Main Hati With Iparku

Main Hati With Iparku
Part 64


__ADS_3

Setelah kurang lebih tiga hari dirawat di rumah sakit, Nessa akhirnya bisa pulang. Mama Rianti menganjurkan untuk Nessa kembali ke rumah, namun Gama jelas menolak. Tentu saja pria itu tidak setuju dan takut kalau There akan menyakiti bahkan berbuat anarkis yang membahayakan keselamatan calon istrinya.


Perempuan itu sepakat untuk pulang ke rumah Gama yang ditempati sebelumnya. Nessa memang butuh ketenangan terlepas dari apa pun itu. Gama juga membebaskan aktivitasnya asal memperhatikan kondisi kesehatannya. Pria itu mengunjungi Nessa setiap waktu dan bila ada kesempatan. Ia akan pulang setelah Nessa mengusirnya demi kemaslahatan bersama.


Bahkan Gama adalah salah satu pria yang hadir memberi support untuk Nessa saat perempuan itu wisuda. Kelulusan yang dinantikan Nessa selama ini. Selalu ada jalan terbaik di setiap kesulitan yang menimpa. Nessa pikir, ia akan molor ternyata dimudahkan lulus dan wisuda tahun ini. Bahkan perempuan itu mendapat IPK yang cukup tinggi dengan predikat mahasiswa terbaik di jurusannya.


"Happy graduation, atas apa yang kamu raih saat ini. Aku sungguh merasa sangat bahagia. Terucap doa tulus, semoga ilmu bermanfaat dan berkah dunia akhirat. Semoga selulusnya kamu dari sini, tidak membuat langkah terhenti mengejar cita yang hakiki."


"Terima kasih Kak, untuk semua hal yang telah kakak beri. Waktu dan materi, aku berhutang banyak padamu. Suatu hari nanti, pasti akan aku ganti," ucap Nessa bersungguh-sungguh.


"Kamu tidak harus mengganti dengan apa pun, cukup hatimu saja kamu beri untukku. Nessa ... maukah kamu menikah denganku?" pinta Gama serius. Hatinya berdesir kala menatap wajah ayunya.


Tiba-tiba setelah acara wisuda usai, dengan pria itu hadir di tengah-tengah kebahagiaan yang ada. Gama melamarnya tanpa ragu. Pria itu menyiapkan sebuah tempat yang begitu indah untuk acara itu dibantu Bima yang selalu ingin melihat Nessa bahagia.


Sebuah cincin berkilauan tersodor di depan mata, rasanya Gama sudah tidak sabar untuk menyematkan di jari manisnya. Menginginkan kehidupan bahagia bersama setelah melewati begitu banyak jalan terjal yang membentang.


Di situ Nessa seperti speechless, tidak menyangka Gama akan menyiapkan serangkaian kejutan untuk dirinya. Di tengah rasa galau dan bimbang yang melanda, Nessa tentu tidak ingin membuat pria itu kecewa. Terlepas dari semua hal yang telah pria itu berikan untuknya.


"Terima kasih untuk kejutannya Kak, tapi ... boleh nggak kalau jawabannya ditunda dulu," ujar perempuan itu jujur. Ada banyak hal yang ingin Nessa sampaikan pada pria itu.

__ADS_1


Gama sebenarnya tidak sabaran untuk hal itu, terlebih ia sudah memberikan ruang dan waktu untuk Nessa beberapa bulan ini berpikir. Rasanya sungguh tidak adil jika untuk menunda lagi.


"Aku mau menikah dengan kamu, Mas, tapi—tidak sekarang, dan tidak dalam waktu dekat ini," jawab Nessa yakin. Sebuah keputusan yang sulit, namun harus Nessa ambil dan sudah diperhitungkan dengan mantab sebelumnya.


Gama mengangkat alisnya, bingung tapi itulah yang keluar dari mulut kekasihnya.


"Apa yang membuatmu ragu? Untuk apa menunda lagi suatu kebaikan yang sudah di depan mata," ujar pria itu kembali resah.


"Aku sudah memutuskan untuk melanjutkan kuliah di London Mas, aku dapat beasiswa jenjang S2 dan aku mengambilnya."


"Aku tahu pernikahan itu penting, namun aku ingin juga bisa berdiri di kaki aku sendiri tanpa bayang-bayang masa lalu yang ada."


"Jangan bersedih, aku hanya singgah, bukan untuk pergi. Jika suatu hari nanti aku pulang, dan perasaan itu masih sama, maka kita bisa melanjutkan kisah ini yang tertunda. Tetapi jika Kak Gama mempunyai pilihan lain, aku membebaskan dirimu, Kak, jangan menungguku," ujar Nessa sendu.


Seharusnya ini menjadi hari bahagia untuk Nessa, sekaligus untuk Gama. Nyatanya hari ini menjadi hari yang cukup membuat hatinya pilu.


"Kamu memberiku arti hidup yang baru, aku ingin menua bersamamu. Aku berjanji akan menunggu, tetap mencintai selama sisa hidupku."


"Jangan kamu jadikan beban perpisahan ini, Kak, setelah aku pergi aku membebaskan dirimu tanpa harus terikat apa pun dengan aku. Aku mencintaimu, selalu," ucap perempuan itu.

__ADS_1


"Apa kamu tengah mengulur waktu, atau sebenarnya tengah menunda perpisahan. Bagaimana kalau kamu yang tidak bisa setia untuk waktu dua tahun ini, selama kita terpisah jarak dan waktu."


"Aku jamin hatiku masih sama, segumpal daging yang selalu akan menyebut namamu dalam setiap doaku. Jika nanti aku pulang cerita kita sudah tidak sama, tentang dirimu, mungkin itu yang terbaik untuk kita berdua."


Gama langsung menarik perempuan itu dalam pelukan. Mendekapnya begitu erat. Rasanya tak rela jika harus terpisah batin dan raga.


"Kenapa kamu suka sekali menyiksaku, apakah aku harus membuatmu hamil kembali supaya kamu bisa nurut dan tetap di sini."


"Aku akan marah untuk hal itu, kita bisa membuatnya nanti setelah menikah."


"Dua tahun terlalu lama, Nessa, aku tidak sanggup."


"Jalani saja dulu, kita pasti bisa melewati ini semua."


"Aku tidak suka scene ini, aku ingin dua tahun cepat berlalu."


"Jemput aku, dan sambut aku di bandara nanti. Jika kamu sanggup menunggu. Jika LDR itu terlalu menyiksamu, kakak bisa memulai dengan orang yang baru."


Gama menangkup kedua pipinya, netra itu bertemu dalam untaian kata. Walaupun bibir keduanya terkunci rapat, namun mata itu seakan berbicara lewat bahasa tubuh dan batinnya. Detik berikutnya, tak ada lagi sekat, keduanya mempertemukan bibir mereka dalam balutan syahdu yang mengharu biru.

__ADS_1


__ADS_2