
Gama memang sengaja tak mau terburu-buru. Ingin membuat gadis itu semakin terlena dan pasrah, bahkan menyambutnya dengan begitu terbuka tanpa paksaan sedikit pun. Hati pria itu tentu saja begitu bahagia setelah hampir seharian dibuat kesal dan uring-uringan. Kini bisa menghabiskan waktu berdua di tengah kerumitan yang mungkin melanda.
Perasaan cinta yang menggebu bercampur menjadi desiran perhelatan cinta mereka. Membuat pria itu ingin mengubah posisinya karena keadaan berlutut begini sungguh kurang nyaman untuk keduanya.
Sesaat Nessa sudah menelentang di atas sofa putih dalam ruangan. Dalam posisi ini, Gama tidak langsung menyerang. Pria itu menikmati keindahan wajahnya yang begitu menawan, tersenyum penuh damba dalam lautan cinta yang sudah menutup mata dan telinga. Mengabaikan bisikan hati nurani mereka yang sesungguhnya tidak ingin menempuh jalan yang salah. Namun, rasa itu tak mampu dibendung, hasrat yang membumbung mampu menggoyahkan keduanya hingga tak ingin menyesali hari ini.
Pria itu mengawali dengan mencium kekasih ilegalnya lalu berbisik, "Aku mencintai dan mengagumimu, aku menyanjung dan menghargai dirimu sepenuh ragaku, terima kasih telah menjadikan aku yang pertama."
Mendengar bisikan itu, Nessa langsung merengkuh leher pria itu ke dalam pelukannya. Lalu menarik kedua tangannya, agar menempel permukaan anugerah miliknya. Pria itu memulainya begitu minat, tubuhnya merespon otomatis hanyut dalam erotisme alunan desah@n yang meracau manja. Membawanya melayang hingga menciptakan peluh di antara keduanya.
Dalam pandangan Gama, saat keduanya sama-sama mencapai pusara kenikmatan. Wajah Nessa menjadi tampak lebih cantik berkali lipat. Seolah mengeluarkan cahaya yang membuat Gama semakin mengaguminya.
"Apa setelah pulang kita bisa mengulanginya?" bisik pria itu seakan enggan berlalu. Membelai mahkota Nessa yang panjang tergerai.
"Aku tidak tahu, dan aku tidak seberani itu," jawab perempuan itu lirih.
__ADS_1
"Aku takut tidak bisa menahan diri, kamu terlalu mempesona," kata pria itu dimabuk kepayang. Jelas tubuh gadis itu telah membuatnya candu.
"Tolong pikirkan tawaran aku, aku tahu ini sulit untuk kita lalui. Aku sudah siap kapan pun kamu siap. Aku tidak mau kita bersembunyi terus begini, kita harus menentukan pilihan itu. Percayalah, hubungan aku sudah rumit sebelum kamu datang."
Nessa bukannya tidak mau menikah atau ingin terus terjerumus ke dalam arus yang salah. Saat ia benar-benar memantapkan hatinya untuk terus melangkah, disitulah kehancuran keluarganya dimulai. Orang-orang yang ia sayangi benar-benar nyata terkhianati.
Sejauh ini, biarlah kerumitan ini ia telan sendiri. Kesehatan ibu jelas menjadi pertimbangan yang paling mendasar. Di mana perempuan paruh baya itu telah menjadi malaikat untuk dirinya dengan penuh kasih sayang selama ini. Terlepas Nessa memang sudah berkhianat, tapi setidaknya tidak ingin membuatnya semakin terluka karena mempunyai anak yang begitu menyedihkan, bahkan memalukan dan hina.
Sementara di sisi lain, There merasakan suaminya semakin hari semakin jauh. Perempuan itu baru merasakan tiada terikatan batin yang kuat walaupun perasaannya terpaut. Bahkan ia mulai begitu merasa hambar dan begitu hampa, saat perempuan itu benar-benar meluangkan waktu dan Gama malah sibuk bekerja terus menerus.
Hari itu There sudah tidak sabar menanti kepulangan suaminya. Terlepas karena rasa rindu, ia juga ingin berbicara dari hati ke hati yang sekiranya perlu. Ya, perempuan itu akui, ia memang salah, tidak bisa membuatnya merasa nyaman secara biologisnya, tapi bukannya There tidak mau. Perempuan itu benar-benar putus asa karena rasa sakit yang mendera. Namun, melihat perubahan Gama, jelas perempuan itu takut Gama akan menyerah dengan rumah tangganya.
Tepat sore hari pukul lima sore, Nessa dan Gama sampai di rumah secara bersama-sama. Sebenarnya Nessa menolak untuk pulang bersama takut orang rumah curiga, namun Gama terus memaksa bahkan tidak memperbolehkan perempuan itu pulang sendirian.
"Sore Mas, baru pulang?" sapa There menyambut kepulangan suaminya dengan sumringah.
__ADS_1
"Iya," jawab Gama datar. Sedikit senyum untuk menghargai istrinya yang begitu ramah menyambut.
Nessa sendiri langsung ke kamarnya begitu sampai rumah. Perempuan itu hanya menemui ibunya sebentar bahkan tidak keluar hingga menjelang makan malam.
"Nessa tidak makan?" tanya There setelah mereka bertiga berkumpul di meja makan.
"Katanya masih kenyang, tadi sudah pamit ke Mama, suruh tinggal saja, dia sudah makan tadi sore katanya," jelas Mama Rianti.
Gama tahu itu alibinya saja, perempuan itu pasti tidak nyaman dengan keberadaannya saat ini.
"Aku sudah kenyang, aku ke atas dulu ya?" ujar Gama meninggalkan meja makan.
"Iya Mas, nanti aku nyusul," jawab There santai.
Gama sedikit berlari menaiki undakan tangga, bukan kamarnya yang ia singgahi tapi kamar Nessa yang pria itu tuju.
__ADS_1