
"Kak Gama?" tanya Nessa dengan wajah bingung. Mendapati pria itu berdiri santai sambil tersenyum. Sengaja menunggu Nessa di depan toilet.
"Kamu terlihat cantik malam ini, nanti pulangnya jangan malam-malam ya. Ingat besok masuk kerja!" pesan pria itu seraya menata rambutnya yang menghalangi kening.
Nessa yang kaget dan merasa aneh hanya mengangguk mengiyakan.
"Iya Kak, mungkin bentar lagi pulang," jawab Nessa tersipu. Selalu saja pria itu memberikan sedikit perhatian.
"Apa kamu senang dengan pertemuan pertamanya?" tanya pria itu kepo.
Pertanyaan macam apa itu, haruskah Nessa menjawab dengan jujur?
"Rasyid pria yang baik, tidak sulit untuk membuat kami akrab. Kakak keberatan?"
Ya ampun ... Nessa! Bisa-bisanya kamu melontarkan pertanyaan itu?
Gama tersenyum kalem, lalu berlalu begitu saja tanpa menjawab. Membuat gadis itu sedikit kesal, Nessa pikir Kak Gama akan sedikit cemburu menemuinya ditempat yang sama dengan pria lain, ternyata ekspresinya cukup membanggongkan.
Nessa bergegas menemui Rasyid, tak berselang lama mereka pun memutuskan pulang. Keduanya berencana membuat pertemuan kedua bila ada kesempatan. Pria itu juga mengantar Nessa sampai rumah. Nampak mobil Kak Gama sudah terparkir rapi di garasi saat gadis itu sampai di rumahnya.
"Makasih ya, hati-hati di jalan!" ucap Nessa melambaikan tangannya. Gadis itu langsung masuk begitu mobil Rasyid meninggalkan pekarangan rumahnya.
Nessa melangkah cepat menuju kamarnya, membersihkan diri dan mengecek ponselnya. Kebetulan Bima sedang on line dan gadis itu menyempatkan bertelepon ria sambil curhat.
"Jadi, kamu sukses dengan kencan butamu itu?" tanya Bima di ujung telepon.
"Dia pria yang baik, sesuai dengan saranmu, aku harus mencoba dengan orang yang baru. Ya walaupun aku nggak tahu endingnya bakalan kaya gimana."
"Itu sudah benar, jangan sampai tingkah kamu yang konyol itu menjerumuskan dirimu pada perasaan yang salah. Owh ya ngomong-ngomong Rasyid itu teman aku, dia yang ingin aku kenalkan padamu rencananya. Kenapa bisa pas banget, aku rasa kalian cocok?"
__ADS_1
"Owh ya, dia tampan juga, tapi masih tampan Kak Gama sih," jawab Nessa cekikikan. Kakinya melangkah ke balkon kamar, tanpa sadar ada yang memperhatikan gerak geriknya di tetangga balkon sebelah.
Sial, aku memujinya. Apa dia dengar?
Nessa menyoroti seseorang yang kini tengah menatapnya serius. Tak ingin terlibat saling sapa dengan tetangga kamarnya, gadis itu langsung kembali kembali ke kamarnya karena tidak nyaman diperhatikan. Ia mengakhiri panggilan itu setelah keduanya puas melempar curhat. Berencana ingin tidur, namun kebanyakan mengobrol tadi nampaknya membuat tenggorokannya haus.
Jarum jam pendek sudah menunjuk di angka sebelas malam ketika gadis itu keluar.
"Habis memuji terus lari, kau sungguh tidak bertanggung jawab," celetuk kak Gama yang membuat gadis itu tersedak menyemburkan air di mulutnya.
"Astaghfirullah ... nggak bisa ya kalau nggak ngagetin. Aku tidak ngomongin Kakak, kamu salah dengar!" ucap Nessa gugup. Tak ingin banyak lagi mengobrol, gadis itu berencana langsung pergi dari dapur. Namun, di luar ekspektasi, pria itu menarik tangannya.
"Ness!" panggil pria itu hampir membuat jantungnya melompat.
"Iya Kak," jawab gadis itu melepas tangan mereka yang masih tersambung. Sungguh situasi yang sudah tidak aman untuk keduanya. Walau diam-diam Nessa menyukai, tetap saja memerlukan benteng pembatas untuk segera menyadari kesalahannya.
"Owh ya Tuhan ... ini benar nggak sih, Kak Gama memintaku tanpa basa-basi. Apa otak pria itu sudah eror, atau aku sekarang sukses menarik perhatiannya," batin Nessa mulai halu.
"Ness, kok melamun sih, keberatan ya?"
"I-iya kak, bisa!" jawab gadis itu dengan perasaan gamang. Mbak There sedang di rumah, dan dua hari ini sikapnya sungguh aneh, entah itu perasaannya saja atau memang sedang ada masalah dengan suaminya. Tidak seharusnya juga gadis itu mencari celah dalam kegalauan perasaan orang.
Nessa menuang gula dan kopi sesuai takaran dalam gelas. Sedikit grogi saat menuang air panas hingga tanpa sadar mengenai jemarinya.
"Awwhh ....!" desis gadis itu refleks menjauhkan tangannya.
"Ness ... nggak pa-pa?" Pria itu meneliti tangan Nessa dengan khawatir. Meniup-niup lembut seakan takut terluka.
"Nggak pa-pa," gadis itu langsung menarik tangannya dalam genggaman.
__ADS_1
"Itu kopinya Kak, maaf aku ke kamar dulu," ujar gadis itu berlalu. Sebelum hatinya tidak bisa menguasai diri, buru-buru gadis itu melarikan diri. Karena gugup, malah membuat kakinya tersandung hampir terjerembab bila Kak Gama tidak sigap menahan bobot tubuhnya.
Keduanya terdiam beberapa detik, saling mengunci dalam diam. Nessa membiarkan saja insiden penuh perasaan ini berlanjut.
"Ngomong-ngomong mau sampai kapan kita kaya gini?" tegur Nessa mengembalikan kewarasanya.
"Eh, ya ... kamu nggak pa-pa?"
Nessa mengangguk, jantungnya selalu tidak tenang bila terus berdekatan begini.
"Tangan kamu merah, aku obatin ya?"
"Nggak usah kak, nanti sembuh sendiri, cuma kena sedikit."
Gama berlalu dengan cepat mengambil salep pereda nyeri.
Dengan hati-hati mengambil tangan itu, lalu mengolesi lembut.
"Kak, biar aku saja, luka kecil lagian Mbak There di rumah nanti kalau lihat bisa salah paham."
"Apa yang meski disalahpahami, kamu kan 'adik kami' tenang ya?"
"Adik ya?" tekan Nessa selalu merasa nyeri setiap kali kata itu menyadarkan statusnya yang tidak mungkin lebih.
"Iya, memangnya kamu mau dianggap selain adik?" tanya Gama bagai jebakan baginya.
Nessa terdiam, menjauhkan tangannya yang masih dalam genggaman.
"Jawab Ness, kenapa diam?" tanya pria itu tak sabaran.
__ADS_1