
"Kakak gila, ya? Mbak There kan di rumah, keluar!" usir Nessa tak habis pikir. Bisa-bisanya pria itu begitu santai dan tenang memasuki kamarnya. Gadis itu mendorong kakak iparnya yang sama sekali tidak bergeser.
"Tahu, dia sudah tidur, aku kangen sama kamu, salah gitu?" tanya pria itu santai.
"Bagaimana kalau dia terbangun, terus mencari kakak, ini baru jam setengah sebelas, please ... jangan membuat masalah!"
"Kenapa seharian ini mengabaikan pesanku? Tidak menjawab teleponku. Aku menanti kabar kamu seharian, kamu malah sibuk berkencan. Malam ini kamu milikku."
"Aku hanya bertemu dengan Rasyid dan Bima, kita menghabiskan waktu bersama. Aku pikir kakak akan sibuk dengan Mbak There jadi aku harus tahu diri dan tidak mengganggu."
"Kamu nakal, saat bersamanya bahkan otakku selalu memikirkan dirimu. Bagaimana bisa aku menjalani semua ini kalau sudah begini."
"Jangan libatkan hubungan ini terlalu jauh, atau kita dalam masalah!" lirih Nessa mulai waswas.
Biar pun ia mencintainya, logika tetap melarangnya untuk memiliki apalagi menyakiti saudaranya. Walaupun secara nyata sekarang sudah kategori menyakiti, biarlah rasa itu ia simpan sendiri. Jangan sampai orang rumah tahu masalah mereka berdua atau hubungan keluarga itu akan berantakan karena ulah dirinya. Nessa tidak sanggup membayangkan itu.
"Kamu sudah memulai, jangan bilang untuk berhenti, karena aku akan memperjuangkan apa yang membuatku terasa berarti," ujar pria itu serius. Menangkup kedua pipinya, menatap lekat netranya yang gelisah.
"Apa maksud kamu?" tanya Nessa tak tenang.
"Shhtt ... jangan mendebat, aku tahu kamu capek, kita seharusnya menikmati waktu bersama untuk mendamaikan pikiran dan menenangkan jiwa. Mandilah, aku tunggu di sini!" titah pria itu setelah meninggalkan satu kecupan singkat di bibirnya.
"Aku tidak mau kakak menunggu di sini, keluarlah. Mbak There akan salah paham melihat ini. Tolong pikirkan mama juga, jangan membuat keadaanku semakin rumit."
"Baik lah kalau kamu mengusirku, aku akan tunggu di luar, pastikan kamu datang ke beranda malam ini, aku menunggumu di sana," ujar pria itu tersenyum.
Galau, Nessa pikir boleh menikmati kesempatan itu selagi kakaknya itu tidak di rumah. Tapi ini lebih menantang dan gila bila nekat berdua saat Mbak There bahkan ada di kamar sebelah. Nessa mulai tidak nyaman dengan sikap kak Gama yang semakin meresahkan.
__ADS_1
Ia memang mencintai pria itu, tapi sejauh ini tidak berniat untuk memiliki jiwa dan raganya. Karena ia tahu itu tidak mungkin, akan ada banyak hati yang terluka bila terus dilanjutkan. Nessa benci perasaanya yang bahkan sulit dihilangkan.
Malam itu setelah mandi Nessa tidak merealisasikan ide gila mereka. Gadis itu mengunci pintunya lalu tertidur.
Keesok paginya, seperti biasa, mereka bertemu di meja makan. Pasangan pasutri itu terlihat manis, Mbak There menyiapkan sarapan untuk suaminya dan pria itu pun menikmati dengan nyaman. Memang sudah sepatutnya seperti itu, mereka pasti akan selalu terlihat harmonis bila banyak waktu berdua.
"Bagaimana kencanmu semalam, Ness, aku perhatikan kalian makin akrab?" tanya Mbak There kepo.
"Alhamdulillah lancar, kami makan bersama, menghabiskan waktu bersama, selebihnya pulang," jawab Nessa jujur. Tidak perlu menjelaskan secara detail, namun kabar dirinya bertemu dengan Rasyid sudah cukup membuat ibu dan wanita itu tersenyum senang pagi ini.
Gama melirik gadis itu yang nampak tidak berminat untuk membahas hal itu.
"Ma, Nessa berangkat dulu ya?" pamit Nessa sengaja meninggalkan sarapan pagi ini. Hanya meminum susu yang sudah disiapkan mbok Ijah.
"Sarapan dulu, Sayang," ujar ibu memperingatkan.
"Ness, bareng aja sama aku, lebih hemat ongkos kan kita sejalan," ujar kak Gama menyarankan.
"Iya Ness, kenapa tidak bareng aja." Mbak There ikut menawarkan. Ingin mangkir tapi sepertinya pagi ini tak ada alasan.
Kak Gama langsung bergegas, padahal sarapannya belum habis.
"Sayang, sarapan kamu?"
"Aku sudah kenyang, berangkat dulu ya?" pamit pria itu malah mendahului Nessa begitu saja.
Kalau semalam lolos, sepertinya pagi ini tidak, Gama sudah sangat gemas dengan adik iparnya itu yang telah membuatnya menunggu semalaman hingga kopinya dingin. Acara begadang yang sudah digadang-gadang romantis gagal sudah, karena Nessa semalam bahkan mengabaikannya.
__ADS_1
"Kak, kita ke mana? Bukannya mau ke kantor?" tanya Nessa setelah hanya saling diam cukup lama. Memperhatikan jalan yang tidak mengarah ke GH corporation.
Gama terdiam, terus menyetir tanpa kata. Sibuk memperhatikan jalan yang membentang di depan.
"Kak, kita mau ke mana sih?" tanya Nessa waswas sendiri.
"Aku butuh udara segar, sepertinya absen pagi ini akan membuatku refresh kembali," ucap pria itu santai.
Nessa tidak lagi banyak bertanya, ia mengikuti ke mana kendaraan itu membawanya. Walaupun dalam hati gundah gulana, ia mencoba untuk tenang toh yang membawa kakak iparnya sendiri. Orang yang Nessa sayangi.
Gama membawa ke suatu tempat, ke sebuah danau yang indah. Suasana yang begitu tenang untuk bersantai sejenak dari hingar bingar ibu kota. Mereka benar-benar tersesat, karena cinta mulai mengalahkan akal sehat. Mengabaikan orang-orang di sekitar yang bahkan akan terkena imbasnya dari api yang mereka sulutkan.
"Jangan katakan apa pun, cukup temani aku saja hari ini, anggap saja sebagai ganti karena kamu kemarin dan semalam mengabaikan aku."
"Kamu kenapa gini sih, kakak kan tahu sendiri aku tidak bisa menolak hal itu, kenapa senekat ini? Mbak There akan murka bila melihat kita malah menghabiskan waktu berdua."
"Aku tahu ini salah, tapi untuk mengakhirinya pun tidak mudah. Hari ini aku akan menghabiskan waktu bersamamu."
Kak Gama membimbing Nessa duduk di rerumputan, mereka saling menatap air berkilau yang membentang di depannya begitu tenang. Duduk saling merapat, melupakan status mereka berdua, melupakan aral yang melintang, melupakan semua yang menjadi ganjalan.
"Apa yang kamu takutkan? Bisakah kita membuat hari ini bahagia saja, walau sehari. Kalaupun akhirnya nanti kamu memintaku untuk mengakhiri atau menganggapnya mimpi, setidaknya aku sudah berusaha untuk menjalani."
"Banyak, aku takut jatuh cinta terlalu dalam, aku takut tidak bisa mengendalikan perasaan ini, dan aku takut menyakiti orang sekitar kita."
"Beri aku solusi dan pendapatmu. Biar kita bisa mencapai titian itu," ucap pria itu sembari membuainya. Menyelipkan mahkota indah yang menjuntai di balik telinganya.
Nessa menggeleng, hati dan pikiranya mulai oleng. Entah apa yang ada di dalam pikiran keduanya dan siapa yang memulai lebih dulu. Hingga bibir mereka bertemu, meluapkan perasaan yang sarat akan kerinduan.
__ADS_1