
"Cowok? Siapa?" gumam Nessa lirih.
Pasalnya ia baru pindah beberapa hari yang lalu dan belum mengenal banyak orang di sekitar. Apalagi cowok, Nessa menutup akses berinteraksi dengan lawan jenis kalau tidak penting-penting sekali.
Nessa mulai resah kembali gegara perkataan Nawang. Sungguh ia ingin tenang untuk beberapa waktu ke depan.
Nessa terus berpikir sembari perjalanan pulang. Suasana sore hari dengan angin spoi-spoi membuat mahkota indahnya berterbangan hingga menimbulkan hawa sejuk. Sejenak membuatnya lupa dengan siapa gerangan yang mencarinya.
Perempuan itu sampai rumah langsung mandi, bersih-bersih. Tak lupa mengunci pintunya agar tidak sembarang orang bisa masuk. Ia baru saja mengganti pakaiannya dan hendak keluar untuk mencari makan ketika suara ketukan pintu terdengar.
Nessa pikir itu adalah Nawang yang mengajaknya cari makan malam. Ternyata ... perempuan itu dikagetkan dengan kemunculan seseorang yang begitu familiar di dalam hidupnya.
Sesaat keduanya hanya tercenung saling diam.
Sungguh Nessa tidak ingin persembunyiannya diketahui oleh siapa pun. Untuk beberapa saat, ia ingin tenang tanpa orang-orang yang mengenalinya dengan segala problematika yang ada.
"Aku sedang tidak ingin menerima tamu cowok mana pun," ucap Nessa dingin. Berusaha menekan diri agar air mata itu tidak tumpah dan menjadikannya cengeng.
"Sayangnya aku bukan tamu," jawab pria itu menatap dalam diam.
Pria itu masuk begitu saja tanpa permisi. Meletakkan beberapa kantong kresek yang berisi banyak belanjaan.
"Aku marah atas sikapmu yang tidak mau terbuka lagi, dan menganggap kita adalah care. Seberapa jauh pun kamu bersembunyi, pasti akan aku temukan. Jangankan Jogja Antartika juga pasti aku selami."
"Aku tidak terharu, karena saat ini aku butuh waktu untuk sendiri. Maaf, untuk kali ini aku tidak bisa membagi dengan siapa pun."
__ADS_1
"Apa waktu hampir satu minggu ini tidak cukup membuat kamu merenung dalam kesendirian? Seharusnya aku datang saat kamu baru saja sampai. Tapi aku tahu, kamu butuh ruang, dan aku rasa seminggu sudah cukup."
"Ayo pulang! Jangan simpan semua ini sendiri, kamu tidak pandai melarikan diri."
"Aku masih butuh banyak waktu, aku belum siap untuk bertemu dengan orang-orang yang bahkan saat ini sangat membenciku."
"Apa pun yang terjadi, harus kamu garis bawahi. Aku ... tidak pernah membencimu!" tekan pria itu menatap dalam diam.
Nessa seketika menunduk dalam diam. Kemelut hatinya membuatnya rapuh. Bima langsung menarik sahabatnya dalam pelukan.
"Jangan merasa sendiri lagi. Masih ada aku yang peduli terhadapmu."
"Terima kasih, Bim, aku benci padamu. Kenapa kamu menemukan aku," ucapnya tersedu sembari mengurai pelukan itu.
"Kamu lupa ya? Ponsel kamu kan terhubung dengan ponsel aku. Jadi aku pasti akan menemukanmu."
"Ish ... aku bahkan lupa untuk menghapus aplikasi itu. Sejak kapan kamu tahu keberadaan aku? Maksud aku, kamu kenapa tahu kalau aku minggat."
"Sejak hari di mana kamu pergi. Gama mencarimu ke apartemen aku. Dia terlihat begitu kacau mencarimu, tapi memang saat itu aku belum tahu keberadaan kamu."
"Seharusnya kamu tidak pergi dalam keadaan pulang paksa dari rumah sakit. Itu konyol namanya, bagaimana kalau kamu pingsan di jalanan terus di jahatin orang. Sungguh semalaman aku tidak bisa tidur karena memikirkan sahabat nakal seperti dirimu."
"Aku sudah lebih sehat, dan aku cukup kuat. Alhamdulillah selamat sampai sekarang. Aku ingin kamu pulang, dan tolong jangan beritahu Kak Gama kalau aku di sini."
Malam itu Bima begitu khawatir saat menghubungi Nessa tak kunjung bisa. Pria itu langsung melacak keberadaan Nessa melalui telepon pintarnya yang terhubung dengan android milik Nessa. Mereka memang sedekat itu.
__ADS_1
"Ah, aku lupa tidak menghapus aplikasinya, dengan cepat kamu menemukan aku."
"Lebih baik begitu, kalau mau kabur itu persiapan dengan baik. Bawa uang yang banyak, ke luar negeri sekalian. Ini mah kecil aku temukan."
"Strata ekonomi kita berbeda, Bim, aku harus menyesuakan diri dengan isi dompetku."
"Huhf ... jujur, aku kecewa padamu tentang semua ini. Kenapa kamu nggak cerita. Apa sekarang kamu tidak menganggap aku sebagai sahabatmu lagi. Atau mau aku anggap bukan sahabat."
"Aku terlalu sering merepotkanmu. Aku ingin berdiri dengan kakiku sendiri. Aku kacau Bim," ucap Nessa tertunduk lesu dan juga malu.
"Aku memahami posisimu. Tapi lari tidak akan menyelesaikan masalah, Nessa. Kamu tidak harus pergi, apalagi dengan kondisi kamu saat ini."
"Aku butuh ketenangan, tapi kedatangan kamu membuat aku tidak tenang sama sekali. Bahkan aku baru singgah sebentar, kamu sudah muncul. Ini sangat tidak adil, kamu harus pulang dan jangan membagi informasi cerita apa pun."
"Jangan mengusirku, aku sudah katakan pada pemilik kost mu kalau aku ini saudaramu," ujar Bima dengan santainya.
"Terserah dirimu saja lah, aku malas berdebat denganmu. Ngomong-ngomong kenapa kamu bawa belanjaan banyak sekali."
"Cukup untuk bekal kamu beberapa hari ini. Setelahnya aku ingin kamu pulang," ujar Bima serius.
"Aku tidak mau pulang dalam waktu dekat ini, Bim. Aku butuh sendiri."
"Aku akan bantu kamu keluar dari masalah ini. Aku tahu Tante Rianti di rumah sakit, aku tahu There mengusirmu dan aku tahu kamu menghindari Kak Gama. Tapi asal kamu tahu, kamu tidak bisa lari dari apa pun yang sekarang menjadi masalahmu."
"Mari kita jenguk ibumu sama-sama. Aku ... akan bertanggung jawab untuk kehamilanmu."
__ADS_1