Main Hati With Iparku

Main Hati With Iparku
Part 24


__ADS_3

Tanpa bisa dicegah, bibir mereka bertemu saling menyapa beradu dalam hisapan yang sarat akan kerinduan. Nessa yang sejatinya resah pun, melebur dalam balutan syahdu. Menerima dengan begitu terbuka hingga memberikan akses pria itu masuk terlalu dalam. Keduanya terbuai saling memejam, sesaat mereka benar-benar lupa dengan status keduanya.


Pria itu baru melepaskan pagutan itu setelah gadisnya tersengal kehabisan napas. Cukup beberapa detik saja, karena Gama kembali melancarkan serangan kedua. Dengan cecapan lembut, lebih dalam dan menuntut hingga keduanya tergelincir semakin sesat.


******* dan bunyi kecupan yang saling bersahut menandakan keduanya terbakar dalam api gairah yang semakin menggebu. Pria itu meninggalkan jejak hasratnya di sepanjang leher jenjangnya. Ia baru tersadar saat Nessa sedikit mendorong dan memberi jarak.


"Kenapa sayang? Maaf, apa itu menyakitimu, aku terlalu bersemangat," ucapnya tanpa dosa.


"Cukup Kak, ini akan membekas, kamu nakal," ujar gadis itu menahan malu.


"Sorry, apa kamu menyesal." Kak Gama menatapnya lekat.


Nessa menggeleng sebagai jawaban, hingga pria itu tersenyum penuh arti sembari membenahi rambut gadis itu yang cukup berantakan karena ulahnya.


"Bisakah kita kembali? Bukankah kita harus ngantor ya?" ujar Nessa memperingatkan.


"Kamu buru-buru sekali, aku masih ingin menikmati. Sebentar lagi, siang kita kembali. Sebagai gantinya kamu bisa lembur bareng aku," ujar pria itu mengerling.


"Ih ... kok lembur, kan Kakak yang ngajakin absen, nggak mau."


"Kamu berani gitu bantah perintah atasan? Jangan nakal lagi, aku bisa kasih lebih dari ini."


"Hmm, kamu kakak ipar yang posesif. Jangan berlebihan, aku masih perempuan bebas."


"Tidak untuk sekarang, aku akan marah saat kamu dekat dengan pria lain."


"Hmm, terserah saja lah, yang penting ayo balik."


"Bentar sayang, kamu tidak ingin mengabadikan momen romantis ini apa?"


"Aku terlalu takut mengabadikan momen apa pun tentang kita, biarlah aku simpan dalam memori otakku saja," ujarnya datar.


Karena sudah terlanjur keluar, mereka benar-benar menghabiskan waktu berdua hingga menjelang sore. Baru Nessa pulang sementara Gama balik ke kantor. Ia sudah melimpahkan pekerjaannya hari itu pada Bayu. Tinggal mengkaji ulang setiap laporan yang diberikan.


"Pak, tadi Bu There ke sini?" lapor Bayu pada atasanya.


"Owh ya, kamu bilang apa?" tanya Gama santai.


"Bu There cari Bapak terus saya bilang sesuai amanat yang telah Bapak beri," ujarnya sesuai perintah.


"Apa dia tanya sesuatu lagi?" tanya pria itu seraya membuka map di tangannya.


"Nggak sih, tapi Ibu tanya kenapa saya nggak ikut, jawabannya karena Bapak butuh sendiri," ujar pria itu tenang.

__ADS_1


"Oke, makasih Bay, kamu bekerja dengan baik. Eh ya, tolong pesankan aku vanila sweet cream, ya? Sekarang!" titahnya.


"Siap Pak!" jawab Bayu bergegas.


Sementara Nessa sendiri karena masih cukup awal untuk pulang kantor, gadis itu memutuskan untuk ketemu dengan Bima. Ia sepertinya perlu pendapat orang untuk meluruskan hatinya saat ini. Nessa menghubungi Bima sore itu, seperti biasa pria itu selalu siap sedia dan langsung menjemputnya.


"Tumben jam segini udah balik, absen ya?" tanya Bima penuh selidik.


"Kamu suka bener kalau ngomong, jalan cepetan!"


"Ke mana? Nongkrong atau pulang?" ujar pria itu memberi pilihan.


"Enaknya ke mana? Aku butuh curhat."


"Galau lagi? Apartemen aku aja ya? Cewekku ngamukan nanti lihat aku jalan sama kamu. Takut kamu nggak selamat sampai rumah gegara ditodong mantan-mantan aku," ujarnya mendrama.


"Dih ... serem amad, oke deh, ke apartemen aja lebih aman. Stok banyak?" tanya gadis itu seperti biasa malak.


"Aman, kulkas penuh. Air es tapi. Hahaha!"


"Nggak jelas, beli dulu lah, borong yang banyak, nanti gantian nunggu gue gajian."


"Awas ya kalau nggak, gue tagih sampai akhirat."


Mereka menyempatkan belanja makanan dan cemilan sebentar untuk menemani obrolan mereka yang sepertinya akan panjang. Baru pulang ke apartemen Bima.


"Tumben rapih, apa kamu sudah insyaf?" tanya Nessa meneliti ruangan pria itu yang terlihat bersih, rapi, dan wangi.


"Jangan-jangan pacarmu mau datang sengaja mrnata ini? Oeh ya ampun ... kamu menyiapkan dengan baik ternyata."


"Ngomong apa sih, aku lebih suka main di hotel lah dari pada di rumah. Mereka tidak ada yang aku bawa ke ranjangku."


"Astaga! Kamu terlalu blak-blakan!" Stress!"


"Kenapa? Cemburu?" cibir Bima.


"Eh, kepedean sekali Anda, Pak! Sebaiknya berhenti mempermainkan mereka, seriuslah pada satu perempuan kasihan."


"Merekanya mau, suatu saat pasti akan aku perjuangkan wanita yang tepat untukku."


"Lagian hari gini perempuan juga sama, mereka tidak ori, nggak ada perawan, jadi aku tidak harus merasa bersalah."


"Eh, siapa bilang, aku masih perawan."

__ADS_1


"Serius? Kalau lagi pengen gimana?"


"Kamu mau mati!" Nessa mendelik mendengar pertanyaan sahabatnya.


"Jadi ... apa yang sedang ingin kamu katakan?"


"Aku udah jadian sama—"


"Alhamdulillah ... akhirnya kamu milih Rasyid juga, ikut senang dengarnya."


"Bukan, belum selesai ngomong Bambang!"


"Lah, terus?"


"Kak Gama," jawab Nessa lirih.


"kamu gila!" sentak Bima sambil menjentikkan jarinya ke jidat Nessa.


"Auww ... sakit, bego!"


"Biarin! Biar otak lo bener, beneran udah eror, lo yang nembak apa Gamelan itu?" tanyanya sewot.


"Ya kita saling ngungkapin perasaan kita aja, tapi jujur aku tak tenang. Aku harus gimana ya?"


"Pakai nanya lagi, ya akhiri lah ... sadar Ness, suami orang, kakak kamu sendiri, itu bakalan jadi boomerang."


"Aku cinta, tapi kamu bener! Aku bingung, haruskah aku pergi dari rumah saja, karena melupakannya begitu sulit bila masih berseliweran di depan mata."


"Kamu cari alasan apa lah, nanti bisa cari kost. Kalau nggak mampu biar aku yang bayarin."


"Aku nggak mau ngerepotin kamu terus, tapi aku bingung."


"Kamu mau tinggal di sini? Nanti aku bisa pulang ke rumah," ujar Bima penuh solusi.


"Aku pikir-pikir dulu ya, Bim. Kalau besok aku hubungi, kamu ada kan?"


"Oke," jawabnya cepat.


Setelah sedikit mengobrol dan mengeluarkan risalah hatinya yang gundah gulana, Nessa memutuskan untuk pulang. Perempuan itu menolak diantar Bima dan lebih memilih taksi saja. Sadar dan takut juga Kak Gama melihat dan akan membuat hidupnya lebih sulit.


Sesampainya di rumah, perempuan itu dikagetkan dengan mama yang masih termenung sendirian.


"Lho Mama, kok Mama sendirian di ruang makan? Mama kenapa ngelamun Ma? Mama sedih?" tanya Nessa menghampiri wanita paruh baya yang telah berjasa merawatnya.

__ADS_1


"Mama sedih aja lihat There marah-marah sama Gama, kalaupun ada masalah seharusnya There bisa mengontrol emosinya baik-baik. Gama nggak ngomong banyak, tapi dia terlihat begitu emosi," jelasnya yang membuat Nessa terdiam.


__ADS_2