Main Hati With Iparku

Main Hati With Iparku
Part 47


__ADS_3

Gama terus memijit tengkuk pujaan hatinya, sementara tangan yang lainnya mengumpulkan rambutnya ke belakang.


"Kamu terlihat kurang sehat, kita ke dokter saja," bujuk Gama prihatin.


Nessa terdiam sembari sibuk mencuci mulutnya. Ia merasa sedikit pusing dan lemas, sepertinya nanti harus minum obat. Menyadari tingkah Gama yang terlalu dekat, refleks Nessa membuat jarak.


Gadis itu tercengang saat mendapati Rasyid berdiri tak jauh darinya. Pria itu masih menyimak dengan interaksi keduanya, walaupun tak menimpali apa pun, jelas saja Rasyid curiga. Lusa, Rasyid harus meminta penjelas atas semua ini. Mengingat kedekatan mereka, interaksi keduanya sangat tak lazim di matanya.


Saat Nessa hendak beranjak, netra keduanya bertemu. Nessa dan Gama terlihat salah tingkah. Namun, Gama sepertinya lebih santai dengan semua ini dibanding Nessa yang terlihat kurang nyaman. Andai saja tidak ada Rasyid di sana, sudah pasti pria itu akan membawa Nessa-nya dalam pelukan hangatnya.


"Mas, makan malamnya, ada apa sih?" tanya There menyusul dengan kesal. Menyorot interaksi kedua orang yang terlihat saling diam, namun cukup mencuri perhatian.


"Kamu nggak pa-pa?" Rasyid mendekat dengan khawatir. Membuat Gama sedikit kesal dan cemburu dengan perhatiannya.


Jujur, Nessa tidak ingin kembali ke meja makan. Apalagi jika ada bau udang yang menyengat, bisa-bisa Nessa muntah di tempat. Kepalanya semakin berdenyut saja.


"Ness, kamu kenapa Sayang?" tanya Ibu terlihat khawatir menemukan putrinya kembali ke meja makan.


There mulai tidak suka dengan Nessa yang seakan caper dengan semua orang.


"Sakit apa sih? Caper ya?" tanya There blak-blakan.


Perempuan itu memang suka berbicara terlalu ganblang bila tidak berkenan di hatinya. Tak peduli sedang banyak orang.


Nessa hanya diam, semakin tidak nyaman dan perutnya seakan kembali bergejolak saat melihat udang dengan baunya.

__ADS_1


Astaga, aku kenapa sih! Please ... kuat sampai makan malam ini selesai. Jangan membuat malu keadaan, Nessa!


"Nessa sedikit kurang enak badan, Ma, maaf ya Tante, Om, Nessa izin mendahului," pamit Nessa undur diri. Perempuan itu tidak tahan, dan takut kembali mual.


"Nessa sakit? Apa perlu kita panggilkan dokter?" tawar Bu Sukma perhatian.


"Terima kasih Tante, hanya sedikit pusing dan mual. Sepertinya masuk angin."


"Aku duluan Syid," pamitnya sebelum beranjak. Nessa dengan terpaksa meninggalkan ruangan karena tubuhnya tidak bisa diajak sejalan.


Rasyid mengangguk, sekilas menatap Gama yang terus menyorot Nessa. Masih menunjukkan padangan kagum dan rasa khawatir yang begitu kentara. Pria itu pun tersenyum tak percaya dalam hati. Saking penasarannya, Rasyid sebelum pamit sampai bertanya pada There.


"Apakah kamu yakin? Bahwa hubungan rumah tanggamu baik-baik saja," bisik Rasyid pada There yang seketika membuat perempuan itu tercengang.


"Aku seperti membaca jawaban lain di mata kamu dan Gama."


Deg


Sudah menyimpan secara rapat pun masih bocor juga, rasanya sakit. Entah mengapa bisikan Rasyid membuat There dongkol saja. Setelah kepulangan Rasyid dan keluarganya, There langsung menuju atas. Tidak menemukan suaminya di kamarnya, membuat perempuan itu semakin murka.


Sementara Gama sendiri begitu acara makan malam selesai langsung melesat ke lantai atas. Menyusul Nessa ke lantai dua.


Pria itu khawatir dan cemas dengan apa yang Nessa keluhkan.


"Sayang, kamu pucet banget. Aku takut bukan hanya sekedar masuk angin tapi ada indikasi lain," ujar Gama perhatian.

__ADS_1


"Mas, kamu ngapain nyusul ke kamar sih!" protes Nessa tak setuju.


"Aku mengkhawatirkan dirimu, Nessa, tolong jangan usir aku."


"Aku semakin pusing melihatmu di sini. Please ... aku butuh istirahat!" mohon Nessa merapatkan sepuluh jarinya.


"Sudah saatnya kita jujur, Ness, aku tidak mau menyimpannya."


"Nggak! Kamu keluar Kak, aku akan marah kalau kamu tetap bertahan di kamar ini. Tolong kamu ngerti kondisi aku."


"Aku hanya mengkhawatirkamu, dan mungkin malam ini aku akan pulang ke rumah. Tolong jaga dirimu baik-baik, besok aku akan kembali."


Saat Gama keluar dari kamar Nessa, saat itu lah mendapati There tepat di depan kamar adiknya. Pandangan mereka bertemu, dengan tanda tanya yang besar.


"Jujur apa, Mas?" tanya There tidak ramah. Menatap keduanya secara bergantian.


"Pamit, mulai malam ini aku akan meninggalkan rumah ini."


"Hah pamit? Ada urusan apa sampai pamit segala? Sedekat itu kah? Sampai harus menyusul ke kamarnya? Kamu masih punya satu janji padaku, setidaknya sampai hari itu tiba," kesal There terus menekan pria itu.


"Besok, aku akan kembali," ujar Gama dingin.


"Apa yang membuat kamu begitu perhatian dengan Nessa, mataku tidak buta!" bentak There murka.


Nessa hanya terdiam, lebih tepatnya shock dengan terpaan There begitu tiba-tiba.

__ADS_1


__ADS_2