Main Hati With Iparku

Main Hati With Iparku
Part 8


__ADS_3

"Aku pergi dengan Bima, Kak, tadi juga sudah izin sama mama, jadi kakak nggak usah khawatir," jawab Nessa mengatur napasnya.


"Iya, justru karena sama Bima, seharusnya ia memulangkanmu tidak terlalu larut, tahu aturan!"


"Kenapa kakak begitu peduli padaku?" tanya Nessa sungguh ingin tahu.


"Ya karena biar bagaimanapun kamu itu adik kakak, aku berkewajiban melindungimu, menjagamu, apalagi kamu seorang perempuan, seharusnya ngerti!" tekan Gama terlihat kesal.


Seharusnya memang Nessa sadar, perhatian kak Gama itu tidak lebih dari seorang kakak ke adiknya, jadi jangan berharap lebih Nessa! Dan entah mengapa lagi- lagi itu membuat Nessa kembali pada kenyataannya seberapa besar gadis itu mencintai ia tidak akan pernah memiliki.


"Iya, terima kasih kakakku yang baik dan perhatian sudah mengingatkan," ucap Nessa dengan sedikit penekanan. Berlalu begitu saja meninggalkan Gama yang nampak termangu di tempat.


"Ness!" seru Gama mengekor cepat.


Nessa kembali mengerem langkahnya, memejamkan mata sejenak, menanti ultimatum apalagi yang akan pria itu lontarkan. Ada perasaan kesal namun tetap tidak bisa mengabaikan, membunuh perasaannya, itulah kenyataannya.


"Kamu jangan salah tanggap, bukan maksud hati ikut campur terhadap urusan pribadimu, tetapi aku peduli itu seperti wujud peduli kakak terhadap adiknya sendiri," ucap pria itu memperjelas, membuat Nessa bertambah jengkel saja.


Gadis itu berlalu dengan cepat menuju kamarnya. Sedikit menutup pintu lebih keras. Melempar sling bag ke meja belajar, menjatuhkan bobot tubuhnya kesal.


Setelah mengambil napas sedikit lebih rileks, lekas menyambar handuk lalu menuju kamar mandi bebersih. Rasanya penat seharian langsung rontok bersamaan wanginya busa sabun yang menyusuri tubuhnya.


Terasa lebih nyaman, walaupun hatinya yang masih tetap gamang. Sungguh melesakkan, berani-beraninya memikirkan suami orang.


Lagi-lagi hingga larut, Nessa tidak bisa memejamkan matanya barang sejenak pun. Padahal pulang ia langsung ingin tidur, nyatanya kantuk tak kunjung menghampiri.


Terasa haus ia pun keluar kamar, berjalan perlahan, sejenak menghentikan laju kakinya di undakan tangga ke lima. Sudut matanya menangkap bayangan kak Gama yang tengah sibuk di sekitar ruang tengah, membuat Nessa mengurungkan niatnya untuk melewati. Ia malas bertemu dengannya, jadi Nessa memilih untuk putar arah.

__ADS_1


Sesungguhnya ia sangat haus, sembari menanti pria itu kembali ke kamarnya sendiri. Nessa memilih menepi, menikmati malam di ruang tengah atas sembari menonton TV.


Tanpa diduga sebuah coklat panas menguar menyambut keberadaannya. Kak Gama sengaja membuatkan untuk adik iparnya itu.


"Kamu haus kan? Ini akan cocok untuk menemani malammu," ucap pria itu menaruh di dekat Nessa.


Gadis itu masih terdiam, enggan menimpali. Sesungguhnya ia memang haus, tetapi bukan buatan kak Gama yang Nessa inginkan. Membuat gadis itu makin sulit saja menguasai hatinya.


"Aku minta maaf atas sikapku yang tadi, aku hanya khawatir padamu," ucap Gama sungguh-sungguh.


"Iya, perhatian dan kekhawatiran kakak sama adiknya kan?"


"Kenapa? Apa kamu tidak suka dianggap sebagai adik?" tanya Gama sungguh penasaran.


Sejatinya pria itu ingin menanyakan tentang kejadian malam itu. Walaupun Nessa setengah mabuk, namun Gama yakin sekali Nessa berkata setengah sadar.


Nessa gelagapan sendiri, apa maksud dari pertanyaannya itu. Atau jangan-jangan Kak Gama memang sudah tahu perasaannya, namun rapat menyembunyikan itu? Sungguh gadis itu bingung cara menjawabnya. Akhirnya lebih memilih diam tanpa berani menoleh.


"Jadi benar Kakak yang jemput aku di apartemen Bima? Memangnya aku berbicara apa?" tanya Nessa pura-pura lupa. Sungguh ia ingin menenggelamkan wajahnya saja lantaran malu jika memang dirinya meracau kejujuran hatinya itu.


"Banyak, kamu bilang aku membuat hidup rumit, apa aku memang semenyusahkan itu di hatimu?" tanya Gama lagi.


"Ah, aku kan mabuk mana aku ingat, tapi kalau itu benar aku tidak benar-benar sadar."


"Owh ya, termasuk merusuh dan menem—"


"Stop-stop! Jangan diteruskan aku tidak mau mendengar."

__ADS_1


Ya Tuhan ... apakah aku segila itu?


"Kenapa? Aku pikir kamu memang mabuk, jadi berkata jujur kenapa wajahmu berbeda."


"Nggak ada, jangan bahas itu lagi, namanya orang teler itu suka ngawur. Bisa diem nggak sih!"


"Kamu bandel ya ternyata!" Gama mengacak rambutnya serta cekikikan.


"Apa sih, aku tidak sadar," sanggah Nessa mencoba mengalihkan setelan TV untuk menutupi rasa groginya.


Gama yang tak setuju dengan tayangan drakor romantis, mengalihkan pada chanel kesukaannya olah raga.


Nessa jelas tidak suka bola, gadis itu meraih remot yang baru beberapa detik Gama taruh di meja. Nessa kembali ke tayangan drakor, sungguh tidak kontras dengan suasana hatinya yang tengah galau. Film romantis ala-ala drakor lebih cocok dengan suasananya.


Kedua netra itu bertemu, saling melirik remot sebagai obyek yang sama dengan cepat Nessa mengamankan. Gama tak mau kalah, sengaja menekan posisi tangan Nessa agar tidak bergeser, tanpa sengaja pria itu menggenggamnya begitu erat. Remot tangan Nessa dan tangan Gama bertumpuk di meja, namun Gama menahannya.


Kejadian itu pun tak ubah bagai bagai slow motion yang membuat keduanya sama-sama terlena. Jelas Nessa senang, Kak Gama tanpa sengaja atau tidak menggenggam tangannya begitu saja. Gadis itu pun membiarkan saja semua itu terjadi, sungguh hati dan otaknya mulai tidak aman.


"Ghem! Tangannya kak, ngomong-ngomong mau sampai kapan kakak menggenggamnya?"


"Eh, sorry nggak sengaja, kamu sih nakal, asyik siaran bola Ness," ucap pria itu santai.


"Kakak nonton di kamar sana, aku mau nonton ini," usir Nessa yang mulai tak bisa mengontrol hatinya.


Tiba-tiba tayangan TV menampilkan adegan romantis, membuat Gama fokus dan Nessa salah tingkah. Dengan cepat gadis itu menyambar remot dan mengganti tayangan yang tidak menyebabkan gagal paham.


"Kenapa? Kan lagi seru, katanya mau nonton itu?" goda pria itu sukses membuat wajah Nessa bagai kepiting rebus.

__ADS_1


"Udah ngantuk, tidur dulu kak," pamit gadis itu menyembunyikan rona wajahnya. Gama hanya terkekeh gemas menghadapi adiknya yang terlihat lucu.


"Besok berangkat bareng ya!" seru pria itu yang jelas masih didengar Nessa.


__ADS_2