
Pagi yang indah mentari bersinar dengan terangnya. Mengisi ruang damai yang hampir terlupa. Duduk santai sembari menikmati secangkir kopi. Menyeruput perlahan hingga manis dan pahitnya menyatu di pinggir-pinggir bibir yang beraroma doa.
Sudah hampir dua bulan Nessa tiba di tanah air, ia kembali dengan hati yang lebih lapang dan merindukan kedamaian. Tak tersisa kebencian sedikit pun, walau hatinya menggenggam rindu pada orang-orang tersayang.
Hari masih begitu pagi, setelah menghabiskan satu kopi yang belakangan ini menjadi minuman favoritnya. Nessa sengaja keluar rumah untuk mengunjungi makam kedua orang tuanya. Yang tempatnya menjadi satu dengan makam ayah sambungnya.
Perempuan itu mengirim doa, sengaja datang pagi sebelum berangkat bekerja. Sudah sebulan lebih Nessa bekerja di sebuah perusahaan manufaktur. Ia lebih banyak menghabiskan waktunya di rumah. Jarang keluar selain urusan pekerjaan. Bukan niat hati mengasingkan, namun lebih suka diam dan mengurangi kegiatan di luar yang kurang berkenan.
"Nggak nyangka, kita dipertemukan lagi di tempat kerja," pekik Nawang girang. Begitu mendapati Nessa di tempat kerjanya yang baru.
"Aku juga masih baru kok, mungkin ini yang dimaksud konsep jodoh pertemanan. Semoga bisa menjadi saudara."
"Sekarang tinggal di mana?" tanya Nawang sungguh ingin tahu.
"Nggak jauh kok dari sini, sengaja nyari tempat kost yang dekat dengan tempat kerja," ujar Nessa jujur. Sebenarnya ia ingin kembali ke rumah, merindukan ibu namun takut tidak diterima.
"Wah ... kapan-kapan main ya?" ujar perempuan itu senang.
Nessa akan pulang lebih larut jika memang harus ikut lembur. Saat ini perusahaan tengah mengeluarkan produk minuman baru. Perempuan itu beserta tim lainnya ikut serta dalam proyek tersebut. Target utama memasarkan pada khalayak umum untuk mengenalkan produk terbaru mereka.
"Nessa, ikut meeting lima belas menit lagi," interupsi Mbak Hana. Sekretaris Pak Abi sekaligus orang terdekatnya.
"Siap Mbak," jawab Nessa bergegas.
__ADS_1
Perempuan itu membantu menyiapkan berkas yang dibutuhkan untuk bahan nanti. Meeting kali ini dilakukan di luar gedung. Sengaja bertemu dengan klien penting di sebuah resto kenamaan.
"Sorry Nessa, kalau aku dan Pak Abi terlihat santai, kita memang ada hubungan khusus selain pekerjaan," ujar Mbak Hana blak-blakan.
Mereka satu mobil dengan Nessa duduk di belakang. Keduanya memang terlihat dekat satu sama lain. Tapi perempuan itu tidak mau kepo dengan urusan orang lain.
"Siap Mbak, santai saja, aku netral kok," jawab Nessa kalem. Terlebih ada urusan pribadi itu hak mereka dan itu bukan ranahnya.
Nessa mengikuti langkah Mbak Hana dan Pak Abi yang berjalan di depannya. Mereka sengaja memesan tempat pertemuan di sebuah resto dengan outdoor alam terbuka. Sangat cocok untuk berdiskusi menemui klien nanti.
Setelah Nessa dan atasannya tiba beberapa menit lalu, terlihat dengan jelas sebuah mobil memasuki area itu.
"Ness, sudah siap kan semua berkasnya?"
"Kita cermati dulu konsep yang ditawarkan, kalau tertarik ambil tapi kalau nggak kita bisa cancel," ujar Pak Abi setaya berdiri menyambut tamu yang baru saja datang.
"Selamat siang Pak, mohon maaf saya mewakili bos kami yang siang ini tidak bisa hadir. Beliau sedang berhalangan, namun bisa dimulai dari sekarang untuk tidak menunda waktu berharga Bapak."
"Wah ... sayang sekali kalau diwakilkan. Bisa dijelaskan konsepnya Pak!" pinta Mbak Hana.
"Kami menawarkan konsep dari media elektronik dan juga event khusus yang akan digarap sebagai sample iklan. Untuk jenis produknya karena berupa minuman nanti akan lebih bagus menggunakan model sebagai media pembawaannya. Nanti dari perusahaan memfasilitasi ataupun mau cari sendiri dengan yang sudah punya nama boleh," jelasnya lugas.
Nessa menyimak dan menulis point penting yang akan menjadi bahan pertimbangan. Entah keduanya belum menyadari atau tidak, Nessa dan Bayu saling diam dengan tanda tanya yang besar.
__ADS_1
"Kami akan mengabari dalam waktu kurang lebih dua puluh empat jam," ujar Mbak Hana yakin.
"Terima kasih sudah merekomendasikan layanan kami. Ditunggu kabar baiknya. Projek yang datang belakangan akan kami list setelahnya. Sesuai kinerja di lapangan."
Antara Bayu dan Pak Abi saling berjabat tangan. Menandakan diskusi kali ini disudahi.
"Mohon maaf, kami langsung pamit," ujar Mbak Hana lalu. Nessa mengikuti.
Bayu yang ragu-ragu melihat penampilan perempuan itu pun seketika masih terbayang di tempat.
"Tunggu!" cegah pria itu menghentikan langkah ketiganya.
"Maaf Pak, saya butuh asisten sekretaris Bapak, kami saling mengenal. Sebentar saja," ujar Bayu memberanikan diri.
"Owh ... silahkan, kami tunggu di mobil," jawab Pak Abi mengizinkan.
"Ternyata beneran kamu, Nessa aku pangkling," ujar Bayu berbinar.
"Iya Bay, aku Nessa. Apa kabar?" sapanya menurunkan canggung.
"Baik, tapi tidak dengan Pak Gama, maukah kamu nanti ikut denganku?" ujar Bayu dengan wajah memohon.
"Saya harus kembali ke kantor, Mas Gama kenapa?"
__ADS_1