Main Hati With Iparku

Main Hati With Iparku
Part 14


__ADS_3

Rasanya Nessa malas keluar kamar pagi ini. Apalagi libur, ia ingin menikmati pagi ini dengan sedikit santai tanpa ada pikiran-pikiran yang menghantui. Sayang sekali sedari pagi ponselnya sudah berisik dengan banyaknya panggilan dari nomor tidak dikenal.


Suara ketukan pintu membuyarkan pikirannya. Gadis itu dengan malas menyahut. Rupanya ARTnya yang menyuruh anak itu turun untuk sarapan.


"Pagi semuanya ....!" sapa Nessa menghampiri meja. Masih dengan style baju tidur dan rambut digelung menjadi satu. Muka naturalnya begitu terpancar tanpa polesan yang seharian menemani.


"Pagi, Ness! Kamu cewek kok baru bangun! Mana mau nanti calon suamimu kalau kamu malas!" celetuk Mbak There terdengar menyebalkan.


"Mumpung weekend Mbak," jawab Nessa cuek.


Fokus menuang air putih lalu meminumnya. Ekor matanya sengaja melirik Kak Gama yang tanpa sadar sama juga tengah menatapnya. Terlihat pria itu dan Mbak There sudah berpakaian rapi yang senada.


"Eh iya Ness, yang kemarin itu Bu Sukma, teman Mama. Kemarin datang dengan anaknya, Rasyid, dia akan menghubungi kamu. Kemarin Mama sudah kasih nomor ponsel kamu. Dia baik, ramah, pemuda yang baik dan mapan. Mama harap kalian mau kenal satu sama lain."


"Mama mau jodohin aku?" tebak Nessa tepat sasaran.


"Iya, nggak salah kan sayang, sebentar lagi kamu lulus kuliah."


Nessa kembali melirik Kak Gama seakan ingin tahu pendapat pria itu tentang perjodohan yang dibuat ibu. Pria itu terlihat datar, dan tidak menunjukkan reaksi apa pun.


"Udah lah Ness, kamu tuh nurut saja sama Mama, lagian kalau nanti kamu nikah kan enak, ada yang biayain kuliah kamu," ujar Mbak There dengan entengnya.


Nessa nampak diam, sebenarnya ia tidak suka hidupnya diatur-atur apalagi tentang perjodohan. Namun, sepertinya ini adalah senjata dirinya untuk melupakan perasaannya selama ini yang salah pada kak Gama. Apa salahnya mencoba, siapa tahu mendapat kecocokan. Toh menikah masih lama, selain umur yang masih terbilang muda Nessa harus selesai kuliah dulu.


"Kamu bisa mencoba kenal dulu, Ness, mungkin menjadi teman baik. Kalau untuk kejenjang serius alangkah baiknya tidak memaksakan, karena menikah itu bukan perkara sehari dua hari, jadi harus benar-benar dipertimbangkan. Kalau kamu merasa sreg boleh lanjut, tapi kalau tidak memang seharusnya tidak dipaksakan," ujar Gama bijak.


Sepertinya Nessa akan mengikuti saran kak Gama, mencoba kenal dulu. Jadi tidak salah kalau mereka bertemu dulu untuk saling mengenal.


"Baik Ma, Nessa mau kalau nanti orangnya hubungi Nessa," jawab Nessa akhirnya.


Gadis itu meninggalkan meja usai sarapan. Masih banyak menyelesaikan orderan. Weekend memang jarang membuat gadis itu tetap santai, selalu disibukkan dengan pekerjaan lainnya yang memang sudah ia geluti dari masa awal kuliah. Ia tetap menikmati seperti biasa.


Benar saja, saat siang menyapa. Nessa mendapat panggilan dari nomor baru yang ternyata Rasyid. Mereka akhirnya melakukan pertemuan siang itu di sebuah kafe. Sekilas pandang, Rasyid adalah tipe cowok cool yang tidak banyak gaya. Tampan, kalem, dan menurut rekomendasi ibu, Rasyid adalah cowok mapan dan bersahaja.

__ADS_1


"Nessa!" jawab gadis itu meraih tangan Rasyid yang menyapanya.


"Kuliah semester berapa?" tanya pria itu berbasa-basi.


"Tujuh, kamu sendiri sibuk apa?" balas Nessa mulai akrab.


Nampaknya Rasyid sejenis pria yang cukup asyik juga walau terlihat cool. Dia supel dan pandai membawa diri, obrolan keduannya pun nyambung.


"Usaha sendiri alhamdulillah ... walau belum begitu besar, tapi insyaallah cukup untuk kehidupan masa depan," jawab pria itu kalem.


"Wah ... pengusaha ya? Masih muda udah jadi pengusaha, salut deh!" puji Nessa jujur.


"Aku juga salut sama kamu yang giat bekerja sambil kuliah. Nanti kapan-kapan bisa join ya? Kalau kamu ada produk makanan olahan yang dipasarkan, bisa nitip di mini market aku."


"Wah ... ide bagus, boleh juga Kak, aku manggilnya apa nih, jadi bingung."


Rasyid masih seumuran Kak Gama, dua puluh enaman tahun. Jadi panggilan yang paling pas untuk disematkan padanya bisa Kak, atau Mas.


Rupanya pria itu suka becanda juga, cukup mengerti dengan selera Nessa yang tidak kaku.


"Aku pikir kamu tuh cowok alim yang suka cewek berhijab, jadi akan sangat tidak nyambung obrolan kita. Ternyata kamu orangnya santai juga."


"Berteman dengan siapa pun boleh kan, selagi mereka itu baik, kenapa tidak."


"Iya sih, btw apakah kamu punya pacar?" tanya Nessa begitu saja.


"Teman cewek banyak, tapi kalau untuk komitmen belum ada. Prinsipku tidak mau pacaran, tapi kalau udah ngerasa cocok ya mau langsung nikah aja. Kamu sendiri bagaimana?" balik bertanya.


"Masih santai, belum kepikiran apalagi masih kuliah. Kamu tahu nggak kalau orang tua kita berniat menjodohkan kita kalau ada ketertarikan diantara kita berdua."


"Tahu, kita bisa jalani dulu. Saling kenal menjadi teman mungkin. Santai saja Ness, orang tua kita pasti memberikan keputusan yang terbaik. Tidak ada salahnya, 'kan? Menurutinya, toh kita bisa pikirkan nanti kalau memang diantara kita memilih pendapat yang berbeda."


"Makasih Kak, mungkin begini lebih nyaman. Aku pikir kita akan menjadi teman yang baik."

__ADS_1


"Eh ya ngomong-ngomong kamu ada acara nggak sore ini. Boleh minta tolong temani aku?"


"Belum ada sih, boleh juga. Ke mana?" tanya Nessa sedikit antusias.


"Hadiri di acara teman sih, keberatan nggak?"


"Mmm ... nggak juga, tapi pakaian aku kayaknya nggak cocok kalau untuk acara tertentu."


"Nanti bisa diatur, yang penting kamu mau dulu."


Nessa mengangguk, apa salahnya mencoba. Rasyid tidak terlalu buruk, walau kak Gama tetap masih memenuhi hatinya.


"Kita cari baju dulu ya buat kamu, ini acara ulang tahun teman aku jadi nanti acaranya sampai malam. Tenang, aku udah telepon Tante Rianti kok, aman!" kata pria itu santai.


"Owh ... oke deh!"


Selesai membuat Nessa cantik dengan bulutan dress pink yang cukup elegan. Mereka benar-benar berangkat bersama, itu pertemuan kali pertama mereka dan keduanya tidak terlihat canggung satu sama lain. Keduanya memang pandai bergaul.


"Kak, seriusan ini aku ikut?"


"Iya lah, serius, ayo Ness. Teman aku di sana!"


Nessa dan Rasyid menghampiri tuan rumah di mana acaranya cukup meriah. Sepertinya teman Rasyid ini bukan orang sembarangan. Banyak tamu yang datang dari kalangan berada, tak terkecuali juga ... Gama. Ya Kak Gama terlihat menghadiri acara itu dengan istrinya. Mereka terlihat memakai pakaian yang serasi, eh tapi tunggu-tunggu, kenapa pria itu terlihat murung?


"Wah kalian di sini juga?" sapa There bersemangat bertemu dengan adik dan juga Rasyid."


"Eh, Mbak There, iya Mbak, acaranya meriah juga ya?" jawab Nessa sedikit kaku. Mencoba tersenyum menyapa keduanya. Mereka akhirnya mengambil duduk yang sama sambil menikmati pesta.


"Kak, aku ke toilet dulu ya?" pamit Nessa sedikit kurang nyaman.


Gadis itu menepi sejenak meninggalkan Rasyid. Menata kembali make upnya dan memastikan tetap cantik di tempat itu. Saat ia keluar dari pintu wanita, Nessa kaget dengan kemunculan kak Gama yang menunggu gadis itu di depan pintu.


"Kak Gama?" tanya Nessa dengan wajah bingung.

__ADS_1


__ADS_2