Main Hati With Iparku

Main Hati With Iparku
Part 70


__ADS_3

"Aku akan menjemput kamu di kantor, tolong bagi nomor ponselmu," ujar Bayu seperti mendapatkan angin segar.


Perempuan itu mengangguk, lalu segera berlalu menuju mobil. Tidak enak berlama-lama membuat bosnya menunggu.


"Kamu kenal Ness?" tanya Mbak Hana kepo begitu mendapati Nessa memasuki mobil.


"Iya Mbak, pernah satu kantor," jawab perempuan itu jujur.


"Owh ... pantes, pas baru datang lihatin kamu terus, tak kira naksir nih pasti."


"Nggak Mbak, kita kenal baik, tetapi mungkin karena lama nggak ketemu jadi pangkling," ujar Nessa benar adanya.


Sepanjang perjalanan ke kantor, Nessa terngiang dengan perkataan Bayu. Ada apa sebenarnya dengan Gama? Apakah Nessa harus mengikuti keinginan Bayu? Atau tetap tak mau tahu dengan mantan kekasihnya dulu.


Beberapa menit berlalu, mobil Pak Abi sudah sampai di kantor lagi. Nessa kembali bekerja ke mejanya. Hingga sore menyapa, perempuan itu masih belum beranjak padahal sudah jam pulang.


"Woe ... ya ampun ... melamun aja, pulang woe!" pekik Nawang cukup mengagetkan.


"Apa sih, Na ... kamu duluan aja, bentar lagi," ujar perempuan itu santai.


Ia baru saja mengemas barang dan langsung keluar gedung. Tanpa diduga, Bayu sudah di luar tengah menunggunya. Rupanya pria itu menepati perkataannya tadi siang. Sungguh Nessa tak bisa beralibi apa pun.


"Ness!" panggil pria itu menghampiri.


"Eh, Pak Bayu?"


"Ayo Ness, aku sengaja jemput kamu," ujar pria itu membukakan pintu mobilnya.

__ADS_1


"Aku bawa motor sendiri, nanti ngikutin mobil kamu saja," tolak perempuan itu.


"Biar di sini saja, nanti saya antar pulang." Bayu tidak yakin Nessa akan mengikutinya.


"Maaf Pak, saya tidak nyaman semobil berdua dengan Anda."


"Oke, kamu duduk di belakang, saya mengemudi. Maaf, bukan maksa tapi tolong, ikut saja," pinta Bayu memohon.


Bingung, tapi akhirnya Nessa mengikuti juga. Ada banyak praduga dan prasangka di benaknya. Namun, ia mencoba berpikir positif dengan yang ada di depan mata.


"Kita mau ke mana?" tanya Nessa meragu.


"Ikut saja Ness, kamu nanti juga tahu," ujar pria itu kalem.


Nessa tak lagi banyak bertanya, perempuan itu sibuk mengamati jalan. Setelah memastikan mobil terparkir sempurna, perempuan itu turun diikuti Bayu.


"Rumah orang tua Pak Gama, saat ini Pak Gama sedang tinggal di sini. Biasanya beliau tinggal di rumah yang dulu kamu tempati, namun karena sudah tiga hari ini sakit, ibunya menyuruhnya pulang."


"Mas Gama sakit? Sakit apa?" tanya Nessa serius.


Nessa pikir Gama sudah menikah lagi mungkin, atau belum, perempuan itu benar-benar lepas kontak.


"Belakangan pola makannya berantakan, banyak diam dan kondisi tubuhnya drop. Mungkin terlalu lelah bisa jadi."


"Lelah? Apa dia semacam robot yang bekerja tanpa henti."


"Lebih tepatnya lelah memikirkan kamu. Pak Gama akan bekerja sesuai keinginannya di luar jam kantor. Ia tidak begitu peduli dengan dirinya semenjak kamu menghilang tanpa kabar. Aku prihatin, dan sangat menyayangkan hal itu."

__ADS_1


Entah mengapa Nessa seperti tertampar mendengar itu. Sekacau itu kah Gama ditinggal dirinya. Bukankah ia bisa memilih wanita mana pun yang ia mau?


Suara salam menginterupsi penghuni rumah. Nessa mengikuti langkah Bayu tepat di belakangnya.


"Sore Tante, Bayu izin ke kamar, eh ya ini Nessa, mungkin Tante sangat mengenalnya," ujar Bayu mempersilahkan perempuan berhijab itu untuk memberi salam.


Bu Marta menatap pangkling dari bawah sampai atas. Sangat berbeda dengan adik mantan menantunya dulu. Yang perempuan itu tahu tidak tertutup seperti ini.


"Nessa?" panggil Bu Marta. Perempuan itu antara kesal dan juga butuh.


"Kenapa kamu ke sini? Apa untuk memberi harapan palsu? Gara-gara kamu anak saya menolak semua perempuan dan tidak mau menikah lagi. Apa sekarang kamu datang untuk membuat putraku terluka lagi?" tatap Bu Marta kesal.


"Tante, biarkan Nessa ketemu sama Pak Gama dulu, mungkin saja sakit Pak Gama langsung sembuh kalau bertemu dengannya langsung."


"Ayo Ness, ke atas," ujar Bayu menginterupsi.


Nessa mengekor Bayu, tiba-tiba ia merasa deg degan luar biasa. Bagaimanapun sudah lama keduanya tidak bertemu. Tentu saja auranya akan berbeda. Apakah Gama membencinya?


"Masuk Ness!" titah pria itu tak sabaran.


"Kenapa kamu tidak ikut masuk?" tanya perempuan itu enggan membuka pintu.


"Aku rasa kalian butuh berbicara, jadi lebih baik aku tunggu di luar saja."


"Sudah aku katakan, aku tidak nyaman jika hanya berdua. Boleh kalau ketemu di luar kamar saja."


"Pak Gama kondisinya sedang tidak sehat, baiklah akan aku buka lebar-lebar pintunya saat kamu sudah masuk."

__ADS_1


Nessa membuka pintu itu dengan perlahan sembari mendengungkan salam. Ia masih berdiri di ambang pintu tidak masuk tidak juga keluar. Terpaku saat netra keduanya bertemu.


__ADS_2