Main Hati With Iparku

Main Hati With Iparku
Part 60


__ADS_3

Nessa membalas dengan senyuman. Gama sepertinya tak kalah akal, ia pun mencoba dengan cara yang lain.


"Aku belum pamitan sama anak kita, boleh kan? Aku rasa dia akan senang kalau aku menyapanya sebelum pergi," ujar Gama percaya diri.


Pria itu kembali mendekat lalu berjongkok tepat di hadapan Nessa. Mulai berdialog sambil mengelus perut perempuan itu yang hanya bisa diam tanpa menyela.


"Sayang, Papa pulang dulu ya, baik-baik di sana, bilang sama mama supaya jangan galak-galak," ujar Gama mengelus lembut lalu menciumnya.


Wanita mana yang tak lumer begitu mendengar ia begitu peduli. Hatinya menghangat seketika, refleks tangan Nessa mengusap kepala Gama yang saat ini masih betah pada posisinya.


"Dia masih terlalu kecil, belum ngerti lah kamu ngomong gitu," ujar Nessa merasa lucu.


"Tapi dia merasakan Sayang, terbukti kamu senyum. Berarti anak kita nyaman."


"Kamu lucu sekali Mas, ternyata tingkah kamu begini aslinya," ujar Nessa tak percaya.


"Aku bisa lebih romantis dari ini, nanti ya setelah nikah, apa kamu sekarang menjadi sudah tidak sabar?" gurau pria itu percaya diri.


"Kamu memang perayu ulung, cepat sana pulang, aku takut kamu terus menggodaku."


"Ini memang nampaknya tidak aman, semakin dekat dengan kamu, aku susah mengendalikan tubuhku. Kamu memang harus segera dihalalkan," ujarnya tanpa ragu.


"Baiklah aku pulang dulu," pamit Gama pada akhirnya. setelah menempatkan Nessa di suatu tempat yang nyaman setidaknya pria itu bisa meninggalkan dengan lega.


Hampir setiap hari Gama berkunjung mengontrol keadaan Nessa yang semakin membaik. Lebih segar dan tidak banyak murung lagi. Perempuan itu juga hari ini terlihat ke kampus. Sudah tiga hari semenjak menempati rumah itu, Nessa belum juga mengambil sikap. Gama pun semakin tidak tenang dengan status mereka.


"Antar aku ke rumah Mama Rianti, Mas, aku takut sendirian," ucap perempuan itu ragu.


"Iya, nanti aku antar. Jangan khawatir, semua akan baik-baik saja," kata pria itu menenangkan.


Gama sengaja pulang lebih awal langsung menyempatkan pulang ke rumah Nessa. Pria itu merasa senang akhirnya Nessa berani mengambil keputusan itu.


"Ini buat kamu," Gama menyodorkan paper bag yang berisi beberapa lembar potong pakaian.


"Makasih," jawab Nessa tersenyum menerimanya.


"Aku udah transfer buat keperluan kamu, jangan ragu untuk meminta lebih kalau kurang," ujar pria itu.


"Aku belum menjadi istrimu, Mas, bukan juga tanggung jawabmu. Jadi, apa itu tidak berlebihan."


"Tentu saja tidak, kamu itu calon istriku, calon ibu dari anak-anak aku, kamu layak mendapatkan sanjungan itu. Jangan sungkan Nessa, belanjakan saja sesuai kebutuhanmu."

__ADS_1


Kalau Gama sudah berkata demikian, Nessa pun tak bisa banyak menyela selain mengiyakan.


"Aku ganti dulu ya, kamu mau minum apa?"


"Nggak ada, nanti ambil sendiri aja," ujar Gama santai.


Pria itu menunggu sambil leha-leha di sofa. Nessa lumayan lama entahlah apa yang perempuan itu lakukan.


Nessa mandi dulu, lalu mengaplikasikan make up tipis di wajahnya. Ia juga menyetrika pakaiannya dulu sebelum dipakai jadi agak lama. Saat ia keluar kamar, menemukan Gama tertidur di sofa. Sepertinya pria itu kecapean, terbukti tertidur begitu saja sambil menunggu dirinya.


Karena tak sampai hati membangunkan, Nessa membiarkan saja. Perempuan itu malah kembali ke kamar lalu mengambil selimut untuk menghangatkan tubuh Gama. Hingga petang menyapa, pria itu semakin pulas saja. Nessa tinggal bersibuk ria sendiri.


Pria itu terjaga saat sore menyapa, ia tersenyum haru kala menemukan sebuah selimut membungkus dirinya. Berjalan menuju dapur, terlihat Mbok Surti tengah sibuk memasak request majikannya.


"Mbok, Nessa mana?" tanya Gama sembari menuang air putih dalam gelas lalu meminumnya hingga separo.


"Tadi sih bilangnya keluar sebentar, Den," ujar Mbok Surti sembari menyiangi sayur.


Gama keluar sampai taman belakang. Rupanya perempuan itu tengah sibuk bertelepon. Terlihat cukup serius, hingga membuatnya begitu penasaran dengan sosok seseorang yang menjadi lawan bicaranya di sebrang sana.


"Siapa Sayang?" tanya Gama mendekat.


"Mas sudah bangun?"


"Nggak ada Mas, bukan siapa-siapa," jawab Nessa salah tingkah.


"Coba mana aku lihat!" Gama jelas menaruh curiga dengan gelagatnya.


"Nggak ada Mas, ayo katanya mau nganter ke rumah mama, aku udah siap dari tadi."


Gama masih kurang lega, namun akhirnya mengiyakan saat Nessa menarik tangannya.


"Kenapa nggak bangunin?"


"Kamu tidurnya pules banget, nggak tega aja," ujar Nessa jujur.


"Makasih, selimutnya bikin aku makin betah."


Nessa mengangguk dengan senyuman.


"Mas, aku deg degan, mama pasti marah banget sama aku," ucap Nessa ragu.

__ADS_1


"Apa pun yang terjadi nanti, aku tidak akan merubah apa pun dengan keputusan aku." Gama meraih tangan Nessa serasa menguatkannya.


Suasana rumah nampak sepi seperti biasa dulu waktu Nessa masih tinggal di sana. Mungkin Mama Rianti sedang ada di kamarnya, beberapa kali Nessa dan Gama mengetuk pintu tak kunjung mendapat sahutan.


"Mas, nggak ada orang mungkin," ujar Nessa gelisah sendiri.


Hingga beberapa menit berlalu, nampak seorang wanita paruh baya menyembul dari balik pintu.


"Nessa!" panggil Bu Rianti terperangah.


"Mama, maafin Nessa Ma!" ujar perempuan itu langsung bersimpuh di depannya.


"Bangun Nak, duduklah di sofa."


"Kedatangan Nessa ke sini, mau minta maaf sama Mama, sama Mbak There."


"Aku tidak sudi memaafkan pelakor ulung sepertimu. Wah ... datangnya barengan, semakin kompak saja, pelakor dan pengkhianat!" There menyahut penuh dendam. Perempuan itu sepertinya baru saja pulang karena dari arah luar.


"Berani sekali ya kamu datang membawa maaf, kamu pikir dengan maafmu akan membuat luka di hatiku membaik. Kalian berdua sama-sama pecundang!" maki There puas.


"Maklumin saja perkataan There, Ness, dia masih sakit hati atas perbuatan kalian," ujar Mama tak banyak mengambil sikap.


"Iya Ma, Nessa paham! Maafkan Nessa untuk kekacauan ini."


"Gama juga minta maaf, Ma, kami memang salah. Terlepas dari semua kesalahan Gama, Mama adalah satu-satunya keluarga Nessa, jadi Gama mau memohon restu untuk meminangnya."


"Kamu bener-bener nggak ada otak ya? Berani sekali meminta restu untuk pernikahan kalian!"


There menyeret Nessa keluar dengan brutal. Gama langsung menahanya dengan tidak rela.


"Apa-apaan sih! Kasar banget jadi perempuan!"


"Kenapa? Aku bisa lebih sadis dan kasar dari pada ini Mas, kamu yang udah buat aku begini!" tantang There membara.


"Pelakor dan pengkhianat tidak pantas bahagia, menjijikkan!" geram There mendorong kasar Nessa hingga terpental pada kap depan mobil.


"Nessa!"


"Gila kamu! Perempuan tidak waras!" maki Gama sembari berlari menolong pujaan hatinya.


"Sshhtt ... perut aku, sakiiittt Mas!" keluh perempuan itu menyangga dengan kedua tangannya.

__ADS_1


Gama terperangah mendapati darah mengalir dari pahanya.


__ADS_2