
Acara yang dinanti keluarga besar Gama Hardiyoga beserta keluarga mempelai calon wanita. Di mana hari ini keduanya akan mengikrarkan janji suci di hadapan para saksi dan semua yang hadir.
Perempuan dua puluh tiga tahu itu nampak anggun dengan balutan gaun putih modern. Ia duduk didampingi Bu Rianti dan kakaknya agak menepi. Sementara mempelai pria tengah bersiap menghadap pak penghulu dan tamu yang menjadi saksi di acara sakral tersebut.
Ijab qobul dilakukan di rumah dengan tamu undangan terbatas. Permintaan Nessa untuk tidak melakukan pesta besar, Gama pun menyetujui hal itu.
Gumaman rasa syukur yang mengharu biru terucap dari mulut mungil itu. Perempuan yang sedari tadi menunduk khidmad mendengarkan mempelai pria mengikrarkan ijab qobul dengan satu tarikan napas.
SAH!
Dan kata itulah yang menjadi tanda bahwa kehidupan baru telah dimulai. Setitik bening kristal berembun di pelupuk mata pria itu. Meraup kedua tangannya dengan perasaan lega luar biasa setelah sempat semalam tidak bisa tidur lantaran terlalu bersemangat plus deg degan. Lantas mengambil wudhu menunaikan dua rakaat sunah malam itu. Memohon petunjuk untuk pernikahannya, kehidupan setelahnya, kesehatan keluarganya dan semua orang-orang yang ia sayangi.
Keduanya nampak malu-malu saat dipertemukan untuk yang pertama kali setelah halal untuk keduanya. Indah, bahkan terasa sejuk bila dibalut dengan keridhoan.
Gama tersenyum menyambut pengantin perempuan untuk duduk menyelesaikan berkas-berkas yang harus dibubuhi tanda tangan keduanya. Sementara tangan Nessa mendadak gemetar saat pria itu menyematkan cincin perkawinan mereka yang dibalas dengan kecupan selamat datang di mahligai indah yang akan mulai dirajut.
"Masya Allah cantik banget istri aku," puji Gama tersenyum haru. Setelah sebelumnya merasakan ketegangan yang luar biasa. Akhirnya senyum itu kembali terbit dengan status baru keduanya.
Nessa balas tersenyum, nampak pasangan pengantin itu terdeteksi malu-malu padahal mau. Sungguh membuat orang-orang yang melihat pun menjadi gemas sendiri.
__ADS_1
"Udah boleh dipegang Gam, dicium juga boleh," seloroh Ustadz Aka yang hari itu datang bersama Shali istrinya. Keduanya memenuhi undangan spesial dari keluarga besar Gama.
Ustadz Aka dan Shali menghadiri pernikahan Gama Nessa ditemani putri mereka yang cantik Tsabi.
"Iya Ustadz, hehe. Terima kasih sudah berkenan hadir Ustadd dan Bu Ustadzah. Suatu kehormatan bagi kami sekeluarga. Terima kasih untuk bimbingannya selama ini, semoga Allah balas dengan banyak kebaikan."
"Aamiin ya robbal alamin," jawab Ustadz Aka dan Shali hampir serempak.
Tsabi ikut menyimak dan mendoakan di belakangnya. Anak itu rencananya akan pulang bareng ibu bapak mereka dari Asrama. Sengaja Ustadz Aka jemput untuk sekalian ikut saja.
"Tsabi! Eh! Maaf Mas," ucap Shali menemukan pria tepat di belakangnya yang seharusnya menjadi antrian Tsabi putrinya. Kenapa cowok ini terselip di antara keluarga Uka. Ada -ada saja.
Seketika Tsabi dan pemuda yang nampak hadir seorang diri itu saling melempar tatapan.
"Owh ... kamu rombongan itu, sok duluan. Kaya anak ilang," cibir pria itu menukar tempatnya.
"Perasaan tadi situ yang tiba-tiba langsung nyelinap ke barisan. Aneh tapi ajaib," balas Tsabi menggeleng pelan.
Usai memberikan doa dan selamat untuk pengantin yang tengah berbahagia. Keluarga Ustadz Aka menikmati jamuan yang sudah tersedia.
__ADS_1
"Aku bahagia atas hari ini. Semoga kebahagiaan terus membersamai kalian berdua walau sesungguhnya aku patah hati," ucap Bima yang siang itu datang seorang diri tanpa pasangan. Bukan berarti tidak laku-laku tapi terlalu banyak yang mengantri di belakang membuatnya bingung sendiri.
"Terima kasih kawan atas doanya. Semoga bahagia segera membersamai kamu juga bertemu dengan orang yang tepat," doa Gama tulus. Kedua pria yang pernah sangat menyayangi Nessa tanpa pamrih itu saling berpelukan haru.
Kedua sahabat itu saling melempar senyum, sebelum akhirnya saling ber-fish fight dengan perasaan karau.
"Sebenarnya aku pengen meluk kamu, tapi ku tahu kamu sudah berhijrah. Doakan aku semoga disegerakan menyusul juga, biar bisa meluk tanpa hambatan," ucap Bima yang seketika membuat senyum Nessa semakin lebar.
Pria itu selalu pengertian padanya. Semoga Allah segerakan jodoh untuk pria sebaik Bima.
"Pasti Bim, kamu orang baik, semoga cepat dipertemukan dengan orang yang baik juga," balas Nessa yakin. Terlepas hidupnya yang blangsak Bima adalah pria yang begitu baik dan tulus.
Diurutan yang kesekian, sebenarnya sudah hadir sedari pagi menemani Mbak There. Pria bersahaja itu nampak kalem berjalan seiringan dengan Mbak There, dia adalah pemuda yang pernah dijodohkan untuknya, Rasyid. Pemuda itu ternyata berniat merajut tali silaturahmi kembali menyambung keluarga dengan Mbak There.
Mereka juga ke panggung pengantin mendoakan kebaikan untuk kedua mempelai.
"Selamat Mas Gama dan adiku, Nessa, semoga selalu diberikan kebahagiaan!" ucap There tulus.
"Terima kasih Mbak." Keduanya berhambur dalam pelukan hangat kedamaian.
__ADS_1
Acara usai seiring senja yang menyapa sore itu. Keduanya nampak bahagia dibaluti rasa lelah yang lumayan kentara. Nessa juga sudah berada di kamarnya tengah membuka riasan. Sementara Gama menyusul kemudian.