
Nessa yang gemas melayangkan cubitan sayang pada suaminya. Bisa-bisanya pria itu begitu menempel dan berkata demikian di depan saudara lainnya.
"Adoh ... geli sayang, jangan kdrt," gurau Gama terkekeh.
"Minum Mas, habisin!" ujarnya mengalihkan obrolan.
"Pagi ini mau sarapan apa?" tanya Nessa belum beranjak dari dapur.
Sementara Tante dan kerabat lainnya meninggalkan dapur setelah menyeduh kopi dengan bantuan Nessa.
"Mau yang spesial, paket lengkap madu murni," ujarnya tersenyum sembari menatapnya lekat.
"Apa sih? Segitu banget lihatinnya." Nessa jelas tidak paham.
"Sarapan apa, Mas? Ini masih banyak banget lauk dan macemnya."
"Aku nggak mau yang ada di situ, Sayang. Aku mau yang lain," ujar Gama serius.
"Oke, monggo dipilih menunya Mas, nanti bisa request, kalau aku belum bisa ngolahnya nanti belajar sama laman pintar yang bisa menjawab kegundahan ini."
"Nggak bisa dipilihnya, cuma satu terspesial dan tak terganti."
"Ada kah, makanan favorite Mas ya? Apa?"
"KAMU," jawab pria itu singkat padat dan kurang jelas.
"Hah, aku? Macam menu saja Mas."
__ADS_1
"Hehehe, pengen ngulang yang semalam boleh?" pinta pria itu sedikit lebih dekat.
"Boleh, tapi nanti ya, nggak enak takut kelepasan. Lagian mau buat sarapan juga."
"Iya juga sih. Hehe. Mau masak apa? Aku makan yang udah ada aja," ujar pria itu tidak neko-neko.
"Aku ambilin Mas, tunggu aja di meja makan."
"Pagi Sayang, lagi ngobrolin apa? Pengantin baru rajin amat Nak," sapa Bu Marta menyambangi dapur.
"Nggak ada Ma, ngobrolin misi masa depan. Eh ya, nanti sore Gama pulang ya Ma," kata pria itu pamit.
"Loh ... kenapa buru-buru, tinggal di sini aja dulu. Biar nemenin Mama juga."
"Kita bakalan sering main kok Mah jangan khawatir. Mohon izinnya di acc biar keinginan Mama cepet terealisasi. Hehe."
"Beda dong Mah, kalau di rumah sendiri pasti beda."
"Iya deh iya yang pengantin baru, Mama ngerti, janji ya sering jengukin. Kalau nggak nanti Mama yang pindah ke rumah kamu," gurau Bu Marta terdengar serius.
Sejujurnya tinggal di rumah Mama juga cukup nyaman, namun pasangan halal itu lebih ingin mandiri saja.
"Pasti dong Mah," jawab Gama sembari memeluk perempuan yang telah melahirkan dirinya ke dunia.
Nessa ikut membantu ibunya menyiapkan sarapan. Suasana rumah masih terlihat ramai lantaran kerabat banyak yang menginap dan baru mau pulang nanti, sore ini juga.
"Oke, nanti sore pulang ke rumah kita Sayang."
__ADS_1
Bakda sholat ashar setelah jamaah, Nessa dan Gama bersiap pulang ke rumah yang dulu pernah ia pinjam. Sebenarnya Gama menawarkan tempat lain apabila istrinya tidak nyaman. Namun, seperti yang Gama ketahui bahwa Nessa bukan tipikal yang ribet. Ia menurut saja saat itu menjadi keputusan suaminya.
"Nggak ada yang ketinggalan kan? Kaya mimpi tapi nyata, akhirnya kita beneran berumah tangga," ujar pria itu menjeda aktivitasnya. Menatap haru penuh perasaan bahagia. Saat ini mereka tengah mengemas barang apa saja yang hendak dibawa. Kebanyakan punya Mas Gama.
"Mas, aku juga belum pamit sama ibu kost, nanti setelah dari sini mampir sekalian pamit dan ambil barang- barang aku," ujar Nessa penuh solusi.
"Besoknya nggak pa-pa, aku antar."
"Aku cuma ambil cuti tiga hari Mas, aku kan baru, jadi besok udah masuk."
"Masya Allah ... secepat itu? Gimana ceritanya? Kalau aku menginginkan kamu di rumah aja, gimana?"
"Aku nggak keberatan Mas, tetapi masalahnya aku terikat kontrak awal tiga bulan, kalau mundur sebelum masa itu habis ya aku kena denda. Jadi, paling keluar setelah tiga bulan."
"Nggak pa-pa sebenarnya, aku bisa nalangin, aku pengen kamu di rumah aja untuk aku dan anak-anak kita kelak, sayang."
"Aku paham Mas, aku mau, udah hampir berjalan dua bulan kok, sambil nunggu aku hamil juga dari pada nggak ada kegiatan, boleh ya Mas?"
"Apa nggak terlalu capek, nanti aku pulang kamu belum pulang, aku paling nggak suka."
"Terus ini baiknya gimana?"
"Cuma sebulan kan? Habis itu ikhlas buat ngurusin rumah dan suamimu."
"Iya Mas, ikhlas, sejak memutuskan menerima kamu, aku juga harus siap mengorbankan karirku, demi mengikutimu."
"Masya Allah ... terima kasih Sayang atas pengertiannya." Gama menarik istrinya dalam pelukan, merasa sangat bersyukur mempunyai Nessa yang penurut sesuai yang Gama harapkan saat berumah tangga nanti.
__ADS_1