Main Hati With Iparku

Main Hati With Iparku
Part 35


__ADS_3

Keduanya terlena hingga melampaui batas yang tak semestinya. Perasaan cinta bercampur haru berdesir-desir dalam benak pria itu. Ia menghujani banyak ciuman sayang, tak bisa dideskripsikan rasa bahagia itu begitu meluap. Ia benar-benar lupa segalanya, lupa akan status mereka, hanya ada Nessa dan rasa sejuta kenikmatan yang baru saja mereka lalui.


"Maaf, aku tidak bisa mengontrol diri. Aku terlalu menginginkan dirimu. Apakah kamu menyesal?" tanya pria itu lirih. Ada rasa kasihan melihatnya tersedu. Ia menghapus buliran bening yang terus berdesakan di pipi ayunya.


"Jangan katakan apa pun, dan jangan menyalahkan semua ini. Aku juga turut andil dan menikmatinya."


"Terima kasih Sayang, I love you," ucapnya sembari mencium bahunya yang polos. Menarik dalam pelukan hangatnya.


Perasaan penuh yang membumbung angan, untuk pertama kalinya Gama benar-benar melepas dalam dirinya dengan sempurna, seperti layaknya balon udara yang meledak hingga tak terbendung lagi perasaaan nikmat yang sulit didefinisikan.


Akhirnya pertahanan dirinya pun pecah dalam dekapan adik iparnya yang diam-diam juga mengaguminya. Keduanya melebur dalam untaian rasa yang memabukkan hingga menyilaukan apa yang seharusnya tidak mereka lewati.


"Kamu layak menjadi bidadariku, Sayang. Jangan mengkhawatirkan apa pun setelah ini. Aku mencintaimu, mari kita menikah," ujar pria itu sungguh-sungguh.


Nessa hanya diam, merasakan perasaannya yang campur aduk. Walaupun ada rasa bersalah yang besar, namun tak bisa dipungkiri terselip rasa bahagia di tengah rasa cemas yang sebenarnya menghampiri sejak awal terjadi.


"Apa tadi itu sakit?" bisik Gama seduktif.


"Hanya awalnya saja, tapi setelahnya—" Nessa tak melanjutkan, terlalu malu untuk mengatakan itu, pipinya memanas, ia menyembunyikan wajahnya di depan dada bidangnya. Sementara pria itu memeluknya semakin erat.


Gama sudah lama merindukan perasaan ini, pelepasan sempurna setelah tiga tahun lamanya menikah belum ia dapatkan dan pada akhirnya malah terealisasi dengan orang lain. Apa yang dilakukannya memang salah dan melanggar norma, tapi jujur sejatinya ia hanya manusia biasa yang tak pernah luput dari dosa dan khilaf.


***

__ADS_1


Tiga tahun Gama bersabar, enam bulan pertama pernikahannya, pria itu baru tahu kalau istrinya mengidap penyakit vaginismus. There selalu menolak untuk diajak berhubungan karena mengeluh sakit. Terapi yang dijalani tidak begitu banyak membantu karena dari There sendiri sudah down lebih dulu. Bagi penderita vaginismus aktivitas **** adalah hal yang cukup menakutkan.


Sudah tiga tahun menikah, pasangan ini tidak bisa melakukan layaknya pasangan suami-istri pada umumnya.


There menyadari kondisinya tersebut ketika pertama kali hendak berhubungan dengan suaminya. Saat itu, dia mengira reaksi tubuhnya adalah hal yang wajar. Tapi rasa sakit itu selalu dialami saat dia dan suaminya kembali mencoba di hari-hari berikutnya.


Semakin dipaksa untuk melakukan hal lebih, semakin perempuan itu merasa trauma dengan hubungan yang seharusnya mereka jalani karena rasa sakit yang ditimbulkan oleh si penderita. Bahkan yang terjadi padanya saat ini kehilangan hasrat seksualnya dan ketakutan memulai pengobatan.


Satu tahun Gama masih optimis, pria itu sabar menemani, tetapi seiring berjalannya waktu bentrok dengan kegiatan There yang semakin mentereng di dunia modeling. Membuatnya malas, bahkan ogah-ogahan untuk terapi. Menganggap memuaskan suami tanpa penyatuan itu cukup baginya. Padahal making out bagi pria dewasa yang beristri jelas menginginkan lebih dari itu.


Walaupun demikian ia tetap bertahan sampai tiga tahun berjalan, berharap ada semangat baru dari istrinya, mungkin dengan tetap mengizinkan ia berkarir akan menjadi tumbuh rasa percaya diri dan berusaha sembuh. Nyatanya perempuan itu malah semakin abai dan seperti lupa kalau ia sakit dan butuh berobat.


Gama seperti terus dibayangi rasa tak tentram, tapi ia juga tidak bisa lepas begitu saja, karena kasihan dan juga masih ada perasaan cinta. Apalagi saat ayahnya meninggal, There semakin terpuruk dan pendiam. Ibu sakit-sakitan, lengkap sudah membuatnya tak tega untuk meninggalkan perempuan itu.


Hal yang paling krusial saat ini, There merasa tak minat bahkan kehilangan hasrat untuk melakukan itu. Jelas saja Gama gersang, tidak mungkin juga ia bermain sendiri setiap waktu menginginkan. Ditambah kesenjangan keduanya yang jarang ada waktu bersama, jelas memperburuk keadaan rumah tangga keduanya yang memang sudah bermasalah.


***


"Bagaimana kalau nanti Mbak There nyariin Kakak?"


"Aku udah bilang pulang ke rumah mama, butuh ketenangan. Kalau kamu sendiri buat alasan apa? Jangan-jangan kamu membuat mama khawatir."


"Udah pamit kok, pulang agak malam, tapi tentu saja tidak menginap."

__ADS_1


"Aku tidak rela malam ini berlalu begitu cepat. Aku masih ingin menghabiskan sisa malam ini bersamamu. Aku takut kamu akan menghilang disaat aku terpejam."


"Ini seperti mimpi, biarlah menjadi dosa termanis yang aku selami."


.


TBC


.


Hallo all ...


Sebelumnya mau ngasih tahu pada pemirsah, cerita ini hanya fiktif dan hiburan semata yang sedikit bikin deg degan.


Siapkan kopi dan cemilan biar bacanya santai karena ke depannya bakalan kaya rollercoaster yang siap mengaduk-aduk hati kalian.


Huhf ... rileks rileks!


Yang nungguin pov There nanti dimunculin ya gaes ...


Tenang, semua mempunyai jatah masing-masing sesuai perannya.


Jantung aman? Masih kuat baca? Lanjut ya ....

__ADS_1


Isi cerita disesuaikan dengan judulnya ya gengs, jadi kalau yang nggak kuat baca silahkan lambaikan tangan. Tapi kalau kalian suka pastikan dukung cerita ini sampai end.


Terima kasih yang masih stay love you pull 😘😘😘


__ADS_2