Main Hati With Iparku

Main Hati With Iparku
Part 33


__ADS_3

Meeting kali ini dilakukan di luar. Sebuah perusahaan oli dengan merk terbaru ingin menggunakan jasanya. Tentu saja itu sebuah kesempatan baik untuk GH corporation yang memang sering dipercaya menaungi sebuah proyek iklan yang sedang digarap.


Bayu yang paling sibuk menyiapkan semuanya. Sementara Nessa membantu di belakang Bayu. Sore itu pertemuan dilakukan di sebuah restoran di kawasan hotel Horizon. Sengaja memilih tempat yang cukup berkelas untuk menyambut tamu mereka.


Setelah duduk saling berhadapan usai berjabat tangan saling sapa. Kedua belah pihak cukup serius membahas pertemuan kali ini.


"Nessa, tolong jabarkan setiap konsep secara rinci!"


Nessa mulai membuka laptop yang sudah disiapkan Bayu. Ia malah berlagak seperti sekretaris yang menyiapkan dan membantu. Jujur suatu pengalaman yang luar biasa karena Nessa sendiri anak baru, bahkan minim ilmu. Namun, kesempatan ini tentunya tidak ingin disia-siakan. Ia harus memberikan performa terbaiknya.


"Bagaimana Pak? Apakah sesuai dengan passion perusahaan Bapak?"


"Saya setuju dengan konsep yang diberikan, jadi nanti kita pakai properti lain seperti motor, dengan konsep artis atau model yang menjadi peraganya."


"Iya, dan kita secara live saja Pak, nanti akan kami atur untuk eventnya."


"Baiklah saya setuju. Deal!" Kedua belah pihak saling berjabat tangan.


"Eh ya, karena kita sudah deal, bagaimana untuk menambah keakraban kita rayakan kesepakatan ini, dengan bersantai minum sebentar mungkin?"


"Boleh, dengan senang hati."

__ADS_1


"Eh ya sekretaris Bapak, cantik sekali, masih muda lagi. Namanya siapa?"


"Mmm ... yang ini ... Nessa Pak, dia bekerja di belakang saya," ucap Gama sopan. Kalau tidak salah penglihatan kliennya itu sedari tadi terus memperhatikan Nessa hingga membuatnya sedikit tak begitu nyaman.


Malam itu pertemuan berlanjut, dua bos besar ditemani asisten dan juga sekretaris mereka menghabiskan malam itu dengan jamuan minuman beralkohol. Sebenarnya kurang sreg apalagi melihat Nessa seperti tak nyaman, namun tidak enak menolak tamu mereka.


"Jangan minum, kamu tidak pandai pertahanan diri," bisik Gama.


Pria itu hanya minum sedikit karena sadar akan pulang. Hanya menemani saja. Sementara Nessa, Gama benar-benar melarangnya. Mengingat perempuan itu tidak cukup punya kontrol pertahanan yang baik.


Bayu hanya menemani, berbeda dengan klien mereka yang sepertinya sudah mabuk berat. Pamit lebih awal bersama asistennya.


"Jadinya kita ke mana Pak? Langsung pulang?" tanya Bayu dengan kesadaran penuh.


Bayu mengiyakan, lagian bosnya tidak mabuk jadi aman untuk berkendara malam ini.


"Ayo Ness pulang!" titah pria itu kembali dingin. Padahal tadi begitu perhatian bahkan melarangnya untuk mencicipi minuman beralkohol itu karena mungkin khawatir.


"Kakak masih marah?" tanya Nessa menjadi perasaan sendiri saat Gama tak banyak bicara dan seperti memendam sendiri.


Jujur, gadis itu kepo dan merasa tak tega melihat beberapa hari ini pria itu terlihat tidak bersemangat.

__ADS_1


"Kakak marah sama aku? Aku minta maaf kalau sikapku menyinggung perasaanmu," ucap Nessa hendak beranjak. Mereka masih di salah satu mini bar yang ada di hotel tersebut.


"Kamu seperti memberi madu, lalu menaruh racun kemudian. Datang dan pergi sesuka hatimu tanpa memikirkan perasaan orang lain. Kamu pikir, perasaan aku ini apa? Kamu tarik ulur, setelah menyuguhkan kemanisan kamu menghilang begitu saja. Sakit Ness," terang Gama dingin. Hatinya begitu rapuh dan kacau. Entahlah, yang jelas ditinggal Nessa membuat pria itu begitu kehilangan.


Nessa tidak menyangka kalau Gama akan berkata demikian. Seakan begitu marah lantaran jarak yang sedang Nessa buat.


"Aku tidak bermaksud mengacuhkan Kakak, aku hanya takut perasaan ini semakin dalam, dan nantinya akan sulit untuk kita selami."


"Bisakah malam ini kita melupakan semua tentang status kita. Aku hampir tidak bisa berpikir waras diacuhkan oleh dirimu terus menerus."


"Jangan berkata begitu, aku hanya sedang berusaha membuat keadaan ini tetap baik-baik saja."


"Aku rindu canda tawamu yang telah menghilang beberapa hari. Mau kah kamu menemani aku malam ini?"


"Kita mau ke mana?" Gama menarik tangan Nessa lalu membawanya ke sebuah ruangan khusus yang telah ia pesan sebelumnya. Pria itu begitu merindukan kebersamaan itu, sehingga saat ada kebersamaan yang langka tentu saja Gama tidak ingin menyia-nyiakan begitu saja.


"Kakak mabuk? Kenapa bawa aku ke sini?"


"Kamu takut? Aku tidak mabuk Nessa Sayang. Aku sadar sesadar sadarnya. Kamu adalah kontrol yang baik, aku nggak bakalan lanjut kalau kamu tidak mengizinkan."


Terlalu sayang untuk dilewatkan, Nessa juga sebenarnya merindukan pria itu. Apakah menjadi egois untuk malam ini saja tidak masalah? Pikirannya mulai bimbang.

__ADS_1


"Bagaimana? Menginap di sini atau pulang?" tawar Gama menyakinkan.


Nessa nampak bingung, "Kita ... pu—" Belum sempat menghabiskan kata pria itu lebih dulu mendaratkan satu kecupan kerinduan.


__ADS_2