
Bukan ini yang Nessa harapkan, walaupun hubungan itu diakui seratus persen salah, tapi hamil jelas membuatnya galau setengah mati. Apa yang harus ia lakukan, sekalipun Gama mengatakan ingin bertanggung jawab dan mengajak nikah, kalau pada akhirnya menyakiti banyak orang dan membuat ibu terluka, adalah pukulan yang paling berat untuk dirinya.
Untuk pertama kalinya Nessa benar-benar mulai merasakan penyesalan. Perasaan di mana ia berada di antara kasihan pada diri sendiri dan membenci dirinya tentang seluruh hidupnya. Apalagi mendengar pernyataan bahwa saat ini ada janin dalam rahimnya. Membuat perempuan itu begitu kacau.
"Maafkan aku, yang tak bisa mengontrol diri saat bersamamu. Tolong jangan menangis lagi, kasihan janin kita," ucap Gama sendu.
Seharusnya Nessa sudah siap dengan segala kemungkinan yang terjadi semenjak secara terang keduanya mendeklarasi perasaan mereka. Tapi pada kenyataannya, perempuan itu sekarang begitu galau.
"Aku tidak tahu apa yang harus aku katakan, aku tidak mau hamil, Mas!" tekan Nessa tersedu.
"Shhtt ... jangan menyalahkan apa pun tentang ini. Aku tahu kita salah, tapi tolong jangan pernah merasa sendiri dan menyalahkan apa yang terjadi. Kita harus mempertanggung jawabkan ini semua. Aku akan menikahimu segera, Sayang," ucap Gama menenangkan.
Kenapa Nessa tidak bahagia, bahkan jika bersama dengan Gama pun ia merasa hatinya begitu buruk. Cukup dicintai saja tanpa memiliki. Nessa tidak mungkin menikah dengan kakak iparnya sendiri. Perempuan itu memegang kepalanya yang seakan mau pecah tentang masalah ini.
"Makan dulu, kamu harus makan!" bujuk Gama telaten.
__ADS_1
Nessa tidak ada selera makan, dia benar-benar menghukum dirinya sendiri. Hatinya begitu hancur mengingat kemurkaan kakaknya. Ia lebih sakit lagi mendengar ibu masuk rumah sakit bahkan saat ini kritis.
"Antar aku ke ruang Mama, Kak, aku ingin minta maaf padanya," ucap perempuan itu disertai tangis pilu.
"Iya, nanti aku antar, sekarang kamu makan dulu biar ada tenaga. Tubuhmu sangat lemah Nessa," bujuk Gama khawatir. Nessa tidak makan apa pun, hanya tertolong cairan infus.
Demi tetap kuat untuk berjalan sendiri menghadap maafnya, akhirnya Nessa makan dalam diam. Matanya masih berembun, perih dan sakit rasanya mendengar ibu bahkan saat ini tengah kritis.
Sementara There, tak peduli lagi masalah Gama ataupun Nessa. Perempuan itu mensampingkan kesehatan mama. Walaupun tidak bisa dipungkiri masih ada sisa cinta di hati, tetap rasa kecewa yang besar lebih mendominasi. Gama pria yang baik dan penyabar, sungguh There betat untuk melupakan itu. Dia juga bertanggung jawab soal materi, bahkan sampai sekarang pengobatan ibu.
Tidak munafik, There memerlukan itu. Kalau diingat-ingat dirinya bahkan mulai kehilangan kasih sayang dan perhatiannya semenjak Nessa kembali. Sayangnya perempuan itu tidak begitu jeli, bahkan sibuk sendiri. Hal yang paling menyakitkan saat ini, kenapa harus adiknya sendiri yang menjadi partner rivalnya.
***
Nessa sedikit tertatih menuju ruang ICU, di mana ibunya dirawat. Semenjak kedatangannya perempuan itu tak berhenti mengeluarkan air mata penyesalan. Bahkan cacian dan makian dari seluruh penjuru pun akan Nessa terima asal bisa mengembalikan ibunya seperti sedia kala.
__ADS_1
Gama sendiri tengah keluar sebentar, pria itu sengaja pulang ke rumah setelah merawat Nessa dan menjenguk keadaan ibu mertuanya.
"Percuma kamu menangis darah sekalipun, kamu telah melukai hati mama. Kamu benar-benar manusia tidak beradab yang paling menyedihkan!"
"Apa tidak ada pria lain? Kenapa harus Gama, Nessa!" bentak There kembali memaki. Hatinya masih begitu terluka bila bertatap muka dengannya, ingin sekali mencekik lehernya bila perlu.
"Maafkan aku Kak, aku bersalah!" mohon Nessa sendu. Nessa sadar, maaf saja mungkin tidak cukup untuk menggerus luka yang telah ia torehkan.
"Setelah semuanya terjadi? Dengan mudahnya kamu minta maaf, apa kamu tahu sakitnya jadi aku?" tekan There seakan menghempaskan wanita yang kini tersedu di hadapannya itu.
"Maafkan aku, Kak, tolong berikan izin aku untuk masuk menjenguk mama, aku mau melihat keadaan mama."
"Mama pasti tidak akan sudi kamu temui, lebih baik kamu pergi menjauh dari kehidupan kami!" sembur There tak mengizinkan Nessa untuk menemui ibunya.
"Baiklah, aku akan pergi jika itu bisa membuat kakak menjadi lebih baik dan memaafkan diriku, tapi tolong izinkan aku untuk menemui mama, setidaknya aku pamit. Beri aku kesempatan untuk memohon ampun padanya," mohon Nessa di titik nadir.
__ADS_1
There membuang muka, tak sudi rasanya memaafkan adiknya sendiri yang telah membuat rumah tangganya berantakan. Ia sengaja menepi menyelami kepiluan hatinya yang entah sampai kapan.
Nessa menggumamkan terima kasih lalu segera masuk ke dalam di mana ruangan itu begitu dingin. Sedingin hatinya saat ini yang mengharu biru. Semenjak kakinya melangkah, Nessa sudah bercucuran air mata. Ia bersimpuh pilu di bawah kaki ibunya yang terbaring lemah tak berdaya. Memohon pengampunan atas apa yang telah diperbuat.