
Perdebatan kedua kadal buntung yang belum berakhir cukup membuat Nessa menggelengkan kepala. Dua pria dewasa itu bagai Tom and Jarry yang tak pernah akur. Saling mengolok bahkan mencibir.
Hingga suara salam membuyarkan keduanya. Seseorang yang nampak gagah dengan menenteng parcel di tangannya. Dia adalah Rasyid yang sore itu menyempatkan berkunjung ke rumah sakit setelah mendengar kabar perihal insiden yang menimpa perempuan yang pernah mau dijodohkan padanya.
"Sore Ness!" sapa pria itu kalem.
Tersenyum sembari menyambut Bima dan Gama juga. Semenjak hilangnya kontak Nessa, semenjak itulah hubungan keduanya berakhir. Rasyid juga sudah tahu perihal yang terjadi antara mereka. Pria itu menyikapi dengan cukup santai, bahkan tetap ingin bersilaturahmi. Berbeda dengan kedua orang tuanya yang begitu kecewa dengan Nessa yang sudah digadang-gadang bakal calon menantunya.
"Rasyid?" jawab perempuan itu canggung. Pria baik itu masih sudi menjenguknya setelah keluarganya memutuskan membatalkan perjodohan itu. Tidak seharusnya pria itu ikut terseret sakit hati atas perbuatan dirinya.
"Bagaimana keadaan kamu, Ness?" tanya pria itu lembut. Berdiri di samping ranjang tepat di sebelah Gama. Rasyid sudah mengetahui hubungan keduanya. Ia hanya menanggapi dengan senyuman perihal hubungan mereka.
"Turut bersedih dengan apa yang menimpamu, semoga lekas pulih," doa pria itu tulus.
"Terima kasih, Syid sudah datang. Maaf untuk semua hal yang pernah ada. Aku benar-benar minta maaf," sesal Nessa sendu.
"Santay kali Ness, maaf juga untuk sikap keluargaku ya ... kamu tahu sendiri kan?"
"Cukup paham kok, jangan merasa bersalah dalam hal ini. Kita masih bisa berteman kok. Hehehe."
Gama, Rasyid, dan Bima menjenguk dalam satu waktu dan cukup lama. Mereka malah terlihat mengobrol kompak satu sama lain. Hingga menjelang petang, tersisa Gama karena Bima memutuskan pulang bareng Rasyid. Pria itu berjanji akan menjenguknya lagi besok.
"Hati-hati Ness sama kadal buntung, aku pulang dulu ya? Kalau ada apa-apa jangan sungkan kabari," pamit Bima berseloroh.
__ADS_1
"Semoga lekas pulih," sahut Rasyid sebelum beranjak.
"Terima kasih sudah datang," jawab Gama kalem.
"Titip Gam, kalau merasa tidak sanggup lambaikan tangan!" ujar pria itu bernada guyonan namun cukup dalam maknanya.
Sepeninggal Bima dan Rasyid, tersisa Gama yang langsung mendekati ranjang.
"Kamu nggak pulang? Istirahat loh ini sudah malam," usir Nessa halus.
"Pulangnya nanti bareng sama kamu, aku tidur di sini, Sayang," ujar pria itu tanpa ragu.
"Kamu tidak nyaman?" tanya Gama menilik wajah perempuan itu.
"Bukan gitu, hanya merasa kasihan saja kamu jadi repot ngurusin aku," ujar Nessa mendadak canggung.
"Kamu istirahat saja kalau sudah ngantuk, pasti capek kan siang kerja," ujar Nessa perhatian.
"Sebentar, belum ngantuk. Ness, boleh aku bertanya sesuatu?"
"Apa Kak, tanyakan saja," ujar Gama ragu.
"Sebenarnya bagaimana perasaan kamu terhadapku dan juga Bima?" tanya pria itu sungguh ingin tahu.
__ADS_1
"Samar," jawab Nessa jujur.
Dengan Bima Nessa merasa nyaman, namun tak lebih dari rasa persahabatan. Dengan Gama, Nessa memang mencintainya tapi entah mengapa hatinya tidak tenang. Ataukah mungkin karena rasa bersalah yang terus menghantui hingga membuat dirinya tidak berhak memiliki.
"Kamu adalah pria pendiam yang selalu hadir di sore waktu. Entah mengapa aku begitu terpesona oleh wajahmu saat pertama kali bertemu di sore itu. Kamu mungkin tidak ingat, aku tak sengaja menumpahkan minuman ke pakaianmu saat tak sengaja hendak jalan ke meja kafe sebelahmu."
Nessa menceritakan saat-saat pertama pertemuannya dengan Gama.
"Aku ingat kok, kamu gadis dengan seragam putih abu-abu itu? Kamu meminta maaf padaku dan tersenyum di balik maskermu. Mata kamu indah saat itu, sayang aku bahkan tidak sempat mengenal wajahmu."
Gama juga terpesona oleh sorot mata bening miliknya. Dulu di pikiran Gama, gadis itu masihlah unyu dengan seragamnya.
"Sejak saat itu aku sering datang ke kafe hanya sekedar pesan vanilla sweet cream, minuman kesukaan kakak juga, aku sering lihat kakak bersama teman-temannya. Tapi mungkin kakak nggak pernah notice aku. Wajar sih, kita kan nggak kenal. Sampai suatu hari, aku mengenal kakak sebagai calon suami Mbak There."
"Ternyata kakak itu orangnya memang asyik, walaupun terlihat pendiam dan terkesan dingin, tapi setelah mengenal sebagai keluarga kakak ternyata berbeda. Baik dan ramah, itu malah justru semakin membuat aku terpikat. Dari situlah aku mulai mengagumi kakak lebih dalam."
"Apa kamu semacam pengagum rahasia?" tanya Gama tersenyum lucu.
"Mungkin, aku hanya senang saja melihat kakak waktu itu. Hari-hari berikutnya serasa ingin berkunjung ke kafe lagi supaya bertemu. Hahaha ... konyol sekali diriku."
"Terima kasih sudah mengagumi aku sejak dulu, apakah sekarang perasaan itu masih sama berlaku?"
Entah mengapa Gama merasa ini seperti karma untuk dirinya yang saat ini begitu ingin dekat dengan Nessa, namun perempuan itu malah biasa saja.
__ADS_1
"Kamu selalu menempatkan ruang khusus di hati aku, Kak, walaupun mungkin perasaan ini sekarang berbeda."
"Aku masih berharap ada cerita indah yang akan membuka lembaran baru di buku diary kita. Hingga suatu saat menutup dengan cinta dalam keabadian."