
"Ness, aku nggak akan memaksamu. Tolong jangan konyol, kamu kesakitan." Gama tetap mendekat, bahkan dengan lembut mengusap perut perempuan itu yang terasa menegang.
"Rileks sayang, ini Papa," ucap pria itu lembut.
Nessa ingin menolak, tapi gerakan halusnya memudarkan rasa sakit itu. Sungguh ajaib sekali, mungkinkah ini yang disebut sebagai ikatan batin.
Sementara Bima hanya menatap dengan perasaan ikhlas. Dia menyadari betul, Gama memang berhak atas anak Nessa. Dia memang yang seharusnya bertanggung jawab atas kehamilan perempuan itu. Kendati menemukan titik buntu, Bima siap menjadi penggantinya. Begitulah, rasa sayang sebagai sahabat telah membuatnya mencintai tanpa syarat.
"Apa merasa enakan?" tanya Gama seperti candu. Mengelus perut Nessa rasanya begitu bahagia dan damai. Ia sudah membayangkan ada malaikat kecil yang tumbuh di sana yang kelak akan menyebutnya Papa.
"Iya, udah nggak sakit, makasih," ujar Nessa kikuk sendiri.
"Syukurlah, sekarang makan, atau minum susunya. Mungkin saja anak kita lapar," ujar pria itu tersenyum.
Ah, mengapa ucapan anak kita terasa begitu berbeda dalam rungu Nessa. Benarkah Gama menyayanginya? Terlepas dari kesalahan mereka dulu yang terbalut nafsu. Nessa hanya takut, dan entah mengapa rasa salah itu terus menghantui. Mungkin memang benar, ia harus pulang dan menghadap Mama Rianti untuk memohon ampun dan meminta restunya. Sekalipun mungkin cacian yang mungkin akan ia dapat.
Tapi bagaimana dengan There kalau mengetahui kehamilannya. Nessa tentu tidak akan membagi informasi itu pada sia pun selama ia bisa. Hidupnya serasa tidak tenang dihantui rasa bersalah.
__ADS_1
"Aku menginap di kost sebelah, tidak mungkin juga di sini, kita belum terikat pernikahan dan aku yakin kalaupun aku mau kamu pasti menolak," ujar Gama cukup tahu diri. Ia hanya harus menunggu lebih sabar lagi untuk membujuk Nessa agar bisa kembali secepatnya.
Malam itu cukup larut, Gama dan Bima sepakat keluar dari rumah kost Nessa. Dua pria itu terlihat tidak akur tapi juga tidak berseteru.
"Terima kasih Bim, sudah ikut membantu merawat Nessa, aku berhutang budi padamu," ucap Gama tulus.
"Aku melakukan itu karena persahabatan kita tak lekang oleh waktu. Jika kamu tidak segera menikahi Nessa, aku akan menikahi secepatnya. Itu sudah menjadi kesepakatan yang aku utarakan padanya."
"Kamu gila ya? Aku jelas akan bertanggung jawab. Asal kamu tahu, kami melakukan itu tanpa paksaan dan atas dasar sama-sama mau, jadi tidak ada ceritanya suami pengganti. Aku tahu sayang kamu tulus, tapi alangkah baiknya kamu merestui kami," ucap Gama serius.
"Aku berbeda denganmu, Bim, kita terbawa suasana, mana sempat menyiapkan itu. Walaupun kami sadar, dan aku tidak pernah menyesal karena aku mencintainya dan memang menginginkan seorang anak."
"Nessa terus merasa bersalah dengan keadaan yang tercipta. Dia bahkan meminta padaku untuk membawanya pergi sejauh mungkin. Beban mental yang dihadapinya tidak mudah, apalagi saat hamil muda begini. Aku berharap kamu bisa mengambil langkah cepat dan membuktikan semua tuduhan pada dirinya. Terlepas hubungan kalian memang salah."
"Kamu punya saran? Barangkali bisa aku coba, aku benar-benar menyayanginya. Walaupun seperti yang kamu katakan, di awali dengan kesalahan sepatutnya mencoba untuk memperbaiki."
"Aku menyarankan agar kamu menjauh, membawanya pergi setelah kalian resmi menikah nanti. Jujur aku takut Nessa akan terus dihantui rasa bersalah terus menerus yang akan mempengaruhi pikirannya nanti jika bertemu dengan There yang pastinya akan membencinya."
__ADS_1
"Aku sudah memikirkan itu semua, bahkan aku lebih dulu meminta restu pada keluargaku, tapi sayangnya Nessa terus menolak aku jadi serba salah dan bingung. Mau kah kamu membujuk untuk aku," mohon pria itu sungguh-sungguh.
"Aku benci ini, sumpah! Tapi akan aku coba demi Nessa, aku melakukannya hanya untuk Nessa, jujur aku membencimu. Masalahnya tidak akan sepelik ini jika kamu lebih cepat menyelesaikan masalahmu dulu baru menjalin hubungan dengan cinta yang baru."
"Kamu seperti penasihat yang bijak, tapi tidak lebih baik dari aku," cibir Gama kesal.
"Setidaknya aku pria bebas, tidak terikat pernikahan lalu main sana sini."
"Walaupun banyak menyakiti hati perempuan? Apa bedanya? Setelah habis pakai kau buang."
"Bukan aku yang minta, mereka yang mengobral padaku, dan kami menikmatinya. Kalau sakit hati, tentu saja itu bukan deritaku, karena aku melakukannya tanpa perasaan," jawab Bima jujur.
Entah mengapa keduanya menjadi saling curhat dan saling mencemooh merasa dirinya lah yang paling benar.
"Kalau Nessa tetap tidak mau, kamu harus siap-siap, itu tandanya dia lebih memilih aku yang paling nyaman menurutnya. Karena cinta tak selamanya harus memiliki."
Gama menyorot galak pria di depannya yang berbicara penuh percaya diri.
__ADS_1