di pagi hari jelas membuat orang rumah menyambutnya dengan senang hati. Terkecuali Gama tentunya.


"Pagi, wah ... mau jemput Nessa ya?" ujar ibu sumringah.


"Iya, mari Tante, sepertinya Nessa sudah siap!"


"Ayo Syid!" ajak Nessa setelah pamit dengan orang rumah.


Mendengar pertengkaran kakaknya semalam, jelas membuat Nessa tidak bisa tidur dan terus kepikiran. Satu-satunya jalan untuk menghindari Gama saat ini dengan tetap menerima Rasyid. Kalau nanti Rasyid bisa menerima apa adanya keadaan dirinya, mungkin perempuan itu akan melunak, tapi kalau tidak ya sebaliknya.


"Nanti aku jemput ya?" kata Rasyid setelah mobil mereka melaju.


"Iya, aku juga mau ngomong penting sama kamu. Maaf, kemarin gagal acara makan malamnya mungkin bisa diganti lain waktu."


"Nggak pa-pa sih, kabari saja, aku tunggu undangannya."


"Nanti aku kabari mama, terima kasih sudah jemput!" ujar Nessa melambai dengan senyuman.


Nessa baru saja sampai kantor tetiba gadis itu merasa ada yang menyeretnya ke sebuah lift khusus untuk atasan.


"Kak apaan sih! Lepas!" geram Nessa kesal.


"Kamu yang apaan, pagi-pagi minta dijemput Rasyid! Sengaja banget ngehindar dari aku?"


"Kakak yang apaan, lepasin! Ini di kantor!" tegur Nessa sewot.


"Nggak! Aku tahu ini kantor, ikut ke ruangan aku!" titah pria itu terlihat garang.

__ADS_1


__ADS_2