
"Kak, kita pulang aja ya, nontonnya lain waktu," ujar Nessa mendadak galau.
"Kenapa? Kamu ingin pulang sekarang? Belum terlalu malam," kata pria itu merasa belum puas mengakhiri malam ini.
"Mmm ... aku ingat mama sendirian, kasihan."
"Kan ada Mbok Ijah, kita jalan dulu lah. Kamu kenapa sih pingin cepet-cepet pulang?" tanya Gama tak setuju.
"Nonton di rumah aja gimana? Kaya waktu itu," usul Nessa pada akhirnya.
"Oke deh kalau itu mau kamu," ujar pria itu mengalah.
Waktu masih setengah sembilan saat mereka pulang. Masih belum malam untuk mereka yang biasanya begadang, atau tidur di akhir waktu.
"Ness, ada yang pingin aku tanyakan padamu?" tanya pria itu serius.
"Iya Kak, kenapa?"
"Sejak kapan kamu menyukaiku?"
"Sejak—" Belum sempat membalas vibrasi handphone pria itu berbunyi. Mengalihkan atensi keduanya.
Gama hanya menatapnya sekilas, lalu kembali fokus pada gadis di sampingnya. Mengabaikan panggilan itu.
"Kak, telepon. Angkat dulu siapa tahu penting," ujar Nessa mengalihkan pertanyaan itu.
"There, nanti aja di rumah aku telepon balik," ujar Kak Gama santai.
Ada benarnya juga, mereka tengah di mobil berdua mungkin kak Gama kurang nyaman jika menerima telepon ada dirinya.
"Beneran pulang, nih? Nggak mau ke mana dulu gitu."
"Pulang Kak," ujar Nessa yakin.
Mobil melaju dengan kecepatan sedang, keduanya sama-sama diam menikmati perjalanan.
"Ness, kenapa diem? Kamu nyesel ya jalan sama aku?" tanya Kak Gama mendadak mellow. Tangan kirinya terulur meraih tangan Nessa. Menggenggamnya dengan lembut.
"Nggak tahu Kak, aku hanya merasa—" Gadis itu terdiam.
Gama melirik sekilas, menemukan kegalauan di matanya. Pria itu sampai menepikan mobilnya sejenak.
"Kenapa berhenti? Jangan berhenti sembarangan, nanti bisa kena tilang!" kata Nessa memperingatkan.
__ADS_1
"Pada kenyataannya kamu yang udah nilang hati aku. Please ... jangan merasa bersalah begini, aku tidak suka melihat wajahmu bersedih. Aku mencintaimu, Nessa!" ucap Gama menatapnya dalam.
Bagai mimpi untuk dirinya, pria itu begitu gamblang mendeklarasikan perasaannya.
"Aku juga mencintaimu, Kak. Tapi kita tidak boleh begini, bagaimana dengan Mbak There?"
Kak Gama terdiam, tanpa menjawab pun Nessa sudah tahu kalau Mbak There tetap akan memenuhi hatinya. Nessa sadar, dirinya tidak mungkin bersaing, apalagi berkeinginan lebih untuk memiliki.
"Terima kasih kakak sudah mau jujur juga mencintaiku, tapi aku ingin mengakhiri semuanya," ujar Nessa lirih.
"Kamu yakin? Bahkan kita baru saja memulai, apakah kamu setega itu pada hatimu yang begitu bahagia?"
"Kakak salah, aku sudah terbiasa dengan ini. Walau selama ini aku tersiksa dengan perasaanku sendiri, tapi aku cukup tahu diri, Kak Gama hanya mencintai Mbak There."
"Siapa bilang,kalau pada kenyataannya aku juga menginginkan kamu, bagaimana?"
"Ini gila, dan kita harus segera mengakhirinya."
"Tidak semudah itu, Ness! Apakah kamu pernah berpikir kenapa aku bisa melangkah sejauh ini? Aku sudah siap dengan semua resiko di depan yang akan kutemui. Aku berharap kamu pun begitu."
"Aku tidak seberani itu," kata Nessa ragu.
"Akan aku buat kamu lebih dari berani. Kamu sudah berani mengusik hatiku yang lama redup, maka jangan coba-coba untuk menghentikan sendiri."
Kedua netra itu bertemu, tatapan yang begitu berbeda dari seorang kakak ke adik iparnya. Dua sejoli tanpa ikatan itu mengunci dalam diam, menatap lekat tanpa ada yang minat untuk mengakhiri.
Mereka sadar ini gila, tetapi untuk mengakhirinya pun seakan keduanya tidak rela. Gama akui, separuh dari hatinya telah Nessa miliki. Egois, iya, pria itu memang seegois itu. Ingin menggenggam Nessa, tanpa tahu cara mendekap There. Semua berkongsi dalam dirinya. Biarlah malam ini menjadi cerita mereka berdua. Kalaupun cinta harus memilih, ia akan lebih memilih yang selalu ada dan merasa dicintai.
Bukan mencari pembelaan saat merasa bosan. Bukan pula membenarkan cinta terlarang. Seonggok daging berupa hati yang tengah mendeklarasikan perasaannya agar tetap bahagia dengan versinya. Seandainya semua porsi pada dirinya bisa diminta sesuai keinginannya, tentu ia tidak akan memilih jalan yang salah. Kendati demikian, mereka telah memulai dan entah berawal dari sudut mana percikan membara malam ini begitu terasa.
Keduanya saling memberi jarak dengan napas memburu. Nessa membuang muka malu, Gama sadar akan hal itu. Pria itu malah mendekati kembali lalu mencium tengkuknya yang terasa kaku.
"Makasih, booster buat aku malam ini," bisik pria itu sukses membuatnya mati kutu.
Entah itu sesuatu yang harus disesali atau tidak, yang jelas keduanya menikmati petualangan lucknut itu.
"Jalan Kak, jangan menggodaku terus," ujar Nessa bersemu.
"Jalan ke mana, tujuan aku hanya kamu," selorohnya puitis.
"Gombal terus, nggak tahu apa aku deg degan," ucapnya jujur.
Ternyata mencintai suami orang itu bukan hanya tantangan, tapi bikin spot jantung beneran.
__ADS_1
"Ness, kita nikah yuk!" ajak pria itu bagai petir di gelap malam.
"Hah! Jangan gila kamu, Kak, aku masih tahu diri," ujar Nessa tak habis pikir.
"Aku beneran udah gila, apalagi kalau di dekat kamu kaya gini tidak bisa meminta lebih."
"Jangan aneh-aneh deh, jalan mobilnya, Kak!" seru Nessa gugup sendiri.
"Ness, aku serius?"
"Kak, please ... jangan lakuin apa pun lebih dari ini. Aku merasa sangat berdosa."
"Tapi aku mencintaimu, Ness! Aku begitu bahagia dan terus dilanda penasaran saat kamu mabuk waktu itu."
"Aku pikir kak Gama hanya butuh istirahat menenangkan pikiran. Kaka pasti capek!"
"Jangan mengalihkan pembicaraan, aku serius," ucap kak Gama menatapnya semakin dalam.
Nessa terdiam tanpa kata, sulit sekali mengiyakan hal krusial ini. Bagaimana mungkin kakak iparnya seberani ini.
"Tidak usah dijawab sekarang nggak pa-pa, tapi aku serius?"
"Kakak sadar dengan apa yang kakak omongin barusan. Nikah?" tanya Nessa memperjelas.
"Iya, kenapa? Kita boleh kan? Aku tahu status kamu di keluarga ini, tidak ada hubungan darah apa pun dengan There, jadi boleh dong."
Ya ampun ... tidak semudah itu ferguso! Kenapa jadi seserius dan serumit ini.
"Tidak perlu menunggu besok, atau lusa, kalau kakak mau mendengar jawaban aku, tentu saja aku tidak mau," jawab Nessa dengan memejamkan matanya.
"Kamu terlalu terburu-buru mengambil keputusan, aku akan menunggu," ujarnya kalem. Tersenyum lembut sembari mengacak puncak kepalanya santai.
"Aku tunggu jawaban yang membuat aku bahagia, hanya itu," ucapnya tanpa mengalihkan tatapan itu.
.
Bersambung
.
Hallo all ... sahabat Asri Faris di mana pun kalian berada.
Sedikit pengumuman penting buat kalian yang masih stay sampai part ini. Terima kasih sudah mengikuti. Cerita ini sedang mengikuti event rumah tangga jadi isi cerita disesuaikan dengan tema dan singkron dengan judul. Jadi mohon dukungannya bagi yang berkenan untuk menikmati jalannya cerita.
__ADS_1
Akan ada banyak hal yang author sampaikan dalam tulisan ini, dan dijamin beda dari yang lainnya. Tetap stay sampai akhir biar kalian dapat pesan moralnya.
Stay di sini sampai tamat nanti😍😍😍