Main Hati With Iparku

Main Hati With Iparku
Part 74


__ADS_3

Nessa terdiam beberapa saat, jujur ia kaget dengan pernyataan Bu Marta. Tidak persiapan apa pun dan tiba-tiba dilamar. Sementara Gama pun sama, tidak menyangka kalau ibunya berbesar hati menyiapkan semua ini untuk Nessa.


"Ini cuma sekedar meminta secara tersirat Sayang, kamu tidak merasa terpaksa, bisa katakan iya kalau hatimu yakin, atau bisa juga tidak bila memang ragu," ujar Bu Marta sama sekali tidak memaksa.


Gama menunduk dalam, hatinya deg degan luar biasa. Dulu pernah ditolak Nessa, atau lebih tepatnya meminta ditunda. Saat sudah kembali Nessa pun kembali menolak karena dirinya bahkan tidak termasuk dalam daftar list kriteria calon imam menurutnya. Pria itu merasa belum pantas, dan tengah memperbaiki diri seraya meminta petunjuk pada Tuhan.


"Mmm ... sesungguhnya saya banyak kekurangan Tante, saya juga tidak punya siapa-siapa," jawab Nessa dengan bingung.


"Kami sudah tahu Nak, kami mempertimbangkan semua yang terbaik untuk kalian. Jika berkenan, alangkah baiknya hubungan kalian segera dihalalkan," ujar Bu Marta seakan tahu tentang dalamnya hati putranya.


Gama yang nampak menunduk dalam itu masih menyimpan cinta yang begitu besar untuk Nessa. Hampir setiap malam namanya selalu menggema dalam doa dan sujud panjangnya. Kalau memang berjodoh meminta diberikan petunjuk jalan, kalaupun mungkin bukan jodoh yang tepat, memohon dengan hati lapang keridhoan hatinya.


Mungkin ini kah petunjuk dari Tuhan, lewat mama doa itu menggema. Terbukti hari ini, ibunya tiba-tiba melamarkan untuk dirinya. Sesuatu di luar dugaan, namun kalau boleh jujur Gama begitu terharu dan bahagia.


Setelah terdiam cukup lama, Nessa memberanikan diri menatap Gama yang saat ini bahkan menjaga pandangan itu. Hatinya benar-benar deg degan.

__ADS_1


"Terima kasih Tante, untuk lamaran ini, tetapi apa saya boleh mendengar langsung dari Mas Gama?" ujar Nessa tertunduk. Ia penasaran, bagaimana dengan perasaan pria itu saat ini.


Dalam hati Gama bersorak senang, pria itu pun mengangkat wajahnya lalu tersenyum.


"Bagaimana Nak? Kamu juga menginginkan lamaran ini, 'kan?" tanya Bu Marta yakin.


"Terima kasih Ma, sudah mewakili Gama," ucap pria itu terharu.


"Hmm ... jujur speechless, tetapi tidak ada keraguan sedikit pun di hati aku untuk meneruskan apa yang sudah diutarakan Mama. Bismillah, dengan segenap hati memintamu untuk menjadi pendamping hidupku nanti dan selamanya," ucap Gama tulus. Setelahnya kembali menunduk dengan hati tak karuan.


Nessa pun tersenyum lembut, perempuan itu menggumamkan keyakinan pada Allah dan mengangguk dengan pasti.


Senyum kelegaan pun langsung terbit dari keluarga Gama. Perempuan setengah baya itu menarik Nessa dalam pelukan sambil menggumamkan terima kasih. Suasana makan malam itu pun berubah menjadi keharuan yang luar biasa.


Diam-diam Gama tersenyum sambil mengucap syukur. Ada asa yang kembali melambung. Entah terlalu bahagia atau bagaimana tetapi malam ini Gama merasa Tuhan begitu baik padanya.

__ADS_1


Satu-satunya orang yang dihubungi pria itu adalah Ustad Aka. Malam itu setelah Nessa diantar pulang oleh Mama dan juga Gama sendiri, Gama langsung menghubungi Ustadz Aka untuk mendampingi proses akad nikah mereka yang rencananya akan segera dilaksanakan dalam waktu dekat ini.


"Terima kasih, Tante, Mas, hati-hati di jalan," ucap Nessa menunduk sopan dengan senyuman.


"Jangan banyak pikiran dan tidak usah menyiapkan apa pun, besok Tante akan ke sini lagi. Tentu saja membahas pernikahan kalian. Tante yang akan menemui ibu sambungmu nanti, jangan khawatir," ucap perempuan itu bijak.


Sepulangnya Tante Marta dan Gama, Nessa tidak hanya diam. Masih ada ganjalan yang besar sebenarnya, namun ia yakin untuk melangkah kali ini. Perempuan itu memberanikan diri menghubungi Mama Rianti, Nessa memohon doa restu untuk hubungan mereka.


"Kamu sudah pulang, Nak, selama itu, kenapa baru menghubungi Mama. Mama begitu merindukanmu, Nessa," ucap Bu Rianti sambil berkaca-kaca.


Nessa pagi-pagi sekali sudah menyambangi rumah yang dulu pernah ia singgahi. Sejujurnya Nessa tidak lepas kontak, tetapi ia tidak pernah mengutarakan langsung di mana keberadaannya dengan pasti. Ketika tiba-tiba perempuan itu ada di hadapannya, tentu saja Bu Rianti menangis haru. Kerinduannya selama ini terobati.


There nampak pangling menemukan Nessa di rumahnya. Perempuan itu tidak lagi marah atau berwajah ketus. Ia belajar banyak dengan kejadian yang ada, bahkan saat terakhir bertemu dengan Gama dalam kemarahan. Perempuan itu memang masih kesal, namun mata hatinya telah terbuka untuknya.


"Jadi, kapan kamu mau menikah? Aku pikir kamu tidak akan menghilang?" tanya There datar.

__ADS_1


"Aku menanti restu Mama dan keluarga ini," ucap Nessa tertunduk dengan wajah sendu.


There menatap adiknya dalam. Perempuan itu diam untuk beberapa saat. Kemudian menarik adiknya dalam pelukan kerinduan. Tiada kebesaran hati terselip yang paling dalam selain keikhlasan. Mungkin memang Gama jodoh terakhir Nessa saat ini.


__ADS_2