
"Ada masalah?" tanya Bima mendapati kemunculan sahabatnya di depan pintu apartemennya di pagi hari.
Nessa yang pagi itu pamit dengan ibu ke kantor, mangkir dan memilih untuk menepi sejenak.
"Aku butuh tumpangan, capek dan ngantuk," ujar hadis itu nyelonong begitu saja ke dalam.
"Kamu izin? Atau sengaja alfa?" tuduhnya sembari mengekor Nessa yang mengambil duduk di sofa ruang tengah.
"Dua-duanya, dan aku sedang tidak peduli untuk itu," jawab Nessa dengan ketus.
Bima menyorot dengan napas berat, membiarkan perempuan itu tenang lebih dulu.
"Terima kasih," jawab perempuan itu berlalu.
Hari ini Bima harus menghadiri panggilan untuk dirinya dari ayahnya. Pria itu akan dilibatkan dalam meeting besar dengan perusahaan kontruksi. Orang tuanya akan memperkenalkan Bima sebagai partner perusahaannya.
"Kamu bisa bersantai di sini sesukamu. Tidak akan aku tarik biaya sewa, tapi untuk hari ini tidak bisa menemani karena aku ada pekerjaan. Istirahat saja di kamar, aku pastikan hanya kamu perempuan yang berani tidur di sana!"
"Cih ... aku tidak percaya hal itu keluar dari mulutmu. Pesankan aku makanan sebelum pergi, aku belum sarapan!" titahnya manja.
Tanpa menunggu lama, Bima langsung mengotak-atik ponselnya. Sepertinya pria itu tengah langsung memesan apa yang Nessa minta.
"Pastikan jangan membuka pintu sembarangan jika bukan orang yang kamu kenal."
"Kamu seperti buronan," ujar Nessa sembari merebahkan tubuhnya ke sofa.
"Bukan aku, tapi kamu. Aku sudah bisa melalang buana dari orang tua. Tapi kamu pasti akan dicari orang-orang bila ngumpet di sini, dan aku akan dianggap menyembunyikan pacar gelap oleh keluargaku."
"Aku berharap orang tuamu tidak pernah muncul di sini, dan menemukan dirimu dalam keadaan kacau."
"Akan lebih kacau bila menemukan dirimu di ranjangku." Bima mengedikkan bahu acuh.
__ADS_1
"Kamu sudah terlambat, berangkatlah aku akan menunggumu di sini," usir Nessa perhatian.
"Ya ampun ... sini bentar deh," seru Nessa gemas.
Bima menurut, ia sampai menahan napas dalam jarak yang begitu dekat. Di mana Nessa membenahi desinya yang kurang pas.
"Ini baru rapih. Good luck!" Gadis itu tersenyum sembari menepuk dada kirinya.
"Terima kasih, kamu berlagak seperti istri rumahan yang akan melepas suami masuk kerja."
"Hahaha! Aku sedang belajar, entah kapan hari itu tiba, tapi aku ini kan seorang perempuan," ujarnya tersenyum.
"Apa perlu mendalami karakter dengan menyalim tangan dan mencium kening?" seloroh Bima dengan kedua sudut bibir membuat lengkungan.
"Ralat saja, kita bisa mempraktikkannya nanti bersama pasangan legal kita."
"Baiklah, aku akan segera pulang!" pamit Bima lalu.
Membaca novel sepertinya akan membuat ia sedikit terhibur.
Membuka aplikasi novel online dan memilih cerita yang sudah masuk ke dalam daftar pustaka. Tak terasa netra itu merapat hingga Nessa tertidur di sofa.
Sementara Bima berusaha pulang dengan cepat begitu pekerjaannya usai. Pria itu baru sampai di rumah dan seketika langsung tersenyum mendapati Nessa terlelap.
"Dibilangin tidur di kamar kenapa tidur di sini sih!" gumam pria itu memindah tubuh Nessa begitu saja.
Mukanya yang ayu terlihat sedikit lebih tirus dari beberapa bulan yang lalu. Ia mengusap puncak kepalanya dengan lembut, lalu menyelimutinya.
Selang beberapa jam Nessa terjaga, kamar masih terlihat sepi. Namun, terdengar suara TV yang menyala di ruang tengah. Membuat langkah Nessa terayun menuju ke sumber suara.
"Sudah bangun? Apa sudah lebih baik?" tanya Bima sembari menaruh jus sirsak kesukaannya.
__ADS_1
"Belum, sepertinya semakin buruk," jawab Nessa asal.
"Mau makan dulu, atau mau mandi?" tanya pria itu sembari mengacak rambut Nessa dengan gemas.
"Tidak ingin dua-duanya," jawab perempuan itu manyun. Duduk di sofa dengan muka bantalnya.
"Sudah petang, mau pulang jam berapa?"
"Jangan mengusirku, kamu bahkan senang aku menempati rumahmu."
"Jangan membuat orang rumah cemas, nanti aku antar sekalian bilang ke tante Rianti. Agar ibumu tidak cemas."
Sungguh, Nessa sedang tidak ingin pulang. Rumah bukan tempat yang nyaman untuk saat ini. Ia seakan menjadi duri dalam daging, dan sialnya Nessa selalu kalah ketika melihat pesona kakak ipar. Nessa tidak bisa marah, ataupun menyalahkan. Pria itu selalu melumpuhkan otaknya hingga membuatnya bingung.
Waktu menunjukkan pukul empat sore ketika suara bel apartemennya berbunyi. Belum sempat Bima mengantar Nessa, kedatangan kakak iparnya sore itu membuatnya sedikit merasa kesal.
"Nessa mana?" tanya Gama tak ramah. Matanya menyorot tajam dan dingin.
"Ada," jawab Bima santai.
Gama langsung menerobos masuk begitu saja seperti yang sudah-sudah. Menemukan Nessa hanya berdua dengan Bima di apartemennya membuat kepala pria itu berasap.
"Siapa Bim?" tanya Nessa belum menyadari kedatangan Kak Gama.
"Pulang Ness! Aku tunggu di luar!" titahnya dingin.
"Nanti aku pulang sendiri, kakak tidak usah peduli padaku," ujar Nessa terlihat biasa.
Bima hanya menyaksikan dengan santai. Pemandangan yang selalu membuatnya jengkel, tapi tak bisa juga menahan Nessa untuk tetap tinggal atau pergi.
"Aku akan menunggumu di sini sampai kamu mau beranjak," ujar Gama tak peduli.
__ADS_1
Nessa terdiam beberapa saat, menatapnya dengan netra sulit terbaca.